Peristiwa

Mahasiswa ITS Raih Juara 3 Pilmapres Nasional lewat Teknologi Pengering Tembakau

76
×

Mahasiswa ITS Raih Juara 3 Pilmapres Nasional lewat Teknologi Pengering Tembakau

Sebarkan artikel ini

SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Persoalan pengeringan tembakau yang masih bergantung pada cuaca mendorong mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan teknologi pengeringan otomatis. Inovasi bernama AutoDry Boost tersebut mengantarkan Ishmatu Aulia Rizky Kirana, mahasiswa Departemen Teknik Instrumentasi ITS, meraih Juara 3 Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Nasional tingkat Diploma.

AutoDry Boost dikembangkan untuk menjawab persoalan yang dihadapi petani tembakau di Desa Sumberagung, Tuban. Selama ini, proses pengeringan masih mengandalkan metode konvensional sun & curing yang sangat bergantung pada sinar matahari.

Menurut Aulia, metode tersebut membutuhkan waktu sekitar 6–12 hari dan membuat proses pascapanen rentan terhadap perubahan cuaca. Kondisi itu berpengaruh terhadap konsistensi mutu tembakau sekaligus berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi hingga 30 persen. “Padahal, produksi tembakau di Indonesia tergolong tinggi, mencapai 238.800 ton pada tahun 2023 berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS),” jelasnya.

AutoDry Boost menggunakan teknologi hot air drying yang dilengkapi sistem kontrol otomatis. Perangkat tersebut terdiri dari blower heater untuk mendistribusikan udara panas secara merata, panel box control, serta tiga unit exhaust fan.

Daun tembakau segar ditempatkan pada tray di dalam drying chamber dengan kapasitas total hingga 100 kilogram. Sistem juga dilengkapi sensor RTD PT-100 untuk menjaga suhu pada rentang optimum 69–71 derajat Celsius melalui mekanisme on-off control.

Selain mengontrol suhu, AutoDry Boost menggunakan sensor load cell untuk memantau penurunan massa tembakau. Data tersebut digunakan untuk memperkirakan penurunan kadar air hingga mencapai kondisi yang dianggap optimal.

Teknologi tersebut membuat waktu pengeringan dapat dipangkas secara signifikan. Jika metode konvensional membutuhkan hampir sepekan atau lebih, AutoDry Boost dirancang mampu mengeringkan 100kilogram tembakau dalam 2–3 jam. Selain lebih cepat, perangkat ini dirancang tahan terhadap berbagai kondisi cuaca, hemat ruang, terjangkau, dan relatif mudah dioperasikan oleh petani.

Dari sisi ekonomi, penggunaan AutoDry Boost diproyeksikan mampu menekan biaya operasional hingga 54,8 persen. Sistem tersebut juga diperkirakan dapat mengurangi limbah tembakau yang membusuk setiap panen sekitar 30 persen.

Peningkatan efisiensi pengeringan turut membuka peluang peningkatan kapasitas produksi. Aulia menyebut kapasitas produksi dapat meningkat dari sekitar 1,5ton menjadi 4 ton per musim. Dampaknya diharapkan berlanjut pada peningkatan pendapatan bersih petani dan kapasitas penjualan tembakau kering.

Meski demikian, Aulia menyadari penerapan teknologi tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan. Adaptasi petani terhadap teknologi modern, kebutuhan modal investasi awal, serta ketergantungan sistem terhadap energi fosil menjadi beberapa hal yang perlu diselesaikan.

Untuk itu, tim menawarkan pelatihan dan pendampingan teknis pengoperasian alat secara berkala. Mereka juga merancang skema pembiayaan kolaboratif bersama pemerintah desa agar teknologi dapat lebih mudah diadopsi.

Pengembangan AutoDry Boost tidak berhenti pada sistem yang ada saat ini. Aulia telah menyusun peta jalan pengembangan secara bertahap. Pada 2026, pengembangan diarahkan pada substitusi energi fosil dengan energi terbarukan serta penambahan sensor load cell pada setiap nampan.

Tahun berikutnya, sistem akan diarahkan untuk menyesuaikan standar mutu kadar air pada komoditas pertanian lain. Sementara pada 2028, inovasi tersebut ditargetkan dapat direplikasi secara lebih terstruktur ke wilayah-wilayah sentra pascapanen lainnya.

Bagi Aulia, penghargaan Juara 3 Pilmapres Nasional tingkat Diploma menjadi pengakuan atas inovasi yang tidak hanya berorientasi pada teknologi, tetapi juga mencoba menjawab persoalan nyata di tingkat petani.

AutoDry Boost sendiri diarahkan untuk mendukung peningkatan kualitas proses pascapanen sekaligus pencapaian SDGs, khususnya tujuan ke-8 mengenai pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi serta tujuan ke-12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab. (feb, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *