Peristiwa

ITS Pertimbangkan Cara Mengabadikan Warisan Prof. Johan Silas

73
×

ITS Pertimbangkan Cara Mengabadikan Warisan Prof. Johan Silas

Sebarkan artikel ini

SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya kehilangan salah satu tokoh arsitektur terbesarnya, Prof. Johan Silas. Kepergian akademisi yang dikenal luas di tingkat nasional maupun internasional itu meninggalkan duka mendalam bagi sivitas akademika ITS.

Penghormatan terakhir kepada Guru Besar Departemen Arsitektur ITS tersebut digelar di Plaza dr. Angka, Kompleks Kampus ITS, Surabaya, Sabtu (13/6/2026). Prof. Johan Silas wafat pada usia 90 tahun setelah puluhan tahun mendedikasikan hidupnya untuk dunia pendidikan, arsitektur, dan pengembangan permukiman berbasis masyarakat.

Rektor ITS, Prof. Bambang Pramujati, mengatakan Prof. Johan Silas bukan hanya seorang guru besar, tetapi juga sosok humanis yang selama ini menjadi teladan bagi banyak kalangan. “Bagi ITS, ini merupakan kehilangan yang besar. Beliau adalah salah satu tokoh arsitektur yang dikenal secara nasional maupun internasional, sekaligus sosok guru dan teladan bagi kami semua,” ujarnya usai upacara pelepasan jenazah Prof. Johan Silas.

Menurut Bambang, ITS tidak hanya kehilangan seorang akademisi, tetapi juga sosok yang pemikiran dan pengabdiannya telah memberikan kontribusi besar bagi perkembangan ilmu arsitektur dan perencanaan kota di Indonesia.

Meski demikian, ia meyakini warisan pemikiran dan karya Prof. Johan Silas akan terus hidup di lingkungan kampus. “Kita kehilangan guru besar, tetapi sesungguhnya kita tidak kehilangan Prof. Johan Silas. Karya-karya, keteladanan, dan pemikiran beliau akan selalu ada di hati kami dan menjadi inspirasi bagi ITS,” katanya.

Terkait upaya mengenang jasa almarhum, ITS mengaku tengah mempertimbangkan berbagai alternatif untuk mengabadikan nama dan pemikiran Prof. Johan Silas. Menurut Bambang, kampus memiliki tradisi menggunakan nama sejumlah tokoh untuk fasilitas maupun gedung tertentu. Namun hingga saat ini belum ada keputusan khusus terkait bentuk penghormatan yang akan diberikan kepada Prof. Johan Silas.

“Kami akan mencari alternatif terbaik agar nama Prof. Johan Silas selalu dikenang di ITS dan menjadi pengingat bagi kami bahwa pernah ada sosok yang luar biasa terkenal, tetapi juga sangat sederhana dan rendah hati,” jelasnya.

Selain itu, ITS juga berencana berdiskusi dengan keluarga terkait berbagai karya dan koleksi buku peninggalan Prof. Johan Silas yang masih tersimpan di kediamannya. “Keluarga menyampaikan masih banyak buku dan karya beliau. Nanti akan kami diskusikan bersama keluarga, apakah tetap berada di rumah beliau dan dimanfaatkan sebagai ruang diskusi, atau ditempatkan di perpustakaan ITS sehingga dapat diakses lebih luas,” ungkapnya.

Prof. Johan Silas dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam pengembangan arsitektur dan perencanaan kota berbasis masyarakat di Indonesia. Guru Besar Departemen Arsitektur ITS tersebut merupakan pendiri Laboratorium Permukiman ITS yang selama bertahun-tahun menjadi pusat pengembangan kajian permukiman dan tata ruang perkotaan.

Selain dikenal sebagai akademisi, Prof. Johan Silas juga merupakan pelopor konsep permukiman berbasis masyarakat yang memperjuangkan hak masyarakat berpenghasilan rendah untuk memperoleh hunian yang layak. Pemikiran-pemikirannya banyak menjadi rujukan dalam pembangunan kampung kota yang lebih manusiawi dan berkelanjutan.

Kontribusinya tidak hanya dirasakan di Surabaya, tetapi juga di berbagai daerah di Indonesia melalui berbagai penelitian, pendampingan masyarakat, serta gagasan tentang pembangunan kota yang menempatkan manusia sebagai pusat perencanaan.

Bagi ITS, warisan terbesar yang ditinggalkan Prof. Johan Silas bukan hanya karya-karya akademik maupun gagasan tentang arsitektur kerakyatan, tetapi juga keteladanan seorang pendidik yang mengabdikan hidupnya untuk ilmu pengetahuan, kemanusiaan, dan pemberdayaan masyarakat. Warisan tersebut diyakini akan terus hidup dan menginspirasi generasi penerus di lingkungan ITS maupun dunia arsitektur Indonesia. (feb, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *