Peristiwa

Mahasiswa ITS Rancang Mesin Penjual Pembalut Otomatis untuk Akses Sanitasi di Ruang Publik

54
×

Mahasiswa ITS Rancang Mesin Penjual Pembalut Otomatis untuk Akses Sanitasi di Ruang Publik

Sebarkan artikel ini

SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Akses terhadap produk sanitasi perempuan di ruang publik masih menghadapi persoalan, mulai dari ketersediaan produk hingga privasi saat melakukan pembelian. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan Sanitary on The Go (SOTG), mesin penjual pembalut otomatis yang memadukan otomasi dan teknologi digital.

Salah satu anggota tim pengembang, Muhammad Fikri Kusumadinata, mengatakan gagasan SOTG berangkat dari kebutuhan akan akses produk sanitasi yang lebih cepat dan mudah dijangkau di ruang publik.

“Melalui SOTG, kami menghadirkan sistem yang mempermudah pembelian produk sanitasi tanpa mengabaikan privasi,” tutur mahasiswa Departemen Teknik Elektro Otomasi (DTEO), Fakultas Vokasi ITS itu.

SOTG dirancang sebagai mesin penjual pembalut otomatis berbasis Internet of Things (IoT). Pengguna dapat memilih produk melalui layar sentuh dan melakukan pembayaran secara non-tunai.

Menurut Fikri, mekanisme tersebut dirancang sederhana agar pengguna dapat memperoleh produk dalam waktu singkat, sekaligus mengurangi persoalan privasi yang mungkin muncul ketika membeli produk sanitasi secara langsung.

Dari sisi teknologi, SOTG menggunakan arsitektur yang menghubungkan antarmuka pengguna, server lokal, layanan cloud, dan perangkat keras fisik. Seluruh bagian tersebut bekerja secara terintegrasi sehingga data transaksi, ketersediaan stok, hingga kondisi mesin dapat dipantau dari jarak jauh.

Hasil pengujian menunjukkan sistem mampu menjalankan proses pendistribusian produk secara relatif stabil. Waktu pengeluaran produk berlangsung dalam hitungan detik dengan tingkat konsistensi yang baik. Komunikasi data antarsubsistem juga tercatat memiliki latensi rendah.

Kemampuan pemantauan jarak jauh tersebut menjadi salah satu aspek penting dalam pengoperasian mesin. Pengelola dapat mengetahui kondisi stok maupun perangkat tanpa harus melakukan pengecekan secara langsung setiap saat.

Tim mahasiswa ITS melihat SOTG memiliki peluang penerapan di berbagai lokasi, terutama lingkungan pendidikan, fasilitas umum, dan kawasan perkantoran yang memiliki tingkat mobilitas tinggi. “Kehadiran mesin tersebut dapat membantu menyediakan akses produk sanitasi pembalut secara lebih mudah. Terutama pada lokasi yang memiliki mobilitas tinggi,” imbuhnya.

Ke depan, tim berharap SOTG dapat terus dikembangkan dengan fitur yang lebih adaptif sebelum diterapkan secara lebih luas. Inovasi tersebut juga dinilai sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera serta tujuan ke-9 mengenai industri, inovasi, dan infrastruktur.

Pengembangan SOTG menunjukkan bahwa persoalan akses sanitasi di ruang publik dapat dijawab tidak hanya melalui penyediaan produk, tetapi juga dengan merancang sistem distribusi yang mempertimbangkan kemudahan, kecepatan, privasi, dan pemanfaatan teknologi. (feb,  tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *