Wahai Calon Pemimpin Jakarta, Siapa yang Bisa Mengelak dari Takdir

SURABAYA (Suarapubliknews.net) – Tanggal pendaftaran calon gubernur DKI Jakarta dari jalur parpol tinggal hari. Kandidat yang mrocot baru dua, petahana Basuki Tjahaja Purnama dan Sandiaga Uno yang dijagokan Partai Gerindra.

Jika Ahok yang diusung Partai Golkar, Nasdem, Hanura dan Teman Ahok head to head dengan Sandiaga Uno tentu tidak akan menghasilkan pertarungan yang seimbang. Bisa dipastikan Ahok akan tampil sebagai pemenang tanpa harus ‘berkeringat’.

Sebagai warga DKI, khususnya simpatisan dan kader PDI Perjuangan masih memimpikan jalannya pertandingan yang seimbang pada Pilgub DKI Jakarta Tahun 2017 mendatang.

PDI Perjuangan memang masih menyimpan rapat kandidat yang diyakini bisa diterima warga ibukota. Pilihan utama untuk menumbangkan Ahok, tidak lain jika bukan Tri Rismaharini, wali kota Surabaya yang baru menjabat 6 bulan pada periode kedua memimpin Kota Pahlawan ini.

Risma, demikian disapa, masih ‘keukuh’ bertahan tidak mau ‘mengabulkan’ mimpi warga Jakarta yang menginginkan dirinya maju melawan Ahok. PDI Perjuangan sekali lagi masih wait and see. Isu santer bahwa PDI Perjuangan akan kembali menduetkan Wagub Djarot Saiful Hidayat dengan Ahok menyeruak di tengah kuatnya arus dukungan kepada Risma.

Kekuatan arus bawah, kelurahan, rakyat miskin yang selama ini digambarkan sebagai kelompok marginal yang menjadi korban kebijakan Ahok menyuarakan desakan agar PDI Perjuangan tidak mengusung Ahok.

PDI Perjuangan diminta memilih Risma sebagai calon yang dinilai mampu bekerja dengan hati serta mengambil kebijakan yang tidak menyakiti hati wong cilik. Penanganan sosial yang dilakukan di Kota Surabaya tanpa harus ‘menindas’ menjadi senjata warga Jakarta untuk menyakinkan Ketua Umum Megawati Sukarno Putri.

Suara itu cukup nyaring dan menggema. Survei terakhir, elektabilitas Risma tembus hingga 38 persen. Angka itu bukan sim salabim. Mengejutkan memang. Risma yang bergeming di Surabaya saja mampu meningkatkan elektabilitasnya. Sikap politik Risma yang andap ansor itu mampu menjadi amunisi yang mematikan.

Sikap diam Megawati juga patut dilihat sebuah strategi yang luar biasa. Risma dan Megawati seolah kompak untuk tidak membuat ‘nyaman’ Ahok yang sudah terlanjur percaya diri akan mendapat restu ‘Sang Ibu’.

Diamnya Megawati tentu juga berimbas pada jajaran pengurus di DPP yang saling bermanuver. Catatan penulis, ada empat kelompok yang bisa terbaca. Yang pertama, kelompak yang tetap menginginkan Ahok diusung PDIP berpasangan tanpa harus dengan Djarot.

Kubu yang mengunsung Risma juga tidak diam. Meski tidak bergerak secara struktural, namun jejaring kelompok ini mudah terbaca. Kemudian kelompok yang menginginkan Djarot tampil meski harus menjadi pendamping Ahok juga tak bisa diremehkan.

Apalagi peran ‘Istana’ melobi Megawati juga tak bisa disepelekan begitu saja. Presiden Jokowi terlihat merasa nyaman dengan Ahok. Tentu titipan sang presiden ini pasti didengar oleh Megawati.

Kelompok terakhir adalah mereka yang ingin PDI Perjuangan mengusung calon sendiri meski tidak harus memilih Ahok, Risma ataupun Djarot. Kelompok ini berusaha mencari sosok alternatif. Namun semangat kelompok ini tetap, asal bukan Ahok.

Pendaftaran Calon Gubernur DKI tak lama lagi. Tanggal 19-21 September bukanlah waktu yang lama. PDI Perjuangan berkejaran dengan waktu. Suhu politik akan memanas beberapa hari ke depan, tapi Megawati tetap tenang.

Ketenangan Megawati ini susah ditebak. Sosok calon yang membuat Megawati ‘Jatuh Hati’ tetap misterius hingga pada saatnya rekomendasi diputuskan. Demikian pula Risma juga tetap tenang, tak terpengaruh hiruk pikuk siapa yang akan dipilih Megawati untuk menjadi pemimpin baru di Jakarta.

Risma memilih menyerahkan jalan hidupnya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Risma yang kini sudah menjadi kader PDI Perjuangan memang bisa disebut politisi handal. Sikap politiknya tidak terbaca.

Sekali lagi, takdir Risma tidak ada yang mengetahui. Tuhan pun masih menyimpan takdir Jakarta yang akan suksesi tahun depan. Jika takdir itu tiba pada saatnya, siapa yang bisa mengelak. Dan siapa yang akan menyangka jika takdir Risma tetap harus memimpin Kota Surabaya. Penulis: Ir Heri Dwi Wahyudi

Reply