Uncategorized

Profesor ITS Gagas Sistem Kendaraan Otonom untuk Perkuat Kedaulatan Maritim dan Udara Indonesia

52
×

Profesor ITS Gagas Sistem Kendaraan Otonom untuk Perkuat Kedaulatan Maritim dan Udara Indonesia

Sebarkan artikel ini

SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Guru Besar ke-256 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof. Dr. Ir. Ari Santoso DEA, menggagas pengembangan sistem kendaraan otonom maritim dan udara sebagai solusi untuk memperkuat konektivitas sekaligus menjaga kedaulatan wilayah Indonesia sebagai negara kepulauan. Teknologi tersebut diharapkan mampu menjawab berbagai tantangan di sektor maritim dan penerbangan, mulai dari keselamatan, komunikasi, hingga distribusi antarpulau.

Prof. Ari menjelaskan kondisi geografis Indonesia yang terdiri atas ribuan pulau membutuhkan sistem transportasi dan pemantauan yang mampu bekerja secara terintegrasi. Menurutnya, tantangan tersebut mencakup keselamatan pelayaran, inspeksi kabel bawah laut, pemantauan sumber daya kelautan, hingga mitigasi bencana.

Sebagai solusi, ia mengembangkan tiga pilar kendaraan otonom yang mencakup wilayah bawah laut, permukaan laut, dan udara, yakni Autonomous Underwater Vehicle (AUV), Unmanned Surface Vehicle (USV), serta Unmanned Aerial Vehicle (UAV). “Ketiganya merupakan integrasi dari berbagai disiplin ilmu, antara lain mekanika, hidrodinamika, aerodinamika, elektronika, sensor, dan kecerdasan buatan,” ujarnya.

Menurut dosen Departemen Teknik Elektro ITS tersebut, sistem kendaraan otonom yang dikembangkan bekerja menggunakan konsep closed-loop system yang terdiri atas enam komponen utama, yaitu measurement, perception, guidance, control, actuator, dan environment. Seluruh komponen tersebut saling terhubung untuk menghasilkan keputusan dan pergerakan kendaraan secara adaptif, aman, serta optimal.

Prof. Ari menjelaskan setiap komponen memiliki fungsi berbeda. Measurement bertugas membaca data sensor, perception memahami kondisi lingkungan, guidance menentukan arah dan lintasan, sementara control menjaga kestabilan sistem. Selanjutnya, actuator menjalankan perintah fisik, sedangkan environment menjadi faktor eksternal yang harus diantisipasi selama kendaraan beroperasi.

Teknologi tersebut dirancang untuk menjalankan fungsi yang berbeda sesuai karakteristik wilayah operasinya. AUV dikembangkan untuk melakukan inspeksi bawah laut, seperti pemeriksaan kabel listrik, jaringan pipa, maupun terumbu karang. Sementara itu, USV berfungsi sebagai wahana pemantauan dan komunikasi di permukaan laut, sedangkan UAV dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan pengamatan dari udara.

Melalui integrasi ketiga sistem tersebut, Prof. Ari meyakini teknologi kendaraan otonom dapat menjadi salah satu instrumen strategis dalam memperkuat kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), khususnya di wilayah kepulauan. “Laut Indonesia bukan hanya batas wilayah, melainkan ruang ekonomi, energi, data, inovasi, sejarah, dan kedaulatan,” tegasnya.

Gagasan tersebut sekaligus mendukung komitmen ITS terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur serta tujuan ke-14 mengenai Ekosistem Laut melalui pengembangan teknologi yang mendukung pengelolaan wilayah maritim secara berkelanjutan. (feb, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *