SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Program Studi Pendidikan Vokasional Kesejahteraan Keluarga (PVKK) konsentrasi Professional Culinary Universitas Adi Buana (UAB). Sebanyak empat mahasiswa berhasil melaju ke babak final Flavors Innovation Challenge, kompetisi memasak yang menjadi bagian dari rangkaian Java Coffee & Flavors Fest (JCFF) 2026 yang diselenggarakan Bank Indonesia di Alun-Alun Surabaya, Sabtu (18/7).
Keempat finalis tersebut adalah Anggun Rizqy Puji Lestari, Muhammad Zakee Rizkillah, Dimas Bagus Prihadi S, dan Auryn Fredela. Mereka berhasil lolos setelah bersaing dengan puluhan peserta dari berbagai perguruan tinggi dan sekolah kejuruan di Jawa Timur.
Ketua Program Studi PVKK UAB, Dr. Yunus Karyanto, S.Pd., M.Pd., mengatakan keikutsertaan mahasiswa dalam kompetisi tersebut merupakan bagian dari strategi pembelajaran yang menghubungkan teori di bangku kuliah dengan pengalaman profesional di lapangan.
“Kami ingin melihat sejauh mana kompetensi yang diperoleh mahasiswa selama perkuliahan dapat diterapkan secara nyata. Kompetisi seperti ini menjadi bekal berharga agar mereka lebih percaya diri, memiliki pengalaman bertanding, sekaligus membangun personal branding sebelum memasuki dunia kerja,” ujarnya.
Menurut Yunus, pada tahap seleksi awal UAB mengirimkan enam tim, kemudian empat tim berhasil menembus babak final. Menariknya, para finalis berasal dari berbagai angkatan, mulai mahasiswa angkatan 2022 hingga 2025.
Strategi tersebut sengaja diterapkan untuk menciptakan regenerasi kompetensi antarmahasiswa. Dengan melibatkan mahasiswa dari berbagai tingkat, pengalaman mengikuti kompetisi diharapkan dapat diwariskan kepada angkatan berikutnya sehingga budaya berprestasi terus berlanjut.
Pada babak final, peserta tidak hanya dinilai dari konsep hidangan, tetapi juga harus memasak langsung di hadapan dewan juri dan pengunjung festival. Seluruh finalis ditantang menghadirkan main course dan dessert bergaya kontinental dengan mengangkat kekayaan bahan pangan lokal melalui penggunaan kopi, teh, dan rempah-rempah sebagai unsur utama inovasi.
Salah satu karya yang menjadi perhatian datang dari Dimas Bagus Prihadi S melalui menu Smoked Chicken Ketjombrang Ember Relish sebagai hidangan utama serta Opera Van Soerabaja (Gluten Free) sebagai hidangan penutup.
Pada menu utama, Dimas mengolah ayam menggunakan teknik smoking dengan memanfaatkan campuran teh hitam, teh wangi, kayu manis, cengkeh, bunga lawang, pandan, dan beras sehingga menghasilkan aroma asap yang khas. Ayam kemudian dipadukan dengan Ketjombrang Ember Relish, sambal berbahan kecombrang yang menghadirkan cita rasa floral, pedas, asam, dan segar, serta disajikan bersama nasi gurih rempah yang dipanggang menggunakan daun pisang.
Sementara itu, dessert Opera Van Soerabaja (Gluten Free) mengusung interpretasi modern terhadap lapis spikoe khas Surabaya. Dimas menggunakan tepung beras sebagai pengganti tepung terigu sehingga menghasilkan kue bebas gluten yang dipadukan dengan espresso, coffee chantilly cream, dan chocolate ganache. Kombinasi tersebut menghadirkan perpaduan cita rasa kopi dan cokelat dalam penyajian bergaya modern tanpa meninggalkan identitas kuliner lokal.
Selain Dimas, tiga finalis UAB lainnya juga menghadirkan kreasi yang mengangkat kekayaan kuliner Nusantara. Anggun Rizqy Puji Lestari menyajikan Nasi Ayam Bakar Taliwang dengan sentuhan modern, Muhammad Zakee Rizkillah menghadirkan Spicy Secang & Cinnamon Glazed Roast Chicken with Lime Leaf Rice serta dessert Chocolate Tea Pudding with Cinnamon, sedangkan Auryn Fredela menampilkan Banjar Essence dan dessert Coffee Pie Parfait. Seluruh karya tersebut mengombinasikan kopi, teh, dan rempah-rempah sebagai identitas utama kompetisi.
Yunus berharap pencapaian ini menjadi motivasi bagi mahasiswa untuk terus mengembangkan kreativitas sekaligus memperkuat kemampuan mengolah bahan pangan lokal menjadi produk kuliner bernilai tambah.
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya mampu memasak, tetapi juga mampu berinovasi, memahami karakter bahan lokal, serta menghasilkan karya kuliner yang memiliki daya saing di tingkat nasional maupun internasasional,” tuturnya.
Melalui ajang Flavors Innovation Challenge, mahasiswa Professional Culinary UAB tidak hanya menunjukkan keterampilan memasak, tetapi juga membuktikan bahwa kekayaan kopi, teh, dan rempah Indonesia dapat diolah menjadi sajian kreatif yang relevan dengan perkembangan industri kuliner modern sekaligus berpotensi menjadi produk unggulan di masa depan. (feb, tama dini)












