SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) terus memperluas kolaborasi internasional melalui pengembangan inovasi di bidang desain berkelanjutan. Bersama Curtin University, Australia, ITS menggelar Pameran Desain Matters di KOGU Space, Surabaya, yang menampilkan berbagai karya desain berbasis upcycling dengan memanfaatkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam proses pengembangannya.
Pameran tersebut merupakan hasil kolaborasi Fakultas Desain Kreatif dan Bisnis Digital (FDKBD) ITS dengan Curtin University melalui program Adjunct Professor, yang menghadirkan akademisi Curtin University, Dr. Qassim Saad, sebagai pengajar dan peneliti tamu selama enam bulan.
Dr. Qassim Saad menjelaskan, proyek tersebut menjadi ruang kolaborasi antara praktik kerajinan tradisional dengan teknologi digital dalam proses perancangan produk. “Integrasi antara teknologi dan sumber daya yang ada menghasilkan berbagai karya yang dapat bermanfaat. Teknologi bukan menggantikan kreativitas manusia, tetapi menjadi alat untuk memaksimalkan potensi desain,” ujarnya.
Melalui program tersebut, mahasiswa memperoleh pengalaman belajar langsung menggunakan pendekatan desain yang diterapkan di tingkat internasional. Selain mempelajari proses kreatif, mereka juga diajak memahami bagaimana teknologi digital dapat mendukung pengembangan produk yang memiliki nilai ekonomi sekaligus memperhatikan aspek keberlanjutan.
Sementara itu, Dekan FDKBD ITS, Ellya Zulaikha, mengatakan pameran tersebut merupakan hasil proses pembelajaran selama enam bulan yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu, yakni Departemen Desain Produk Industri, Departemen Desain Komunikasi Visual, serta Departemen Manajemen Bisnis. “Kolaborasi ini mengoptimalkan industri kerajinan upcycling melalui pendekatan digital dan strategi bisnis yang tepat,” katanya.
Dalam proyek tersebut, sebanyak 20 mahasiswa melakukan observasi ke berbagai daerah untuk mengidentifikasi potensi pemanfaatan limbah yang selama ini belum memiliki nilai tambah. Hasil observasi menunjukkan berbagai jenis limbah, seperti kardus bekas, limbah konveksi, kerang kapis, hingga manik-manik kaca, masih memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi produk kreatif yang bernilai ekonomi.
Menurut Ellya, mahasiswa kemudian merancang berbagai alternatif desain dengan memanfaatkan AI sebagai alat eksplorasi untuk melihat kemungkinan bentuk produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar. “Kami memanfaatkan kecerdasan buatan bukan untuk menggantikan peran desainer, tetapi untuk memaksimalkan potensi dari sumber daya yang tersedia,” ujarnya.
Dalam prosesnya, ITS juga menggandeng sejumlah pelaku industri dan UMKM agar hasil rancangan mahasiswa memiliki peluang untuk diterapkan secara nyata. Kolaborasi dengan Dus Duk Duk misalnya, menghasilkan konsep armatur lampu berbahan limbah kardus. Sementara limbah kerang kapis dari Mekarsari, Situbondo, dikembangkan menjadi material dekoratif untuk armatur lampu dengan memanfaatkan pola alami cangkangnya.
Mahasiswa juga bekerja sama dengan Upject di Mojokerto untuk mengolah limbah konveksi menjadi produk fesyen, seperti tas dan sandal yang memiliki nilai jual lebih tinggi. Sementara itu, kolaborasi dengan Beads Flower di Jombang menghasilkan inovasi berupa permainan tradisional, seperti yoyo, ludo, dan dakon yang dibuat dari limbah manik-manik kaca.
Ellya berharap pameran tersebut tidak hanya menjadi ruang apresiasi karya mahasiswa, tetapi juga memperlihatkan bagaimana proses desain dapat memberikan solusi terhadap persoalan lingkungan melalui pendekatan yang inovatif.
“Pameran ini menunjukkan bahwa limbah masih memiliki potensi besar untuk diolah menjadi produk yang bermanfaat sekaligus bernilai ekonomi. Harapannya, pendekatan upcycling dapat menjadi bagian dari upaya mewujudkan Indonesia menuju zero waste,” tuturnya.
Selain memperkuat jejaring internasional antara ITS dan Curtin University, kolaborasi tersebut juga menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan lintas disiplin dengan memadukan desain, teknologi digital, strategi bisnis, dan prinsip keberlanjutan dalam menghasilkan inovasi yang siap diterapkan di masyarakat. (feb, tama dini)












