Gandeng Konjen AS, ITS Siapkan Hadapi Revolusi Industri 4.0

SURABAYA (Suarapubliknews.net) – Direktorat Hubungan Internasional Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) bantu siapkan mahasiswa memasuki revolusi industri tingkat keempat (4.0) melalui Facing Industrial Revolution 4.0 Engineers (FIRE).

Direktur Hubungan Internasional ITS, Dr Maria Anityasari ST ME, menjelaskan bahwa teknologi saat ini sudah semakin canggih. Semua kegiatan terhubung dengan internet atau yang dikenal dengan Internet of Things (IoT). Manusia tidak lagi susah dalam menyelesaikan pekerjaannya, termasuk di dunia industry. Era inilah yang saat ini dikenal dengan revolusi industri 4.0.

“Dengan kemajuan yang pesat ini, peran manusia sebagai sumber daya utama akan tergantikan dengan teknologi robot yang ada. Karenanya, dibutuhkan keluaran sumber daya manusia yang lebih mumpuni dari sebuah instansi pendidikan untuk mencetak tenaga kerja maupun profesional di era Revolusi Industri 4.0 ini,” katanya.

FIRE merupakan bentuk tanggapan atas program yang diusung Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, Making Indonesia 4.0. Bekerja sama dengan Konsulat Jenderal (Konjen) Amerika Serikat (AS) di Surabaya, FIRE dapat menjadi tempat mengenal revolusi industri 4.0 secara tuntas. One Meeting, completely enough.

Maria memaparkan, FIRE ini memberi bekal kepada peserta berupa pengetahuan 3D Printing, di mana topik ini merupakan cabang dan kompetensi wajib dari revolusi industri 4.0. “FIRE ini tidak hanya diperuntukkan bagi mahasiswa ITS, melainkan juga untuk anak muda yang ada di Surabaya,” lanjutnya.

Konsul Jenderal AS di Surabaya Mark McGovern. Dalam kesempatan ini mengatakan, teknologi negara berkembang dan maju akan tidak jauh berbeda apabila keduanya memiliki kemampuan untuk saling membantu dalam mengembangkan teknologi. “Saya harap ada transfer ilmu selama acara ini berlangsung,” harapnya.

Mendukung pendapat Mark, Rektor ITS Prof Ir Joni Hermana M ScES PhD menambahkan, dari tingkat produktivitas anak muda saat ini, Indonesia berada di peringkat keempat dunia. Artinya, inovasi perihal teknologi yang diciptakan anak bangsa sudah cukup banyak dan tidak kalah dengan negara yang memang sudah dikatakan maju peradabannya.

Ia kemudian menanggapi asumsi yang beredar di masyarakat Indonesia perihal Revolusi Industri 4.0 ini. “Karena dengan adanya robot katanya posisi manusia akan digantikan dan banyak pengangguran, pendapat itu milik orang pesimis. Dengan hilangnya beberapa pekerjaan, tentu akan ada pekerjaan baru,” ujar Joni.

Joni menilai, pembekalan perihal Revolusi Industri 4.0 ini cukup penting, utamanya bagi anak muda yang masih harus bersaing di dunia kerja. “Optimis saja! Jangan takut! Ada hal yang tidak akan tergerus, yaitu inovasi dan kreativitas,” tandasnya. (q cox, tama Dinie)

Reply