NasionalPeristiwa

VIDA Luncurkan ID FraudShield, Teknologi Deteksi Penipuan Identitas Berbasis AI

94
×

VIDA Luncurkan ID FraudShield, Teknologi Deteksi Penipuan Identitas Berbasis AI

Sebarkan artikel ini

JAKARTA (Suarapubliknews) ~ VIDA meluncurkan ID FraudShield, teknologi deteksi penipuan identitas digital yang menggabungkan verifikasi biometrik dengan analisis perangkat dan deteksi fraud secara real-time dalam satu sistem terintegrasi.

Peluncuran dilakukan dalam acara “VIDA Beyond Liveness” di Jakarta dan turut dihadiri Direktorat Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (Komdigi RI).

Founder dan Group CEO VIDA, Niki Luhur, mengatakan perkembangan fraud berbasis AI membuat sistem verifikasi identitas konvensional tidak lagi cukup. “Untuk menangani metode penipuan ini, satu lapisan verifikasi saja tidak lagi cukup. Ada tiga faktor yang harus diverifikasi secara bersamaan yakni orangnya, identitasnya, dan perangkat yang digunakan,” ujarnya.

VIDA menjelaskan selama ini teknologi liveness detection digunakan untuk memastikan keberadaan manusia asli dan mencegah penggunaan foto, video, maupun deepfake dalam proses verifikasi identitas.

Namun kini modus penipuan berkembang lebih kompleks dengan menyasar perangkat, jaringan, perilaku pengguna, hingga transaksi digital. Pelaku fraud disebut mulai memanfaatkan berbagai metode seperti injection attack, emulator farm, hingga GPS spoofing untuk mengelabui sistem keamanan digital. Karena itu, VIDA menghadirkan sistem pertahanan berlapis melalui ID FraudShield.

Teknologi tersebut bekerja melalui dua engine utama yang berjalan secara bersamaan. Engine pertama adalah Biometric Liveness Detection untuk memastikan kehadiran manusia asli sekaligus mencegah deepfake, spoofing, dan screen replay.

Sementara engine kedua, ID FraudShield, menganalisis sinyal perangkat dan perilaku pengguna secara real-time guna mendeteksi potensi fraud yang tidak terlihat melalui pemeriksaan biometrik biasa.

Sistem ini juga mengevaluasi berbagai indikator risiko mulai dari perangkat mencurigakan, penggunaan VPN dan proxy, lokasi palsu, hingga pola perilaku pengguna saat melakukan verifikasi data. VIDA menyebut setiap sesi verifikasi akan diberikan skor risiko mulai dari low risk hingga critical risk.

Teknologi ID FraudShield dikembangkan untuk menjawab tantangan fraud yang semakin kompleks di sektor keuangan digital seperti perbankan, multifinance, pinjaman online, asuransi, hingga platform pembayaran.

Solusi ini disebut memungkinkan perusahaan mendeteksi risiko fraud lebih cepat sekaligus menjaga pengalaman pengguna dan kepatuhan terhadap regulasi. “Kami membangun solusi ini karena melihat sendiri bagaimana penipuan bisa lolos dari liveness tanpa terdeteksi. Di saat yang sama, banyak perusahaan sebenarnya kurang memiliki visibilitas untuk mengenali risiko tersebut,” katanya.

Direktorat Jenderal Ekosistem Digital Komdigi RI, Edwin Hidayat Abdullah, mengatakan ancaman scam digital di Indonesia kini semakin tinggi. Menurutnya, sekitar 65 persen masyarakat Indonesia menerima upaya penipuan setidaknya sekali dalam seminggu melalui email, SMS, WhatsApp, panggilan telepon, maupun media sosial.

“Angka sebesar ini tidak mungkin ditangani oleh satu pihak saja. Dibutuhkan pendekatan yang terintegrasi dan kolaboratif, mencakup kebijakan yang kuat, peran aktif berbagai institusi, serta dukungan teknologi yang mumpuni,” ujarnya.

VIDA menilai pemanfaatan AI secara bertanggung jawab akan menjadi fondasi penting dalam memperkuat perlindungan identitas digital di Indonesia di tengah meningkatnya ancaman fraud berbasis teknologi. (feb, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *