NasionalPeristiwa

IDSurvey Perkuat Pencegahan Stunting Berbasis Keluarga dan Komunitas di Bidara Cina

92
×

IDSurvey Perkuat Pencegahan Stunting Berbasis Keluarga dan Komunitas di Bidara Cina

Sebarkan artikel ini

JAKARTA (Suarapubliknews) ~ Upaya pencegahan stunting tidak cukup dilakukan melalui pemberian makanan tambahan, tetapi membutuhkan pendampingan keluarga dan keterlibatan masyarakat secara berkelanjutan.

Pendekatan tersebut diterapkan PT Inspeksi Sertifikasi dan Surveyor Indonesia (Persero) atau IDSurvey melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) “Bidara Cina Tangguh: Pencegahan dan Penurunan Risiko Stunting” di Kelurahan Bidara Cina, Jakarta.

Program yang dimulai sejak Juli 2026 tersebut melibatkan keluarga sasaran, kader Posyandu dan PKK, serta pemangku kepentingan di tingkat kelurahan. IDSurvey menggunakan pendekatan berbasis keluarga dan komunitas untuk mendukung pencegahan sekaligus menurunkan risiko stunting di wilayah binaannya.

Stunting masih menjadi persoalan dalam pembangunan sumber daya manusia karena dampaknya dapat berkaitan dengan pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, kesehatan, produktivitas, hingga kualitas hidup anak di masa mendatang.

Berdasarkan pemetaan awal di wilayah binaan IDSurvey di Kelurahan Bidara Cina, masih ditemukan balita dengan kondisi stunting yang membutuhkan perhatian dan pendampingan lebih lanjut. Karena itu, program dirancang tidak hanya untuk memberikan intervensi kepada anak, tetapi juga memperkuat kemampuan keluarga dan kader dalam melakukan pemantauan serta pencegahan.

Tahap awal program dilakukan melalui pilot intervensi pada 14 Juli hingga 10 Agustus 2026. Sejumlah kegiatan dilakukan, mulai dari koordinasi dengan Kelurahan Bidara Cina dan pemangku kepentingan, stakeholder engagement, baseline assessment, pemetaan keluarga sasaran dan kader, hingga kunjungan rumah kepada keluarga yang memiliki anak stunting.

Dari fase tersebut, IDSurvey mengidentifikasi 10 balita dengan kondisi stunting dan menetapkan 16 kader pendamping yang berasal dari Posyandu dan PKK Kelurahan Bidara Cina.

Para kader tersebut nantinya berperan dalam mendampingi keluarga sasaran, terutama melalui edukasi dan pemantauan secara berkelanjutan. Dengan demikian, pendampingan tidak hanya bergantung pada intervensi dari perusahaan, tetapi juga melibatkan sumber daya masyarakat yang berada dekat dengan keluarga sasaran.

Memasuki fase kedua yang dimulai 10 Agustus 2026, program dilanjutkan dengan pemberian makanan tambahan (PMT), sekaligus pembekalan dan pendampingan bagi para kader. PMT selanjutnya akan diberikan setiap hari selama tiga bulan. Pemberian tersebut akan disertai edukasi kepada keluarga, home visit, serta pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak secara berkala.

Pendekatan ini diarahkan agar intervensi tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan dalam jangka pendek. Keluarga dan kader diharapkan memperoleh pengetahuan serta kemampuan yang dapat digunakan untuk melakukan pencegahan stunting secara lebih berkelanjutan.

Melalui “Bidara Cina Tangguh”, IDSurvey menempatkan keluarga dan komunitas sebagai bagian penting dalam upaya pencegahan stunting. Keterlibatan kader Posyandu dan PKK diharapkan dapat memperkuat hubungan antara keluarga sasaran dengan lingkungan masyarakat yang mendukung proses pemantauan anak.

Program tersebut juga menjadi bagian dari komitmen TJSL IDSurvey dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia dan peningkatan kualitas kesehatan masyarakat. IDSurvey mengaitkannya dengan agenda Asta Cita serta tujuan pembangunan berkelanjutan.

Bagi perusahaan, kontribusi sosial tidak hanya diwujudkan melalui pemberian bantuan, tetapi juga melalui proses pendampingan dan pemberdayaan. Pendekatan tersebut diharapkan dapat membangun ketahanan keluarga sekaligus mendorong terbentuknya sistem pencegahan stunting yang dapat terus berjalan di tingkat masyarakat.

Dengan melibatkan keluarga, kader, pemerintah kelurahan, dan pemangku kepentingan setempat, program “Bidara Cina Tangguh” diarahkan untuk membangun pola pendampingan yang lebih berkelanjutan. Target akhirnya bukan hanya membantu menangani kondisi yang sudah ada, tetapi memperkuat kemampuan masyarakat untuk mencegah risiko stunting sejak dari lingkungan keluarga. (feb, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *