Peristiwa

ITS Kembangkan Kapal Pembersih Sampah Tanpa Awak untuk Jaga Kelestarian Laut

94
×

ITS Kembangkan Kapal Pembersih Sampah Tanpa Awak untuk Jaga Kelestarian Laut

Sebarkan artikel ini

SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Permasalahan sampah yang terus mencemari perairan Indonesia mendorong peneliti Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menghadirkan solusi berbasis teknologi.

Dosen Departemen Teknik Perkapalan Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) ITS, Dr Hasanudin ST MT bersama tim penelitiannya mengembangkan kapal pembersih sampah tanpa awak yang dirancang khusus untuk membantu menjaga kebersihan kawasan pesisir dan perairan laut. Inovasi tersebut diperkenalkan dalam peluncuran kapal pembersih sampah tanpa awak di Amphitheatre InfinITS, Kamis (11/6/2026).

Rektor ITS Prof Dr (HC) Ir Bambang Pramujati ST MSc Eng PhD mengatakan persoalan sampah tidak hanya menjadi perhatian pemerintah dan pegiat lingkungan, tetapi juga menjadi tantangan yang perlu dijawab oleh kalangan akademisi melalui inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat.

“Perancangan kapal pembersih sampah ini menjadi bentuk pengaplikasian ilmu untuk menjawab permasalahan di masyarakat. Teknologinya sederhana, tetapi insya Allah manfaatnya besar. Ini sejalan dengan cita-cita ITS sebagai kampus yang berdampak,” ujarnya.

Ketua tim peneliti sekaligus dosen bidang keahlian Desain Kapal ITS, Hasanudin, menjelaskan bahwa pengembangan kapal tersebut dilatarbelakangi tingginya pencemaran sampah dan mikroplastik yang mengancam keberlanjutan ekosistem laut, terutama di wilayah pesisir. “Sampah kiriman di wilayah pesisir menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan hayati. Jika tidak ditangani segera, ekosistem laut kita menjadi taruhannya,” katanya.

Kapal pembersih sampah ini dirancang dengan konsep sederhana agar mudah dioperasikan dan dirawat oleh masyarakat pesisir. Kapal menggunakan desain lambung ganda yang memberikan stabilitas lebih baik saat beroperasi di perairan.

Menurut Hasan, kesederhanaan desain menjadi pertimbangan utama agar teknologi tersebut dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh masyarakat. “Kami sengaja mendesain sistem yang sederhana namun kuat karena memang ditargetkan untuk masyarakat pesisir,” jelasnya.

Pada bagian depan kapal dipasang sirip pengarah yang berfungsi mengumpulkan sampah menuju keranjang penampung di bagian tengah kapal saat bergerak. Sistem kendali menggunakan remote control yang dapat dioperasikan hingga jarak satu kilometer.

Hasan menilai pendekatan tersebut lebih efisien dibanding penggunaan sistem yang terlalu kompleks dan membutuhkan biaya perawatan tinggi. “Kadang teknologi yang terlalu canggih justru mangkrak karena biaya perawatan tinggi dan minimnya tenaga ahli di wilayah pesisir,” ujarnya.

Pengembangan kapal ini didukung melalui program hilirisasi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) dan LPDP. Hingga saat ini, tim peneliti telah mengembangkan dua unit kapal generasi terbaru dengan panjang delapan meter yang dirancang lebih tangguh untuk menghadapi kondisi laut terbuka.

Dua unit tersebut telah dikirim dan diuji coba di kawasan pesisir Bali serta Kalimantan melalui kerja sama antara Science Techno Park (STP) Maritim atau Nasdec ITS dengan PT Pertamina (Persero).

Berbeda dengan versi awal, kapal generasi terbaru telah dilengkapi sejumlah fitur tambahan seperti alat pencacah sampah, kamera CCTV untuk pemantauan, serta sistem energi ramah lingkungan berbasis panel surya. “Kami lengkapi dengan alat pencacah sampah, sistem pemantauan kamera CCTV, serta suplai energi ramah lingkungan berbasis panel surya,” terangnya.

Selain pengembangan teknologi, tim peneliti juga menyiapkan aspek keberlanjutan melalui kolaborasi dengan komunitas masyarakat pesisir. Berbagai dokumen operasional dan prosedur penggunaan disiapkan agar kapal dapat dimanfaatkan secara optimal setelah diserahkan kepada masyarakat.

Ke depan, tim FTK ITS juga merencanakan pengembangan teknologi berbasis Internet of Things (IoT) dan kecerdasan buatan (AI) untuk mendeteksi area dengan konsentrasi sampah tinggi secara otomatis.

Melalui inovasi ini, ITS berharap dapat mendorong kolaborasi yang lebih luas antara akademisi, industri, pemerintah, dan masyarakat dalam menjaga kebersihan laut sekaligus memperkuat ketahanan maritim Indonesia.

Pengembangan kapal pembersih sampah tanpa awak tersebut juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-6 tentang Air Bersih dan Sanitasi Layak serta tujuan ke-14 mengenai Ekosistem Lautan. (feb, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *