PemerintahanPeristiwa

Kementan Gandeng ITS Kembangkan Teknologi Pertanian dan Energi, Dorong Kemandirian Nasional

66
×

Kementan Gandeng ITS Kembangkan Teknologi Pertanian dan Energi, Dorong Kemandirian Nasional

Sebarkan artikel ini

SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Kementerian Pertanian (Kementan) memperkuat kolaborasi dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dalam pengembangan teknologi pertanian dan energi sebagai bagian dari upaya mendorong kemandirian pangan nasional.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam menghadirkan inovasi, khususnya di tengah tantangan global seperti krisis pangan, energi, dan air.

Dalam kerja sama ini, Kementan dan ITS sepakat mempercepat hilirisasi berbagai inovasi alat dan mesin pertanian (alsintan), agar dapat langsung dimanfaatkan oleh masyarakat.
Sejumlah inovasi yang dikembangkan ITS antara lain:
• bahan bakar nabati berbasis sawit (bio-gasoline Benwit)
• perahu traktor listrik untuk lahan rawa
• alat panjat kelapa (MOCITS)

Amran menilai inovasi tersebut sebagai solusi nyata untuk mengurangi ketergantungan terhadap teknologi impor.

Salah satu inovasi yang menjadi perhatian adalah pengembangan bio-gasoline berbasis sawit atau Benwit, yang mampu mencapai campuran hingga 70 persen tanpa perubahan signifikan pada mesin kendaraan.

Teknologi ini dinilai berpotensi mendukung target pemerintah dalam mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil impor. “Jika ini dikawal terus, kemandirian energi bukan lagi sekadar angan,” ujarnya.

Selain energi, pengembangan alat panjat kelapa dan mesin pertanian modern juga menjadi bagian dari transformasi menuju pertanian yang lebih efisien dan aman. Teknologi tersebut diharapkan dapat menggantikan metode manual yang selama ini memiliki risiko tinggi bagi petani.

Sebagai tindak lanjut, ITS juga menjalin kerja sama dengan PT Perkebunan Nusantara IV (PTPN IV) untuk mendukung pengembangan dan distribusi hasil inovasi. Kolaborasi ini diharapkan dapat mempercepat proses komersialisasi teknologi agar dapat digunakan secara luas oleh masyarakat.

Amran menilai hilirisasi komoditas kelapa dan sawit memiliki potensi ekonomi yang sangat besar, bahkan dapat mencapai ribuan triliun rupiah jika dikelola secara optimal dari hulu hingga hilir. Hal ini mencakup berbagai produk turunan seperti minyak, susu kelapa, hingga bahan bakar nabati.

Rektor ITS, Bambang Pramujati, menegaskan komitmen kampus dalam menghadirkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan industri dan negara. “Kolaborasi dengan pemerintah dan industri menjadi kunci agar hasil riset tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat diimplementasikan secara nyata,” katanya.

Melalui sinergi ini, Kementan dan ITS menargetkan percepatan transformasi sektor pertanian menuju sistem yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan. Kolaborasi ini juga sejalan dengan target pembangunan berkelanjutan, khususnya dalam bidang pendidikan, energi bersih, dan kemitraan. (feb, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *