Peristiwa

Lewat Fashion, Mahasiswa UK Petra Angkat Isu Budaya hingga Deforestasi

144
×

Lewat Fashion, Mahasiswa UK Petra Angkat Isu Budaya hingga Deforestasi

Sebarkan artikel ini

SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Busana tidak selalu berhenti sebagai persoalan estetika. Di tangan mahasiswa Desain Fashion dan Tekstil (DFT) Universitas Kristen Petra (UK Petra), kain, warna, siluet hingga teknik manipulasi tekstil menjadi medium untuk menyampaikan gagasan tentang budaya, lingkungan, konsumerisme, hingga identitas manusia.

Gagasan tersebut hadir dalam Innofashion Show 8 bertema “Zerith: Rise Beyond Zero” yang berlangsung pada 14–16 Agustus 2026 di Oval Atrium Ciputra World Surabaya. Gelaran tahun ini menampilkan 89 busana dari 21 karya tugas akhir mahasiswa DFT UK Petra angkatan 2022.

Tema Zerith: Rise Beyond Zero menggambarkan perjalanan dari ruang kosong menuju puncak tanpa batas. Konsep tersebut diterjemahkan melalui karya dengan nuansa distopia dan estetika futuristik, sekaligus memberikan ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan gagasan yang lahir dari proses riset dan eksplorasi masing-masing.

Ketua Panitia Innofashion Show 8 Cicillia Josephine Setiady mengatakan setiap koleksi yang ditampilkan memiliki cerita yang dibangun melalui proses penciptaan yang panjang. “Kami berharap, koleksi-koleksi yang ditampilkan tidak hanya dapat dinikmati dari sisi visual, tapi juga mampu menyampaikan pesan dan menginspirasi masyarakat,” ujarnya.

Salah satu karya yang membawa isu pelestarian budaya adalah BEMAUR karya Febe Maureen Purwanto. Mengusung konsep ready-to-wear deluxe, Febe mengambil inspirasi dari seni tari tradisional Indonesia, khususnya tari tradisional Jawa Tengah.

Esensi, karakter, dan elemen visual tarian kemudian diolah menjadi motif kontemporer yang lebih dekat dengan gaya hidup masa kini. “Dalam koleksi perdananya ini, BEMAUR mengambil inspirasi dari tari tradisional Jawa Tengah yang kemudian diolah menjadi visual yang modern dan relevan,” kata Febe.

Sementara itu, Kathleen Diandra Muljanto menggunakan fashion sebagai medium untuk mengkritisi budaya konsumsi. Melalui koleksi Beneath the Garment, ia merefleksikan perkembangan konsumerisme dan tingginya konsumsi tekstil dalam industri fashion.

Koleksi yang terdiri dari tiga busana tersebut menggunakan pendekatan visual postmodern, termasuk estetika pastiche dan fragmentation. Kathleen ingin mengajak masyarakat melihat kembali perjalanan sebuah pakaian, mulai dari proses produksi hingga sampai ke tangan konsumen, sehingga keputusan membeli dan menggunakan busana dapat dilakukan dengan lebih bijak.

Isu lingkungan menjadi gagasan utama dalam karya Eunica Shareen Dellamanda berjudul Lignum Mortis. Koleksi avant-garde tersebut mengambil nama dari bahasa Latin yang berarti “kayu yang mati”.

Melalui estetika gotik yang gelap dan tegas, Eunica mengangkat isu deforestasi sekaligus menyuarakan kerusakan dan kepunahan hutan. Pesan tersebut diterjemahkan melalui teknik manipulasi tekstil seperti slashing, burnt fabric, dan benang yang sengaja dibuat terurai.

Koleksi ini kemudian dibangun dalam tiga tahapan naratif: Radix, yang menggambarkan kehidupan awal dan jaringan alam; Cicatrix, yang merepresentasikan luka dan keretakan ekosistem; serta Dominus, yang menggambarkan dominasi dan eksploitasi manusia terhadap alam. “Aku memilih tema tentang deforestasi karena ini merupakan isu lingkungan yang berdampak besar bagi ekosistem Indonesia,” jelas Eunica.

Menurutnya, estetika gotik juga dapat digunakan lebih jauh sebagai bahasa komunikasi visual untuk menyampaikan kritik sosial sekaligus meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya menjaga lingkungan.

Isu keberlanjutan juga muncul dalam Noir Betta Form, koleksi ready-to-wear deluxe karya Jessica Vanessa Putri. Jessica mengambil inspirasi dari ikan cupang hitam yang dikenal mampu beradaptasi dengan berbagai kondisi tanpa kehilangan karakter khasnya. Bentuk tubuh, lapisan sirip, serta gerakannya diterjemahkan melalui fringe, layering, dan potongan asimetris.

Dominasi warna hitam digunakan untuk memperkuat kesan tegas sekaligus misterius. Jessica juga menggunakan material synthetic leather dengan detail strap dan corsetry, serta merancang busana dengan konsep adjustable sehingga dapat dikenakan dalam beberapa cara.

Pendekatan tersebut sekaligus menjadi upaya memanfaatkan deadstock, sehingga material yang sudah tersedia dapat kembali digunakan dalam rancangan baru. “Selain sebagai simbol kemampuan untuk terus beradaptasi tanpa kehilangan jati diri, pendekatan ini juga menjadi solusi dalam pemanfaatan deadstock,” ujar Jessica.

Sementara Starla Amanda Wannardi membawa gagasan tentang dualitas keindahan melalui koleksi couture kontemporer The Desired One: Desire, Devotion, Mortality di bawah brand Sanctum of Stars.

Koleksi tersebut terinspirasi dari atropa belladonna, tanaman yang memiliki penampilan menarik tetapi beracun. Kontras antara keindahan dan bahaya kemudian diterjemahkan melalui pendekatan Modern Gothic.

Menurut Starla, estetika gotik tidak hanya berkaitan dengan warna gelap, tetapi juga dapat menjadi cara untuk menggambarkan emosi, misteri, serta kekuatan perempuan. Tiga look dalam koleksinya masing-masing menggambarkan fase Desire, Devotion, dan Mortality.

Berbagai pendekatan tersebut menunjukkan bagaimana mahasiswa DFT UK Petra menggunakan fashion sebagai ruang eksperimentasi sekaligus komunikasi. Ada yang berangkat dari budaya, ada yang merespons persoalan konsumsi, lingkungan, kemampuan beradaptasi, hingga relasi antara keindahan dan bahaya.

Selain 21 karya tugas akhir mahasiswa DFT angkatan 2022, Innofashion Show 8 juga menampilkan 24 karya mahasiswa DFT angkatan 2023 dan 2024. Khusus malam Fashion Show, karya-karya tersebut ditampilkan pada Jumat (14/8) pukul 16.00–22.00 WIB di Oval Atrium Ciputra World Surabaya.

Melalui Innofashion Show 8, tugas akhir mahasiswa tidak hanya menjadi bagian dari proses akademis. Karya-karya tersebut memperlihatkan bagaimana fashion dapat menjadi bahasa visual untuk membicarakan persoalan yang lebih luas—dari warisan budaya hingga kondisi lingkungan dan dinamika sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat. (feb, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *