SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Sejak diperkenalkan sebagai proyek berbasis teknologi digital untuk menghidupkan kembali epos Panji, MetaPanji kini memasuki tahap pengembangan baru. Tidak lagi sekadar mengusung konsep metaverse, proyek yang digagas budayawan sekaligus pendiri D’Topeng Kingdom Foundation Reno Halsamer itu berkembang menjadi sebuah ekosistem industri kreatif yang mencakup novel, manga, animasi, gim hingga kolaborasi dengan perguruan tinggi.
Transformasi tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam webinar “Relevansi dan Aktualisasi Budaya Panji” yang menghadirkan budayawan, akademisi, dan praktisi kreatif. Diskusi dipandu Henri Nurcahyo, yang menyoroti pentingnya menghadirkan kembali cerita Panji dalam medium yang mampu menjangkau generasi muda.
Menurut Reno, selama ini Panji dikenal sebagai salah satu warisan budaya terbesar Nusantara, tetapi belum memperoleh tempat di tengah budaya populer yang didominasi karya-karya dari luar negeri.
“Panji itu sudah memiliki potensi yang luar biasa. Ibarat sebuah berlian, tinggal bagaimana kita mengasahnya agar tampil dengan wajah yang lebih kekinian tanpa kehilangan nilai budayanya,” ujarnya.
Ia menilai generasi muda saat ini lebih akrab dengan karakter dalam manga, anime, maupun gim dibandingkan naskah klasik. Karena itu, MetaPanji tidak dibangun sebagai upaya mengganti cerita Panji, melainkan menghadirkan interpretasi baru yang lebih dekat dengan pola konsumsi budaya masyarakat modern.
Langkah tersebut diwujudkan melalui novel The Last Guardian of Java yang menjadi fondasi lahirnya semesta MetaPanji. Berbeda dengan kisah Panji yang selama ini dikenal dalam berbagai versi, novel tersebut menggunakan pendekatan historical fantasy dengan tetap menjadikan legenda Panji sebagai pijakan utama.
Dalam semesta tersebut, Panji digambarkan sebagai cucu Airlangga yang harus menghadapi kekuatan kegelapan kuno bernama Azazil. Sementara Sekartaji ditempatkan sebagai tokoh sentral yang tidak hanya menjadi pasangan Panji, tetapi juga sosok perempuan yang rela berkorban demi menyelamatkan tanah Jawa.
Reno menjelaskan pendekatan fantasi dipilih bukan untuk mengubah warisan budaya, melainkan menjadi pintu masuk agar generasi muda tertarik mengenal kembali legenda Panji yang telah berkembang di berbagai wilayah Nusantara dan Asia Tenggara.
Menurutnya, MetaPanji sejak awal tidak dirancang berhenti sebagai sebuah novel. Proyek tersebut dipersiapkan menjadi intellectual property (IP) yang dapat berkembang ke berbagai medium, mulai manga, film animasi, gim, hingga museum tematik.
Salah satu target yang sedang dipersiapkan ialah membawa MetaPanji ke Jepang melalui adaptasi manga. Reno juga membuka ruang kolaborasi bagi ilustrator muda Indonesia agar pengembangan visual dilakukan oleh talenta dalam negeri.
Editor novel The Last Guardian of Java, Sinawang Tri, mengatakan proses penyuntingan dilakukan dengan pendekatan yang berbeda dari novel sejarah pada umumnya.
“Sejarah yang dijadikan narasi itu adalah pemantik kita untuk menyukai sejarah. Kita membuat orang lain mencintai sejarah itu dengan cerita terlebih dahulu,” katanya.
Menurut Sinawang, alur cerita sengaja disusun menyerupai ritme film dan gim sehingga mampu menghadirkan pengalaman membaca yang lebih dinamis sekaligus membangun kedekatan emosional pembaca terhadap budaya Panji.
Selain pengembangan karya, MetaPanji juga diarahkan menjadi ruang kolaborasi lintas disiplin. Reno mengungkapkan rencana menggandeng Universitas Airlangga, UIN Malang, Universitas Ciputra, Universitas Kristen Petra, hingga sekolah kejuruan untuk melibatkan mahasiswa dalam pengembangan ilustrasi, animasi, desain karakter, 3D modelling, dan berbagai produk kreatif lainnya.
Moderator webinar, Henri Nurcahyo, menilai pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak harus berhenti pada dokumentasi sejarah, tetapi dapat berkembang menjadi ruang kreativitas yang mampu melibatkan generasi muda.
Pandangan serupa disampaikan Prof. Abdul Malik yang melihat MetaPanji sebagai langkah inovatif untuk menghadirkan kembali tokoh lokal dalam bahasa yang lebih mudah dipahami masyarakat masa kini.
Sementara akademisi Universitas Airlangga Puji Karyanto mengibaratkan MetaPanji sebagai bentuk carangan, yakni interpretasi baru yang tetap berpijak pada semangat cerita Panji. Menurutnya, pendekatan seperti itu merupakan bagian dari dinamika kebudayaan agar warisan lama tetap hidup dan relevan.
Hal senada disampaikan Prof. Misbahul Amri. Ia menilai novel memiliki ruang kreatif yang berbeda dengan karya sejarah. Jika sejarah menuntut ketepatan data, novel justru memiliki kemampuan membangun emosi sehingga mampu mengantarkan pembaca untuk kemudian mengenal sejarah secara lebih mendalam.
Di sisi lain, sejarawan Jeremias mengingatkan bahwa pengembangan cerita tetap perlu memperhatikan sumber-sumber sejarah yang menjadi latar lahirnya legenda Panji. Menurutnya, kekuatan utama Panji justru terletak pada kemampuannya menjadi bagian dari identitas budaya yang berkembang di berbagai wilayah Asia Tenggara.
Bagi Reno, keberhasilan MetaPanji bukan semata diukur dari terbitnya sebuah novel ataupun hadirnya manga dan gim. Yang lebih penting adalah menghadirkan kembali Panji ke ruang budaya populer sehingga generasi muda memiliki kesempatan mengenal salah satu warisan budaya Nusantara melalui medium yang akrab dengan kehidupan mereka saat ini. (feb, tama dini)












