NasionalPeristiwa

Jasa Marga Percepat Akses Bokoharjo Tol Jogja-Solo, Bidik Fungsional Nataru 2026/2027

97
×

Jasa Marga Percepat Akses Bokoharjo Tol Jogja-Solo, Bidik Fungsional Nataru 2026/2027

Sebarkan artikel ini

YOGYAKARTA (Suarapubliknews) ~ PT Jasa Marga (Persero) Tbk mempercepat pengembangan Akses Bokoharjo yang menghubungkan Exit Tol Purwomartani dengan wilayah selatan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Pengembangan akses tersebut ditujukan untuk memperkuat konektivitas sekaligus mengurangi konsentrasi arus lalu lintas di Jalan Adisutjipto.

Percepatan ini menjadi salah satu pembahasan dalam audiensi jajaran Direksi Jasa Marga dengan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X di Keraton Yogyakarta, Kamis (6/8). Dalam pertemuan tersebut, Jasa Marga juga melaporkan perkembangan pembangunan Jalan Tol Jogja-Solo dan Jalan Tol Jogja-Bawen.

Direktur Utama Jasa Marga Rivan A. Purwantono mengatakan Akses Bokoharjo dipersiapkan untuk mendukung konektivitas menuju kawasan selatan DIY, termasuk Bantul dan sekitarnya. “Pengembangan akses ini kami lakukan agar distribusi lalu lintas tidak terpusat di Jalan Adisutjipto, sekaligus memperkuat konektivitas menuju wilayah selatan DIY seperti Bantul dan sekitarnya. Kami menargetkan akses ini dapat dipersiapkan untuk beroperasi fungsional dalam mendukung kelancaran arus Natal dan Tahun Baru 2026/2027 serta Lebaran 2027,” ujarnya.

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menyambut baik percepatan pembangunan infrastruktur tersebut. Ia menekankan pentingnya menjaga kualitas pekerjaan agar manfaat jalan tol dapat segera dirasakan masyarakat.

“Dari Jasa Marga menyampaikan laporan kemajuan pembangunan tol yang diharapkan bisa dipercepat, termasuk pembebasan lahan. Laporan sejauh ini tidak ada masalah. Yang terpenting bagi saya adalah kualitas pekerjaannya baik dan dapat segera dimanfaatkan oleh masyarakat,” katanya.

Berdasarkan data yang disampaikan Jasa Marga, progres fisik Jalan Tol Jogja-Solo Paket 1.2 Segmen Prambanan–Purwomartani sepanjang 11,48 kilometer telah mencapai 92,54 persen per 24 Juni 2026. Progres tersebut berada di atas target dengan deviasi positif 0,20 persen.

Sementara itu, pembangunan Jalan Tol Jogja-Bawen Seksi 6 Ruas Ambarawa–Bawen sepanjang 4,98 kilometer telah mencapai 98,68 persen per 3 Juli 2026 dan diproyeksikan mulai beroperasi pada akhir 2026.

Untuk Akses Bokoharjo, kesiapan lahan telah mencapai 99,38 persen per 1 Juli 2026. Setelah seluruh dokumen Rencana Teknik Akhir (RTA) rampung, proyek tersebut dinyatakan siap memasuki tahap pelaksanaan secara masif.

Akses Bokoharjo nantinya akan terintegrasi dengan Yogyakarta Outer Ring Road (YORR) 2 serta rute alternatif Prambanan–Gading. Selain berfungsi sebagai alternatif distribusi lalu lintas, akses ini juga diarahkan untuk mendukung mobilitas menuju sejumlah kawasan wisata di wilayah DIY.

Rivan mengatakan konektivitas tersebut berpotensi memberikan akses yang lebih mudah menuju sejumlah destinasi wisata di kawasan Prambanan dan sekitarnya. “Akses ini akan menjadi gerbang utama yang mempermudah mobilitas wisatawan menuju klaster destinasi favorit seperti Istana Ratu Boko, Candi Prambanan, hingga Tebing Breksi. Kami berharap kehadiran akses ini dapat menjadi pintu masuk tumbuhnya pusat-pusat ekonomi baru, sehingga sektor pariwisata Yogyakarta dan Gunungkidul berkembang secara berkelanjutan,” ujarnya.

Penguatan konektivitas juga dibahas dalam kunjungan kerja jajaran Direksi Jasa Marga ke Gerbang Tol Purwomartani bersama Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih dan jajaran Pemerintah Kabupaten Gunungkidul.

Endah berharap pengembangan akses tersebut nantinya tidak berhenti di Bokoharjo, tetapi dapat terus terhubung hingga Gunungkidul. Menurutnya, konektivitas yang lebih baik dapat mempercepat akses wisatawan menuju berbagai destinasi sekaligus membuka peluang investasi dan aktivitas ekonomi baru.

“Kami berharap konektivitas ini tidak berhenti di Bokoharjo, tetapi terus terhubung hingga Kabupaten Gunungkidul. Dengan akses yang semakin baik, wisatawan dapat menjangkau destinasi unggulan kami lebih cepat tanpa harus melewati kepadatan di pusat Kota Yogyakarta. Ini tentu berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi masyarakat,” katanya.

Sinergi antara Jasa Marga, Pemerintah DIY, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, dan pemerintah pusat diharapkan dapat memperkuat jaringan konektivitas menuju kawasan wisata sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Pengembangan infrastruktur tersebut juga diarahkan untuk membuka peluang bagi pariwisata, UMKM, investasi, serta pemerataan aktivitas ekonomi di wilayah DIY. (feb, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *