SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Universitas Kristen (UK) Petra bersama Pemerintah Kota Surabaya mulai menyusun peta jalan (roadmap) penerapan Blue-Green Infrastructure (BGI) sebagai salah satu strategi menghadapi ancaman banjir dan suhu ekstrem akibat perubahan iklim di kawasan perkotaan. Langkah tersebut diawali melalui Workshop Blue-Green Infrastructure in Surabaya yang digelar di Auditorium Kebun Raya Mangrove Surabaya.
Workshop yang diikuti sekitar 30 peserta dari berbagai organisasi perangkat daerah (OPD), akademisi, hingga organisasi masyarakat sipil itu menjadi forum awal untuk memperkenalkan konsep pembangunan kota berbasis alam (nature-based solutions) sekaligus menyusun arah implementasi BGI di Surabaya.
Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) UK Petra, Rully Damayanti, mengatakan Surabaya menghadapi tantangan serius akibat semakin terbatasnya ruang terbuka hijau yang berdampak pada meningkatnya risiko banjir maupun suhu ekstrem.
“Workshop ini memperkenalkan konsep Blue-Green Infrastructure yang relatif masih baru di Surabaya, sekaligus menjadi langkah awal penyusunan roadmap BGI untuk Kota Surabaya,” ujarnya.
Menurut Rully, konsep BGI mengintegrasikan pengelolaan air dan ruang hijau sebagai solusi pembangunan berkelanjutan yang mampu meningkatkan kualitas lingkungan sekaligus memperkuat ketahanan kota terhadap perubahan iklim.
Implementasi konsep tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai pendekatan, seperti pembangunan taman air, atap hijau (green roof), sengkedan, hingga sistem drainase berkelanjutan (Sustainable Drainage Systems atau SuDS). Pendekatan tersebut diharapkan tidak hanya mengurangi risiko genangan, tetapi juga membantu menurunkan suhu kawasan perkotaan.
Workshop menghadirkan Prof. Robby Soetanto dari Loughborough University, Inggris, yang juga merupakan alumni Teknik Sipil UK Petra. Sebelumnya, ia turut mendampingi Pemerintah Kota Bandung dan Pemerintah Kota Semarang dalam penyusunan roadmap penerapan Blue-Green Infrastructure.
Menurut Prof. Robby, pembangunan kota perlu menjaga keseimbangan antara aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan agar tetap layak huni dalam jangka panjang. “Pendekatan berbasis alam menjadi semakin penting untuk memastikan kota tetap layak huni dan berkelanjutan di masa depan,” katanya.
Selain menghadirkan pakar internasional, UK Petra juga melibatkan enam dosen lintas disiplin untuk mendampingi proses diskusi bersama para peserta. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi yang dapat diterapkan dalam pengembangan kawasan perkotaan Surabaya.
Rully menambahkan, pemilihan Kebun Raya Mangrove Surabaya sebagai lokasi workshop juga bukan tanpa alasan. Kawasan tersebut dinilai memiliki potensi besar sebagai lokasi percontohan penerapan konsep Blue-Green Infrastructure di Surabaya, mengingat fungsi ekologisnya dalam pengelolaan air sekaligus pelestarian lingkungan. Sejumlah kota besar di Indonesia juga telah mulai mengadopsi pendekatan serupa dalam perencanaan wilayahnya.
Workshop yang dibuka Ketua Tim Penggerak PKK Kota Surabaya, Rini Indriyani, itu diharapkan menjadi momentum memperkuat kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat dalam merancang pembangunan kota yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim.
Melalui kegiatan tersebut, UK Petra menegaskan komitmennya untuk tidak hanya berperan dalam bidang pendidikan dan penelitian, tetapi juga menghadirkan solusi nyata bagi pembangunan Kota Surabaya melalui kolaborasi berbasis ilmu pengetahuan. (feb, tama dini)












