SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menorehkan prestasi internasional melalui inovasi energi terbarukan bernama Terang dan Angin (Terangin), sistem turbin angin dan surya yang dirancang untuk membantu petani mengatasi serangan hama secara lebih ramah lingkungan.
Inovasi tersebut berhasil masuk jajaran Top 6 dalam ajang Fowler Global Innovation Challenge 2026 yang digelar di San Diego University, Amerika Serikat, sekaligus meraih hadiah senilai 3.000 dolar AS.
Chief Executive Officer (CEO) sekaligus Founder Terangin, Muhammad Hanif, mengatakan ide pengembangan Terangin bermula dari keresahan petani terhadap ancaman hama yang kerap memicu gagal panen. “Awalnya riset untuk lomba, tetapi ketika ada yang membutuhkan dan ingin membeli, kami sadar perlu mendirikan sebuah PT sebagai legalitas,” ujarnya.
Terangin memanfaatkan sistem microgrid berbasis energi angin dan surya untuk mengoperasikan lampu jebakan hama secara otomatis di area pertanian. Inspirasi pengembangannya berasal dari potensi angin di Kabupaten Nganjuk yang dikenal sebagai sentra bawang merah di Jawa Timur.
Hanif menjelaskan sistem tersebut dirancang sederhana agar mudah digunakan petani tanpa bergantung pada teknologi yang rumit. Selain itu, Terangin juga menggunakan pondasi modular non permanen yang diklaim mampu menekan biaya hingga delapan kali lebih murah dibanding pondasi beton konvensional.
Desain tersebut memungkinkan turbin dapat dipindahkan atau dibongkar pasang sesuai kebutuhan lahan pertanian.
Salah satu keunggulan Terangin adalah penggunaan sistem rem otomatis bernama “remin” yang bekerja tanpa listrik maupun sensor tambahan.
Mekanisme tersebut memanfaatkan gaya dorong angin untuk memperlambat putaran turbin secara otomatis sehingga lebih hemat energi dan minim perawatan. “Rem yang kami rancang tidak memerlukan listrik, lebih murah, dan sepenuhnya otomatis dibandingkan sistem lain yang membutuhkan pemantauan rutin,” katanya.
Tim juga memanfaatkan teknologi drone untuk membantu proses pemantauan dan maintenance turbin di area pertanian yang luas.
Mahasiswa Teknik Mesin ITS angkatan 2024 itu menyebut sistem Terangin mampu menghasilkan energi sekitar 2,1 kWh per hari. Energi tersebut tidak hanya digunakan untuk lampu jebakan hama, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk irigasi dan sprinkler pertanian.
Penggunaan sistem ini memungkinkan petani mengurangi penggunaan pestisida secara signifikan sekaligus meningkatkan hasil panen. “Penggunaan sistem ini memungkinkan petani mengurangi penggunaan pestisida secara signifikan sekaligus meningkatkan hasil panen,” jelasnya.
Ia menambahkan risiko gagal panen akibat serangan hama yang sebelumnya mencapai sekitar 50 persen kini dapat ditekan secara signifikan.
Dalam pengembangannya, Hanif dibantu sejumlah mahasiswa lintas disiplin seperti Rafi Pradana, Diah Ayu NurFadillah, Rafi S Lamikan, dan Anindya Khoirunnisya.
Menariknya, Terangin kini tidak hanya menjadi proyek kompetisi, tetapi telah berkembang menjadi startup dengan omzet mencapai ratusan juta rupiah dari penjualan produk maupun hibah pengembangan inovasi. “Perkembangan ini membuktikan bahwa inovasi kami tidak hanya berhenti di kompetisi, tetapi juga berdampak nyata,” tutupnya. (feb, tama dini)












