Peristiwa

Suradaya 2026 Kembali Digelar, Ajak Generasi Muda Menyelami Sisi Kota yang Kerap Tak Terlihat

70
×

Suradaya 2026 Kembali Digelar, Ajak Generasi Muda Menyelami Sisi Kota yang Kerap Tak Terlihat

Sebarkan artikel ini

SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Wisma Jerman dan Institut Français d’Indonésie (IFI) Surabaya kembali menghadirkan proyek budaya lintas negara bertajuk “SURADAYA – What Remains Unseen” pada 2026. Program kolaborasi Prancis-Jerman-Indonesia ini mengajak generasi muda mengeksplorasi berbagai sisi kota yang selama ini kerap luput dari perhatian melalui pendekatan fotografi dokumenter, riset arsip visual, dan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Direktur Institut Français Indonesia (IFI) Surabaya, Vincent Padaré, mengatakan Suradaya 2026 merupakan kelanjutan dari kerja sama budaya yang telah terjalin sejak 2023 melalui dukungan Franco-German Cultural Fund. Menurutnya, program ini tidak hanya menjadi ruang kreatif bagi para peserta, tetapi juga wadah refleksi untuk melihat kembali bagaimana sebuah kota direpresentasikan.

“Kami ingin mengajak peserta mempertanyakan apa yang sebenarnya terlihat dan apa yang selama ini tidak terlihat dalam kehidupan perkotaan. Melalui fotografi, arsip visual, dan teknologi AI, peserta diajak membangun perspektif baru tentang kota tempat mereka hidup,” ujarnya.

Tahun ini, Suradaya mengangkat tema What Remains Unseen yang berfokus pada berbagai aspek perkotaan yang sering terabaikan, baik karena pengaruh institusi, media, kepentingan ekonomi maupun perkembangan teknologi digital. Program ini sekaligus menjadi ruang dialog lintas budaya antara peserta dari Indonesia, Jerman, dan Prancis.

Dalam pelaksanaannya, proyek ini menggandeng berbagai mitra internasional dan lokal, antara lain Hannover University of Applied Sciences and Arts (HSH) Jerman, National School of Photography (ENSP) Arles Prancis, Surabaya Memory Universitas Kristen Petra, Universitas Airlangga, Orasis Artspace, Matanesia, Melihat Bersama, Explore Surabaya, serta KLIK FM.

Sementara itu, Managing Director Wisma Jerman, Mike Neuber, menilai Suradaya menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi internasional dapat mempertemukan berbagai disiplin ilmu, budaya, dan pendekatan kreatif dalam satu platform bersama.

“Program ini tidak hanya mempertemukan peserta dari berbagai latar belakang, tetapi juga membuka ruang kolaborasi antara institusi pendidikan, komunitas seni, dan pelaku budaya dari tiga negara. Kami berharap peserta dapat memperoleh pengalaman yang memperkaya cara pandang mereka terhadap lingkungan sekitar,” katanya.

Rangkaian kegiatan dimulai pada 2 Juni 2026 melalui program lokakarya selama hampir satu bulan yang melibatkan mentor dari Indonesia, Jerman, dan Prancis. Sebanyak 12 peserta terpilih mengikuti program tersebut, terdiri atas 10 peserta dari Indonesia dan dua peserta dari Jerman yang lolos melalui proses open call.

Program Suradaya dibagi ke dalam tiga tahapan utama. Tahap pertama berupa Lokakarya Penelitian Arsip Visual yang berlangsung pada 2–6 Juni 2026 di Wisma Jerman bekerja sama dengan Surabaya Memory UK Petra dengan pendampingan Idealita Ismanto dan Mamuk Ismuntoro.

Tahap kedua menghadirkan Lokakarya Fotografi Dokumenter pada 8–20 Juni 2026 di IFI Surabaya dan Wisma Jerman yang dipandu fotografer asal Jerman, Kai Löffelbein. Pada sesi ini peserta diajak mendalami praktik fotografi dokumenter sebagai medium untuk membaca dan merekam realitas sosial perkotaan.

Selanjutnya, tahap ketiga berupa Lokakarya Generasi Gambar berbasis AI yang berlangsung pada 22–26 Juni 2026 di Universitas Airlangga dan IFI Surabaya. Sesi ini dipandu Clément Caignart dari Prancis dan Jakob Vicari dari Jerman yang memperkenalkan berbagai pendekatan kreatif dalam pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan untuk produksi visual kontemporer.

Seluruh rangkaian program akan ditutup pada 27 Juni 2026 melalui presentasi karya peserta dan diskusi bersama para mentor di IFI Surabaya. Setelah melalui proses kurasi dan produksi, karya-karya tersebut akan dipamerkan kepada publik di Orasis Artspace pada September 2026.

Tidak hanya dipamerkan di Surabaya, hasil karya peserta juga direncanakan mengikuti pameran keliling melalui jaringan IFI Indonesia, Goethe-Institut Indonesia, Hochschule Hannover di Jerman, ENSP Arles di Prancis, serta sejumlah kampus mitra seperti Universitas Kristen Petra dan Universitas Airlangga.

Melalui Suradaya 2026, penyelenggara berharap lahir perspektif-perspektif baru dalam memandang kota sekaligus memperkuat kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan kolaborasi lintas budaya di kalangan generasi muda melalui medium fotografi dan teknologi visual terkini. (feb, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *