Peristiwa

Belajar dari Mangkunegara X, UK Petra dan Ubaya Latih Pemimpin Kampus Hadapi Ketidakpastian

64
×

Belajar dari Mangkunegara X, UK Petra dan Ubaya Latih Pemimpin Kampus Hadapi Ketidakpastian

Sebarkan artikel ini

SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Tantangan perguruan tinggi tidak lagi hanya berkaitan dengan perkembangan teknologi, tetapi juga kemampuan pemimpin institusi untuk beradaptasi, menjaga keberlanjutan, dan tetap berpegang pada nilai serta karakter bangsa.

Persoalan tersebut menjadi salah satu fokus National Multiplication Training (NMT) LEAP 2026 yang digelar Universitas Kristen (UK) Petra bersama Universitas Surabaya (Ubaya). Setelah tahap pertama berlangsung di Surabaya pada Maret lalu, tahap kedua program tersebut digelar di Solo pada 10–13 Agustus 2026 dengan mempertemukan 25 pimpinan perguruan tinggi terpilih dari berbagai wilayah Indonesia.

Berbeda dari tahap sebelumnya yang berfokus pada konsep kepemimpinan dan penyusunan Project Action Plan (PAP), tahap kedua diarahkan pada bagaimana rencana tersebut dapat dieksekusi. Peserta juga mendalami kolaborasi strategis, keberlanjutan, ketahanan finansial, manajemen konflik, serta kepemimpinan adaptif di tengah ketidakpastian.

Salah satu agenda yang menarik perhatian adalah pembelajaran langsung dari Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara X melalui tema “Membangun Generasi Emas: Berakar pada Tradisi, Melangkah Maju dengan Inovasi Pendidikan.”

Dalam sesi tersebut, peserta diajak melihat bagaimana nilai tradisi dan inovasi dapat berjalan beriringan. Mangkunegara X membagikan pengalaman dalam merawat sekaligus merevitalisasi Mangkunegaran, mempertahankan nilai tradisi dan identitas budaya, sembari membuka ruang bagi generasi muda seperti Gen Z dan Gen Alpha.

Head of Committee NMT LEAP 2026, Josua Tarigan, mengatakan perguruan tinggi perlu mampu beradaptasi terhadap perubahan tanpa kehilangan akar nilai yang menjadi bagian dari karakter bangsa.

“Pendidikan tinggi di Indonesia tidak hanya dituntut adaptif terhadap perkembangan teknologi modern seperti AI, tetapi juga harus berakar kuat pada nilai tradisi dan karakter bangsa. Pembelajaran langsung dari kepemimpinan Mangkunegara X menjadi inspirasi nyata bagaimana tradisi dan inovasi dapat berjalan berdampingan,” ungkapnya.

Selain pembelajaran kepemimpinan, peserta juga mengikuti peer consulting dan mendokumentasikan pengalaman kepemimpinan mereka dalam sebuah buku ber-ISBN. Pendekatan tersebut diharapkan tidak berhenti pada pembelajaran selama program, tetapi dapat diterjemahkan menjadi perubahan konkret di institusi masing-masing.

Tantangan perguruan tinggi juga dibahas dari sisi pengelolaan keuangan. Wakil Rektor I Ubaya sekaligus komite acara, Prof. Dr.rer.nat. Maria Goretti Marianti Purwanto, membawakan materi “Financial Empowerment: Mastering Management in Uncertain Times.”

Menurut Maria, ketahanan dan fleksibilitas keuangan menjadi salah satu faktor penting bagi Perguruan Tinggi Swasta (PTS) untuk menjaga keberlanjutan di tengah lanskap pendidikan yang terus berubah.

Pembahasan mencakup diversifikasi sumber pendapatan, efisiensi alokasi sumber daya berdasarkan prioritas strategis, serta integrasi manajemen risiko finansial dalam pengambilan keputusan akademik.

“Manajemen keuangan perguruan tinggi tidak boleh lagi dipandang sekadar sebagai fungsi administratif keuangan semata, melainkan sebagai alat strategis (strategic empowerment) untuk mendukung inovasi pembelajaran, riset, dan pengembangan mutu institusi jangka panjang,” ujarnya.

NMT LEAP 2026 sendiri digawangi oleh pakar lintas disiplin dari UK Petra dan Ubaya, yakni Josua Tarigan, Vido Iskandar, Leenawaty Limantara, serta Maria Goretti Marianti. Program ini dirancang untuk memperkuat kapasitas kepemimpinan perguruan tinggi sekaligus membangun jejaring kolaborasi antarinstitusi di tingkat nasional maupun internasional.

Program NMT LEAP 2026 mendapat dukungan German Academic Exchange Service (DAAD) melalui inisiatif Dialogue on Innovative Higher Education Strategies (DIES), yang merupakan kerja sama DAAD dengan Kementerian Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan Federal Jerman (BMZ). Program ini juga mendapat dukungan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Ditjen Diktiristek) Kemendikbudristek RI.

Melalui rangkaian tersebut, kepemimpinan perguruan tinggi ditempatkan bukan hanya sebagai kemampuan mengelola institusi, tetapi juga sebagai kemampuan membaca perubahan, menjaga keberlanjutan, dan menerjemahkan nilai yang dimiliki menjadi inovasi yang relevan bagi generasi berikutnya. (feb, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *