Nasional

Tiga Film Pendek Playvul NYRA Bawa Isu Sosial Indonesia ke Festival Film Dunia

255
×

Tiga Film Pendek Playvul NYRA Bawa Isu Sosial Indonesia ke Festival Film Dunia

Sebarkan artikel ini

JAKARTA (Suarapubliknews) ~ Film pendek menjadi medium bagi rumah produksi Playvul NYRA untuk membawa sejumlah isu sosial yang tidak selalu mudah dibicarakan ke ruang publik. Melalui More Pain, More Gain, Ambang Batas, dan Salam Dahsyat Fantastis Luar Biasa, rumah produksi yang berdiri sejak 2024 itu mengeksplorasi isu toxic masculinity, dinamika kultus modern, hingga kekerasan seksual terhadap perempuan.

Ketiga film tersebut juga telah menempuh perjalanan di berbagai festival film internasional, termasuk Fantasia International Film Festival, Tampere Film Festival, Balinale, Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF), hingga Short Shorts Film Festival & Asia di Tokyo.

Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa film pendek tidak hanya menjadi ruang eksperimentasi kreatif, tetapi juga dapat menjadi medium untuk membawa cerita dan kegelisahan sosial dari Indonesia ke penonton yang lebih luas.

Co-Director Playvul NYRA Nadina Habsjah mengatakan format film pendek memberikan ruang bagi pihaknya untuk menyampaikan keresahan secara lebih fokus dan dekat dengan penonton. “Medium ini memungkinkan kami menyampaikan keresahan secara lebih fokus dan dekat dengan penonton,” ujarnya.

Sementara Co-Director Yusgunawan Marto mengatakan setiap karya Playvul NYRA berangkat dari persoalan yang dianggap nyata, kemudian diterjemahkan menjadi cerita yang tidak menawarkan jawaban secara hitam-putih. “Kami percaya film pendek memiliki kebebasan untuk mengeksplorasi ide-ide yang belum memiliki ruang di medium lain,” katanya.

Salah satu film yang mendapat perhatian dalam perjalanan festival tersebut adalah More Pain, More Gain. Film ini meraih penghargaan Winner Short Film Competition di Stockholm International Fantastic Film Festival dan Monsters of Film 2024. Film tersebut juga menjadi Official Selection di Fantasia International Film Festival 2025, Fantaspoa 2025, serta Lift-Off Global Network Berlin 2025.

Sementara Ambang Batas terpilih di dua festival Oscar-qualifying, yakni Tampere Film Festival melalui kompetisi Generation XYZ dan Balinale. Film tersebut juga diputar di Final Girls Berlin Film Festival, London International Fantastic Film Festival, Anatolia International Film Festival, dan Cyprus International Film Festival.

Adapun Salam Dahsyat Fantastis Luar Biasa meraih penghargaan Winner 2026 Tapestry of Indonesia Balinale, yang juga menjadi festival Oscar-qualifying dalam kategori Live-Action Asia International Competition. Film tersebut juga masuk dalam Short Shorts Film Festival & Asia 2026 di Tokyo dan diputar di JAFF.

Ketiga film itu memiliki genre yang berbeda, mulai dari body horror satir hingga thriller psikologis. Namun, benang merahnya berada pada keberanian mengangkat isu yang kerap luput dari percakapan publik.

Salah satu isu yang diangkat Playvul NYRA adalah kekerasan seksual terhadap perempuan. Penulis Amanda Simandjuntak mengatakan proses penulisan cerita mengenai consent dan kekerasan seksual membutuhkan riset serta diskusi yang panjang agar isu tersebut dapat disampaikan secara jujur. “Menulis cerita tentang consent dan kekerasan seksual bukan hal yang mudah. Saya ingin penonton merasa dipahami, bukan dihakimi,” ujarnya.

Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya Playvul NYRA untuk menghindari penyederhanaan persoalan sosial menjadi sekadar persoalan benar dan salah. Film digunakan untuk membuka ruang bagi penonton memahami pengalaman dan kompleksitas manusia yang berada di balik isu tersebut.

Di sisi lain, perjalanan festival juga memperlihatkan meningkatnya ruang bagi film pendek Indonesia di panggung internasional. Berdasarkan riset Cinema Poetica yang dikutip dalam rilis, jumlah film Indonesia yang diputar di festival internasional meningkat dari 73 judul pada 2023 menjadi 126 judul pada 2025, yang tersebar di 91 festival di 36 negara. Dari 48 penghargaan internasional yang diraih film Indonesia, 23 diberikan kepada film fiksi pendek.

Setelah menyelesaikan perjalanan di sejumlah festival, Ambang Batas kini dapat diakses masyarakat melalui kanal YouTube Playvul NYRA. Kehadiran film tersebut secara daring membuat karya yang sebelumnya lebih banyak ditemui dalam ruang festival dapat ditonton secara lebih luas dan gratis. Produser Muhammad Omar Azis mengatakan distribusi setelah perjalanan festival menjadi bagian penting agar karya dapat menjangkau penonton yang lebih luas.

Ke depan, Playvul NYRA juga berencana membuka ruang kolaborasi dan eksplorasi yang lebih luas bagi komunitas film Indonesia. Rumah produksi tersebut tidak hanya ingin mengembangkan film pendek, tetapi juga menyiapkan pengembangan karya dalam format feature film dan series.

Bagi Playvul NYRA, perjalanan tiga film tersebut sekaligus menjadi cara untuk menunjukkan bahwa cerita lokal dengan persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat dapat memiliki ruang untuk dibicarakan di tingkat internasional. (feb, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *