SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Kondisi geografis Indonesia yang berada di kawasan tropis serta rawan bencana mendorong perlunya sistem telekomunikasi yang tetap andal dalam berbagai situasi.
Menjawab tantangan tersebut, Guru Besar ke-255 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof. Dr. Ir. Achmad Mauludiyanto MT, mengembangkan pemodelan gelombang radio yang dapat diterapkan pada berbagai bidang, mulai dari jaringan 5G, komunikasi darurat, hingga rumah sakit cerdas.
Dalam orasi ilmiahnya bertajuk Pemodelan Gelombang Radio untuk Berbagai Aplikasi Telekomunikasi, Prof. Achmad Mauludiyanto menjelaskan bahwa pemahaman karakteristik gelombang radio di Indonesia menjadi faktor penting dalam merancang sistem telekomunikasi yang efisien dan berkinerja tinggi. “Pemodelan tersebut nantinya akan mengurangi biaya implementasi dan meningkatkan kualitas layanan,” ujarnya.
Salah satu penelitian yang dikembangkan berfokus pada pemodelan redaman hujan tropis pada frekuensi 28 GHz menggunakan metode Auto-Regressive Integrated Moving Average (ARIMA). Menurutnya, pendekatan tersebut dapat membantu meningkatkan keandalan jaringan 5G, terutama di wilayah perkotaan yang kerap menghadapi kondisi cuaca ekstrem. “Pemodelan ARIMA(0,1,1) ini memungkinkan pembangunan jaringan 5G di perkotaan yang lebih stabil dan tahan cuaca ekstrem,” ungkapnya.
Selain mendukung pengembangan jaringan seluler, Prof. Mauludiyanto juga meneliti sistem komunikasi darurat berbasis High Frequency (HF) pada pita frekuensi 3–30 MHz. Teknologi tersebut memungkinkan komunikasi jarak jauh melalui pantulan ionosfer sehingga dapat menjadi alternatif ketika jaringan telekomunikasi maupun satelit mengalami gangguan, terutama di daerah terpencil atau wilayah terdampak bencana.
Dalam riset tersebut, ia memanfaatkan metode Near Vertical Incidence Skywave (NVIS) untuk mendukung komunikasi tanpa bergantung pada satelit. Karakteristik rambatan gelombang HF kemudian dimanfaatkan dalam pengembangan sistem Multiple-Input Multiple-Output (MIMO) guna meningkatkan kapasitas komunikasi pada kondisi darurat.
Pengembangan teknologi juga dilakukan pada sektor kesehatan melalui Wireless Body Area Network (WBAN), yaitu jaringan sensor nirkabel yang digunakan untuk memantau kondisi tubuh pasien. Penelitian tersebut mempertimbangkan berbagai faktor, seperti posisi tubuh, penempatan sensor, hingga kondisi ruangan untuk menghasilkan sistem pemantauan pasien yang lebih andal sebagai bagian dari pengembangan konsep rumah sakit cerdas. “Penelitian ini dilakukan untuk mendukung pembangunan rumah sakit cerdas,” tuturnya.
Prof. Mauludiyanto berharap riset mengenai propagasi gelombang radio terus berkembang dan mampu memberikan solusi terhadap berbagai tantangan telekomunikasi di Indonesia. Menurutnya, hasil penelitian harus dapat diimplementasikan secara nyata untuk meningkatkan kualitas layanan komunikasi sekaligus mendukung kemandirian teknologi nasional. “Harapannya, penelitian ini bisa diimplementasikan untuk masyarakat dan terus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan,” pungkasnya. (feb, tama dini)












