NasionalPeristiwa

VIDA Luncurkan “Faces of Fraud”, Soroti Dampak Emosional Penipuan Digital Berbasis AI

30
×

VIDA Luncurkan “Faces of Fraud”, Soroti Dampak Emosional Penipuan Digital Berbasis AI

Sebarkan artikel ini

JAKARTA (Suarapubliknews) ~ VIDA meluncurkan gerakan edukasi publik bertajuk Faces of Fraud sebagai upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap ancaman penipuan digital berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dinilai semakin terorganisasi dan kompleks.

Melalui pameran narasi tersebut, VIDA menghadirkan kisah nyata para korban penipuan digital untuk menunjukkan bahwa dampak fraud digital tidak hanya menimbulkan kerugian finansial, tetapi juga luka emosional, hilangnya rasa aman, hingga rusaknya reputasi korban.

Menurut data yang disampaikan VIDA, kerugian akibat penipuan digital di Indonesia mencapai sekitar Rp9 triliun dengan lebih dari 411 ribu laporan sepanjang November 2024 hingga akhir 2025.

Founder dan Group CEO VIDA, Niki Luhur, mengatakan setiap korban dalam Faces of Fraud mewakili kegagalan sistem perlindungan identitas digital yang masih memiliki banyak celah keamanan.

“Melalui gerakan ini, kami ingin membuka mata publik bahwa dampak penipuan digital tidak hanya meninggalkan kerugian finansial, tetapi juga luka emosional, hilangnya rasa aman, dan dampak yang membekas dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Dalam program tersebut, VIDA menampilkan berbagai modus penipuan digital yang kini berkembang semakin canggih, mulai dari manipulasi psikologis (social engineering) hingga pengambilalihan akun digital.

Beberapa kasus yang diangkat antara lain: seorang pensiunan yang kehilangan seluruh tabungan akibat pengalihan dana ke aset kripto, penyalahgunaan identitas untuk pinjaman online ilegal, hingga kasus donasi palsu yang membuat korban kehilangan dana pengobatan anak.

VIDA menilai kisah-kisah tersebut menjadi pengingat bahwa siapa pun dapat menjadi sasaran penipuan digital tanpa memandang latar belakang profesi maupun usia.

Dalam kesempatan yang sama, VIDA juga memperkenalkan whitepaper terbaru bertajuk SEA Digital Identity Fraud Outlook yang membahas perubahan lanskap penipuan digital di Asia Tenggara.

Dokumen tersebut mengungkap bahwa fraud modern kini berkembang semakin terstruktur dengan menggabungkan berbagai metode serangan dalam satu rangkaian yang terencana. VIDA menilai rendahnya literasi digital dan lemahnya perlindungan identitas masih menjadi faktor utama meningkatnya jumlah korban.

Karena itu, perusahaan menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat dalam membangun ekosistem digital yang lebih aman.

Sebagai perusahaan identitas digital dan pencegahan fraud, VIDA menyebut perlindungan identitas digital berlapis menjadi langkah penting menghadapi ancaman fraud berbasis AI yang terus berkembang.

Selain penguatan regulasi, VIDA juga mendorong adopsi teknologi keamanan digital yang lebih adaptif serta peningkatan kewaspadaan masyarakat terhadap setiap interaksi digital. “Kami tidak ingin korban terus bertambah. Faces of Fraud adalah cara kami berkata: kita semua punya peran dalam memutus rantai ini,” tutupnya. (feb, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *