SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Ciputra Surabaya menggelar pemutaran tiga film pendek bertajuk Beyond the Surface Cinema di Auditorium Institut Français Indonesia (IFI) Surabaya. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari implementasi mata kuliah Film Production dan Film Distribution yang bertujuan mempertemukan karya mahasiswa dengan publik sekaligus melatih kemampuan distribusi dan eksibisi film.
Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi dan Bisnis Media Universitas Ciputra Surabaya, Dr. Cosmas Catot Maryono, S.Sos., M.St., CISHR., CCP, mengatakan screening tersebut merupakan bagian dari proses pembelajaran yang dirancang untuk memberikan pengalaman nyata kepada mahasiswa dalam industri perfilman.
“Kegiatan ini merupakan bagian dari tugas mata kuliah yang berkaitan dengan distribusi dan eksibisi film. Melalui screening ini, kami berharap karya yang telah dibuat dapat dinikmati tidak hanya oleh sivitas akademika, tetapi juga oleh masyarakat luas dan berbagai komunitas yang memiliki perhatian terhadap dunia perfilman,” ujarnya.
Kegiatan yang menghadirkan tiga film pendek karya mahasiswa angkatan 2023 tersebut juga dihadiri Direktur Institut Français Indonesia (IFI) Surabaya, Vincent Padaré. Dalam sambutannya, Vincent mengapresiasi kolaborasi yang terjalin antara Universitas Ciputra dan berbagai mitra dalam menghadirkan ruang kreatif bagi generasi muda. Menurutnya, kegiatan seperti ini tidak hanya menjadi wadah apresiasi karya, tetapi juga sarana bagi mahasiswa untuk mengembangkan kreativitas, inovasi, kepemimpinan, serta jiwa kewirausahaan yang dibutuhkan di masa depan.
Salah satu produser film, Kuncoro Cahyani Graciawati atau Chacha, menjelaskan bahwa screening kali ini menampilkan tiga film pendek yang diproduksi oleh tiga kelompok mahasiswa berbeda, yakni Lapis Tipis, Becoming Her, dan Salah Sandung. Ia mengatakan seluruh mahasiswa angkatan 2023 Program Studi Ilmu Komunikasi dibagi ke dalam enam kelompok produksi yang beranggotakan mahasiswa dari tiga peminatan, yaitu Digital Public Relations, Digital Broadcasting, dan Cinematography.
“Di mata kuliah ini mahasiswa tidak hanya membuat film, tetapi juga harus mendistribusikannya. Karena itu kami belajar bagaimana sebuah karya bisa dipertemukan dengan penonton melalui screening seperti ini,” jelasnya. Menurut Chacha, setiap kelompok beranggotakan sekitar 11 hingga 13 mahasiswa yang menjalankan peran sesuai bidang masing-masing, mulai dari produser, sutradara, tim produksi, hingga tim distribusi dan promosi.
Salah satu film yang ditampilkan adalah Lapis Tipis, karya yang mengangkat isu kekerasan seksual dalam keluarga dari sudut pandang trauma pascakejadian. Film tersebut berfokus pada perjalanan seorang anak dan ibunya yang berusaha pulih setelah mengalami peristiwa yang mengubah kehidupan mereka. “Kami tidak menampilkan adegan kekerasannya. Yang ingin kami tunjukkan adalah dampak traumanya.
Ternyata yang terluka bukan hanya anak sebagai korban, tetapi juga ibunya yang menyimpan rasa bersalah dan trauma,” ujarnya. Dalam film tersebut, trauma sang ibu digambarkan melalui kebiasaannya membungkus berbagai barang di rumah menggunakan plastik wrap. Simbol tersebut menjadi representasi dari upaya menutupi luka yang sebenarnya masih terlihat dan belum sepenuhnya sembuh.
Chacha menilai tema tersebut penting diangkat karena kasus kekerasan seksual terhadap anak masih sering terjadi di masyarakat. “Harapannya film ini bisa menjadi pengingat bahwa korban berhak mendapatkan perlindungan dan dukungan. Ini bukan lagi hal yang tabu untuk dibicarakan,” katanya. Film kedua berjudul Becoming Her mengangkat tema pencarian jati diri melalui sosok Mika, seorang pemuda yang berusaha memahami identitas dirinya di tengah berbagai ekspektasi sosial yang melekat pada dirinya.
Produser film Becoming Her, Vania Wijaya, menjelaskan bahwa film tersebut tidak bertujuan mengajak penonton mendukung identitas tertentu, melainkan mengajak masyarakat memahami pentingnya proses menemukan diri sendiri. “Yang ingin kami soroti adalah perjalanan seseorang menemukan jati dirinya dan bagaimana dukungan dari lingkungan sekitar bisa membantu proses tersebut,” ujarnya.
Melalui film itu, tim produksi berharap masyarakat dapat lebih terbuka terhadap perbedaan dan tidak mudah menghakimi orang lain hanya berdasarkan penampilan atau stereotip yang melekat. Sementara itu, film Salah Sandung menghadirkan kisah yang dekat dengan kehidupan mahasiswa perantau. Film tersebut menceritakan Satya, seorang mahasiswa yang sedang menghadapi kesulitan ekonomi dan dilema moral ketika rasa lapar mendorongnya melakukan tindakan yang salah.
Melalui cerita tersebut, tim produksi ingin menunjukkan bahwa sering kali seseorang terlalu fokus pada masalah yang sedang dihadapi hingga tidak menyadari masih ada orang-orang di sekitarnya yang peduli dan ingin membantu. “Pesan yang ingin kami sampaikan adalah jangan selalu melihat persoalan dari sisi diri sendiri. Kadang ada banyak orang di sekitar yang sebenarnya peduli, hanya saja kita tidak menyadarinya,” ungkapnya.
Ketiga film tersebut mengangkat isu yang berbeda, mulai dari trauma pascakekerasan seksual, pencarian identitas diri, hingga dilema moral dan kepedulian sosial. Meski demikian, seluruh karya dipersatukan dalam tema besar Beyond the Surface Cinema yang mengajak penonton melihat lebih dalam berbagai persoalan yang sering kali tersembunyi di balik kehidupan sehari-hari.
Selain menjadi bagian dari tugas akademik, para mahasiswa juga telah membawa karya mereka ke berbagai festival film sebagai bagian dari proses distribusi yang dipelajari selama perkuliahan. Mereka berharap film-film tersebut dapat menjangkau audiens yang lebih luas sekaligus membuka ruang diskusi mengenai berbagai isu sosial yang diangkat dalam karya mereka. (feb, tama dini)












