Peristiwa

JCFF 2026 Buka Peluang Ekspor Kopi Indonesia, Buyer Timur Tengah Lirik Arabika Ijen

53
×

JCFF 2026 Buka Peluang Ekspor Kopi Indonesia, Buyer Timur Tengah Lirik Arabika Ijen

Sebarkan artikel ini

SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Gelaran Java Coffee & Flavors Fest (JCFF) 2026 yang diselenggarakan Bank Indonesia (BI) menjadi ajang strategis mempertemukan pelaku usaha kopi nasional dengan pembeli dari berbagai negara. Melalui kegiatan business matching, Bank Indonesia mendorong perluasan pasar ekspor sekaligus memperkuat daya saing UMKM kopi Indonesia di pasar global.

Export Expert sekaligus Founder Akademi Mudah Ekspor, Dr (c) Ir. Fernanda Reza Muhammad, M.M., mengatakan business matching merupakan upaya mempertemukan pelaku usaha dengan calon pembeli secara langsung sehingga peluang transaksi dapat tercipta lebih cepat.

Menurutnya, kegiatan tersebut melibatkan 18 Kantor Perwakilan Bank Indonesia dari berbagai daerah yang membawa produk unggulan masing-masing untuk dipromosikan kepada pasar internasional.

“Business matching ini menjadi jembatan agar UMKM tidak hanya memamerkan produknya, tetapi juga memperoleh peluang transaksi secara langsung dengan buyer potensial,” ujarnya di sela penyelenggaraan JCFF 2026 di Surabaya.

Fernanda menjelaskan, meski festival mengusung tema kopi se-Jawa, kegiatan tersebut juga melibatkan pelaku usaha dari berbagai wilayah Indonesia, seperti Sumatera, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Papua, hingga Maluku.

Sebanyak 50 UMKM mengikuti pameran produk (showcase), sedangkan total pelaku usaha yang mengikuti rangkaian business matching, baik secara luring maupun daring, mencapai 85 UMKM.

Selain kopi Arabika, Robusta, dan Liberika, berbagai produk teh serta rempah-rempah turut diperkenalkan kepada para pembeli internasional yang berasal dari Prancis, Nigeria, Yordania, Australia, Singapura, Malaysia, dan China.

Menurut Fernanda, tingginya minat pasar global terhadap kopi Indonesia harus diimbangi dengan kemampuan pelaku usaha dalam menjaga kualitas dan kontinuitas pasokan. “Permintaan di luar negeri sangat tinggi, namun buyer mencari mitra yang mampu menjaga konsistensi volume. Karena itu kami mengedukasi UMKM agar mampu memenuhi komitmen kuantitas maupun kualitas sehingga reputasi perdagangan Indonesia tetap terjaga,” katanya.

Ia mengungkapkan, tantangan industri kopi saat ini adalah menurunnya produksi akibat perubahan iklim yang terjadi di berbagai negara penghasil kopi, termasuk Indonesia. Kondisi tersebut menyebabkan pasokan berkurang sementara permintaan dunia terus meningkat sehingga harga kopi mengalami kenaikan dalam dua tahun terakhir.

Di sisi lain, peluang pasar justru semakin terbuka. Hal itu terlihat dari tingginya antusiasme buyer internasional yang hadir dalam business matching, salah satunya berasal dari Yordania.

Perwakilan PT LaTansa Adiguna Perkasa, Muhammad Ramadhan BA., MA., PhD, mengatakan pasar kopi di Yordania selama ini masih didominasi produk asal Brasil dan Vietnam. Namun, dalam beberapa tahun terakhir kopi Indonesia mulai mendapat perhatian dari pelaku industri kopi di negara tersebut.

“Kami berterima kasih kepada Bank Indonesia karena melalui JCFF kami dapat bertemu langsung dengan para supplier, berdiskusi mengenai kualitas produk, hingga melakukan negosiasi harga dalam satu forum,” ujarnya.

Ramadhan yang telah menetap di Yordania selama 12 tahun mengungkapkan bahwa Kopi Sumatra sebenarnya sudah dikenal di negaranya. Nama kopi asal Indonesia tersebut bahkan telah tercantum pada berbagai kemasan produk kopi yang dipasarkan di sejumlah roastery maupun jaringan kedai kopi internasional.

Dalam kesempatan itu, ia juga menemukan potensi baru dari kopi Indonesia. Salah satu sampel yang menarik perhatian adalah kopi Arabika natural dari Ijen Lestari, yang dinilai memiliki karakter rasa sesuai dengan preferensi pasar Timur Tengah.

Sebagai tindak lanjut, pihaknya telah menandatangani Letter of Intent (LoI) dengan sejumlah pemasok kopi Indonesia untuk melakukan trial order dengan volume awal sekitar 500 kilogram hingga satu ton.

Menurut Ramadhan, pengiriman perdana tersebut akan menjadi tahap pengenalan produk kepada pelaku industri kopi di Yordania. Jika mendapat respons positif, kerja sama diharapkan berkembang menjadi ekspor berkelanjutan dengan volume yang lebih besar. “Kami berharap kerja sama ini tidak hanya memenuhi kebutuhan pasar Yordania, tetapi juga menjadi pintu masuk kopi Indonesia ke negara-negara lain di kawasan Timur Tengah,” katanya.

Fernanda menambahkan, selain memperluas akses pasar, Bank Indonesia juga terus memberikan pendampingan kepada UMKM mulai dari penyediaan sarana produksi, pengemasan, fasilitasi pembiayaan, hingga membuka akses perdagangan internasional melalui berbagai kementerian dan mitra luar negeri.

Ia juga mendorong penguatan sektor hulu dengan memperluas areal tanam kopi melalui pemanfaatan lahan kosong maupun sistem tumpang sari agar Indonesia mampu memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat.

“Permintaan kopi dunia terus bertambah. Ini menjadi momentum bagi Indonesia untuk meningkatkan produksi sekaligus memperkuat posisi sebagai salah satu negara pemasok kopi berkualitas di pasar global,” pungkasnya. (feb, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *