Jatim RayaPemerintahan

Program PEGAS di Jember Perbaiki Status Gizi 90,12 Persen Balita Stunting

374
×

Program PEGAS di Jember Perbaiki Status Gizi 90,12 Persen Balita Stunting

Sebarkan artikel ini

JEMBER (Suarapubliknews) ~ Kabupaten Jember mencatat capaian positif dalam upaya percepatan penurunan stunting melalui Program Pemantauan Gizi Anak Stunting (PEGAS). Program yang berlangsung selama tiga bulan ini berhasil memperbaiki status gizi 90,12 persen balita peserta.

Dari total 81 balita stunting yang mengikuti program, sebanyak 74,07 persen mengalami peningkatan status gizi secara signifikan, sementara angka stunting berhasil ditekan hingga 16,05 persen. Adapun sekitar 9,9 persen balita masih memerlukan pendampingan lanjutan untuk mencapai kondisi gizi optimal.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jember, Rachman Hidayat, S.Sos, menyampaikan apresiasi atas capaian program tersebut. Ia menilai kolaborasi lintas sektor, termasuk keterlibatan tenaga kesehatan dan sektor swasta, berperan penting dalam keberhasilan PEGAS. “Intervensi gizi yang tepat sasaran, terpantau, dan berkelanjutan terbukti mampu memberikan dampak nyata terhadap perbaikan status gizi anak,” ujarnya saat penutupan program.

Program PEGAS mulai dilaksanakan pada Agustus 2025 dengan melibatkan 18 Puskesmas di Kabupaten Jember. Sasaran program adalah balita usia 0–57 bulan yang mengalami stunting tanpa kelainan bawaan maupun infeksi kronis, dan telah melalui proses skrining medis di Puskesmas.

Intervensi utama program ini berupa pemberian Pangan untuk Keperluan Medis Khusus (PKMK) secara gratis, disertai pemantauan dua mingguan serta pendampingan klinis oleh tim Dokter Spesialis Anak (DSA). Pendampingan dilakukan oleh tiga DSA lintas rumah sakit daerah, yakni dr. Nurul Ima Suciwiyati, Sp.A, dr. Natalia Kristianti Nugraheni, Sp.A, dan dr. Mega Nur Purbo, Sp.A.

PKMK yang digunakan telah memenuhi standar PerBPOM No. 24 Tahun 2020 dan memiliki spesifikasi nutrisi yang disesuaikan untuk kebutuhan anak dengan malnutrisi. Efektivitas intervensi diperkuat melalui pemantauan rutin serta konsultasi berbasis telemedicine, yang memungkinkan tenaga kesehatan Puskesmas berdiskusi langsung dengan dokter spesialis.

Menurut dr. Nurul Ima Suciwiyati, Sp.A, stunting merupakan persoalan multidimensional yang memerlukan pendekatan komprehensif. “Deteksi dini sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan menjadi kunci utama pencegahan dan penanganan stunting,” ujarnya.

Selain aspek gizi, Program PEGAS juga menekankan penguatan pola asuh, edukasi pola makan keluarga, penerapan gaya hidup sehat, serta pencegahan faktor risiko sosial seperti pernikahan dini. Untuk meningkatkan kepatuhan konsumsi, PKMK disajikan dalam berbagai bentuk olahan yang lebih mudah diterima anak.

Keberhasilan Program PEGAS dinilai sejalan dengan kebijakan nasional RPJMN 2025–2029 yang menempatkan penurunan stunting sebagai prioritas pembangunan. Capaian ini juga menjadi momentum reflektif menjelang peringatan Hari Gizi Nasional pada 25 Januari, sekaligus menunjukkan bahwa upaya penanganan stunting dapat dilakukan secara nyata dan terukur di tingkat daerah. (q cox, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *