Peristiwa

Surabaya Art Prize 2026 Soroti Kekuatan Gagasan dan Medium Seni Kontemporer

43
×

Surabaya Art Prize 2026 Soroti Kekuatan Gagasan dan Medium Seni Kontemporer

Sebarkan artikel ini

SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Surabaya Art Prize 2026 kembali digelar sebagai ajang apresiasi seni rupa kontemporer yang mempertemukan ratusan seniman dari berbagai daerah di Indonesia melalui karya-karya inovatif dengan pendekatan visual yang beragam.

Orasis Art Space sebagai penggagas program menilai kompetisi ini menjadi ruang penting bagi seniman muda untuk mengembangkan gagasan artistik sekaligus memperluas dialog seni kontemporer di Indonesia.

Sejak dibuka pada Maret 2026, Surabaya Art Prize menerima ratusan karya seni dua dimensi maupun tiga dimensi yang kemudian melalui beberapa tahap kurasi sebelum terpilih karya-karya terbaik.

Salah satu dewan juri, Deby Prima Dewi mengatakan program ini mendorong para seniman untuk berpikir kritis terhadap relasi antara karya, medium, dan ruang publik di tengah perkembangan budaya visual yang semakin cepat. “Lewat program ini, Surabaya Art Prize mendorong seniman untuk berpikir kritis terhadap gagasan, medium, serta relasi antara karya dan ruang publik,” katanya.

Dalam proses seleksi, sebanyak 364 peserta dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti kompetisi ini. Setelah melalui tahap kurasi, jumlah tersebut mengerucut menjadi 30 semifinalis, kemudian 14 finalis, hingga akhirnya dipilih tiga Official Selection sebagai pemenang utama. Board of Jury Surabaya Art Prize 2026 terdiri dari: Asmudjo J. Irianto, Deby Prima Dewi, Jongsuwat Angsuvarnsiri

Juri lainnya, Asmudjo mengungkapkan proses penjurian berlangsung cukup ketat karena banyak karya dinilai memiliki kualitas artistik yang kuat. “Kita harusnya menentukan 10 finalis, tapi kita enggak sanggup, jadi ada 14 finalis, karena karyanya sama-sama kuat,” ujarnya.

Tiga karya yang terpilih sebagai Official Selection yakni: Vicky Saputra dengan karya Orbit, Ridho Schoot dengan karya Ambang No 5 (Jangan Berkedip!), Zeta Ranniry dengan karya Though Life is Heavy, We Must Stay Afloat. Ketiga karya tersebut hadir dengan pendekatan medium yang berbeda, mulai dari LED board, kayu, kanvas, resin, hingga penggunaan cahaya matahari sebagai bagian dari eksplorasi artistik.

Total hadiah untuk kategori Official Selection mencapai Rp90 juta. Masing-masing pemenang memperoleh hadiah Rp30 juta serta kesempatan mengikuti pameran grup di Orasis Art Space di luar program Surabaya Art Prize. Salah satu pemenang juga akan mendapatkan kesempatan residensi seni di SAC Gallery sebagai bagian dari upaya memperluas jaringan seni internasional bagi seniman Indonesia.

Selain penghargaan utama, Surabaya Art Prize 2026 juga memberikan penghargaan Lifetime Achievement kepada sejumlah tokoh yang dinilai memiliki dedikasi panjang terhadap perkembangan seni rupa dan budaya.

Penerima penghargaan tersebut antara lain: Dadang Rukmana, Elizabeth, Heti Palestina Yunani, Rina Wahyuni, Wicaksono Adi. Masing-masing penerima memperoleh apresiasi sebesar Rp10 juta sebagai bentuk penghormatan terhadap kontribusi mereka dalam membangun ekosistem seni dan budaya.

Menurut Asmudjo, penghargaan tersebut diberikan kepada sosok yang tidak hanya aktif berkarya, tetapi juga memiliki peran dalam pendidikan, dokumentasi, dan pengembangan pengetahuan seni.

“Kontribusinya menunjukkan kepada siapapun yang bekerja tidak ada hambatan. Yang kedua itu di bidang pendidikan formal maupun informal. Yang ketiga yang merawat, menulis, mendokumentasikan sebagai jejak pengetahuan,” katanya.

Pameran Surabaya Art Prize 2026 berlangsung di Orasis Art Space hingga 31 Mei 2026 dengan menampilkan 30 karya semifinalis terpilih. Selain pameran utama, pengunjung juga dapat mengikuti berbagai program pendukung seperti guided tour, art station interaktif, tur bahasa isyarat, hingga program edukasi anak sebagai bagian dari komitmen menghadirkan ruang seni yang lebih inklusif dan terbuka bagi publik. (feb, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *