Peristiwa

Profesor ITS Kembangkan Teknologi Energi Surya Terintegrasi untuk Tingkatkan Efisiensi Listrik

104
×

Profesor ITS Kembangkan Teknologi Energi Surya Terintegrasi untuk Tingkatkan Efisiensi Listrik

Sebarkan artikel ini

SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Kemandirian energi menjadi salah satu tantangan yang dihadapi Indonesia di tengah meningkatnya kebutuhan listrik nasional dan percepatan transisi menuju energi bersih. Menjawab tantangan tersebut, Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof. Dr. Ir. Bambang Arip Dwiyantoro ST MEng IPM ASEAN Eng, mengembangkan konsep Integrated Sustainable Solar Energy System, yakni teknologi energi surya terintegrasi yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi pembangkitan listrik secara berkelanjutan.

Dalam orasi ilmiah bertajuk Optimalisasi Teknologi Panel Surya dan Solar Chimney untuk Mendukung Kemandirian Energi, Bambang menjelaskan bahwa pengembangan energi terbarukan tidak hanya berorientasi pada penciptaan teknologi baru, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang bagi masa depan Indonesia. “Pengembangan energi terbarukan tidak sekadar menghadirkan teknologi baru, tetapi juga menjadi investasi bagi masa depan bangsa,” ujarnya.

Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah Solar Chimney Power Plant (SCPP), yaitu pembangkit listrik yang memanfaatkan panas matahari untuk menghasilkan aliran udara alami guna memutar turbin. Melalui pendekatan eksperimen dan simulasi Computational Fluid Dynamics (CFD), Bambang mengoptimalkan desain absorber serta geometri cerobong sehingga mampu meningkatkan performa sistem secara signifikan.

Hasil penelitian menunjukkan konfigurasi tersebut mampu meningkatkan daya listrik hingga lebih dari 750 persen dibandingkan model standar. Menurut Bambang, capaian itu membuktikan peningkatan efisiensi pembangkit tidak selalu bergantung pada ukuran sistem, melainkan dapat dicapai melalui inovasi rekayasa desain yang lebih efektif. “Pendekatan ini membuka peluang penerapan pembangkit listrik tenaga surya yang sederhana, ekonomis, dan sesuai dengan kondisi wilayah Indonesia,” katanya.

Selain mengembangkan Solar Chimney, Bambang juga merancang sistem pendingin pasif panel surya berbasis limbah biomassa berupa serat kelapa sawit dan ampas tebu. Pemanfaatan limbah pertanian tersebut mampu menjaga temperatur panel tetap optimal tanpa tambahan konsumsi energi listrik, sekaligus meningkatkan nilai guna limbah melalui konsep circular economy.

Inovasi lainnya meliputi pengembangan teknologi solar tracking pada pembangkit listrik tenaga surya terapung serta sistem PLTS hibrida berbasis Energy Management System (EMS). Seluruh pengembangan tersebut kemudian diintegrasikan dalam konsep Integrated Sustainable Solar Energy System, yang menggabungkan peningkatan efisiensi panel surya, penyimpanan energi, hingga pengelolaan distribusi daya dalam satu sistem berkelanjutan.

Ke depan, Guru Besar Bidang Energi Terbarukan ITS tersebut akan melanjutkan pengembangan teknologi Solar Chimney melalui integrasi thermal energy storage, kecerdasan buatan (AI), serta desain pembangkit berskala lebih besar untuk meningkatkan efisiensi konversi energi. Ia berharap inovasi tersebut dapat mempercepat transisi menuju sistem energi yang lebih bersih, tangguh, dan berkelanjutan sekaligus memperkuat kemandirian energi Indonesia. (feb, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *