OJK Kinerja BPR/BPRS Semester II 2020 Tetap Tumbuh

SURABAYA (Suarapubliknews) – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kantor Regional 4 Jawa Timur, menggelar acara Evaluasi Kinerja BPR/BPRS Semester II Tahun 2020 secara virtual. Acara bertujuan menyampaikan informasi perkembangan industri BPR/BPRS selama periode tahun 2020     serta isu strategis lainnya dalam rangka peningkatan peran dalam mengembangkan perekonomian di masa pandemi Covid-19.

Kepala OJK Kantor Regional 4 Jawa Timur, Bambang Mukti Riyadi mengatakan industri perbankan menghadapi tantangan perekonomian Indonesia ke depan ditengah ketidakpastian ekonomi global karena adanya Pandemi Covid-19.

Kebijakan pemerintah yang melakukan pembatasan sosial, termasuk menutup pusat-pusat perbelanjaan dan menghentikan operasional beberapa moda transportasi serta sikap masyarakat yang mengurangi kegiatan di luar rumah, mengakibatkan konsumsi masyarakat turun tajam.

“Berhentinya kegiatan bisnis tidak hanya menurunkan pendapatan masyarakat, tetapi juga meningkatkan jumlah pengangguran dan angka kemiskinan. Pandemi juga telah mengakibatkan investasi dan kegiatan produksi melambat, baik akibat turunnya permintaan, berkurangnya partisipasi tenaga kerja, dan terganggunya supply chain,” katanya.

Proses pemulihan ekonomi mulai terjadi pada semester kedua setelah tingkat kepercayaan investor meningkat sejalan dengan bergeraknya kembali perekonomian pasca pelonggaran pembatasan sosial. Kondisi tersebut diharapkan mampu meningkatkan optimisme khususnya bagi industri  BPR/BPRS  untuk  tetap  dapat  tumbuh  dan  berkinerja  baik,  tercermin  dari  pertumbuhan kredit 2,22% (yoy) lebih tinggi dibandingkan perbankan Jawa Timur dan Nasional.

Direktur Pengawasan LJK 1, Triyoga Laksito menyampaikan  secara  umum BPR/BPRS Jawa  Timur  sejauh  ini  dapat bertahan, terlihat kondisi likuiditas yang cukup dan penghimpunan DPK serta penyaluran kredit yang masih menunjukan pertumbuhan positif, masing-masing sebesar 3,42% dan 2,22%, meskipun pertumbuhannya lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

“Rasio kredit atau pembiayaan bermasalah yang ditunjukan dari rasio NPL atau NPF, sedikit meningkat dari rasio tahun sebelumnya yaitu dari 8,13% menjadi 9,45%. Harapannya dengan adanya kebijakan restrukturisasi kredit terdampak COVID-19, BPR/BPRS diharapkan dapat secara tepat mengidentifikasi kredit yang layak untuk diberikan restrukturisasi,” katanya.

Sektor ekonomi yang dapat bertahan pada kondisi pandemi adalah sektor ekonomi kesehatan, makanan dan minuman serta perdagangan berbasis TI. Selain itu, optimisme terjadinya pemulihan ekonomi di sektor riil juga terlihat dari adanya modifikasi pola pemasaran produk seperti pemasaran door to door dengan promosi yang menarik.

Menurut OJK, Isu strategis lainnya yang dihadapi BPR/BPRS yaitu kompetisi dengan perusahaan keuangan lainnya seperti Fintech, Lembaga Keuangan Mikro (LKM), serta layanan LAKU PANDAI sehingga BPR/BPRS harus selalu tangkas/cekatan, adaptif dan kreatif untuk menemukan solusi dan peluang yang ada di balik tantangan tersebut.

Agar dapat bersaing, OJK mendorong agar BPR/BPRS dapat melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak, diantaranya  berkolaborasi dengan Fintech peer to peer landing, dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian. Regulasi dan panduan dalam rangka kolaborasi tersebut segera akan diterbitkan sehingga diharapkan BPR/BPRS mempersiapkan secara internal.

Acara ini dihadiri  oleh  pengurus  BPR/BPRS  di bawah pengawasan Kantor  OJK  Regional  4  Jawa  Timur  yang Acara evaluasi kinerja ini juga  dirangkai  dengan  kegiatan  capacity  building  kepada  Pengurus  BPR/BPRS  yang  disampaikan oleh Dahlan Iskan mengenai Outlook Perekonomian tahun 2021 di Indonesia, strategi meningkatkan peran BPR/BPRS untuk  mengembangkan perekonomian Jawa  Timur. (q cox, tama dinie)

Reply