Hotel & RestoPeristiwa

Workshop AI for Hospitality: Pakar Dorong Industri Perhotelan Manfaatkan AI Tanpa Abaikan Keamanan Data

59
×

Workshop AI for Hospitality: Pakar Dorong Industri Perhotelan Manfaatkan AI Tanpa Abaikan Keamanan Data

Sebarkan artikel ini

SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mulai mengubah berbagai sektor industri, termasuk perhotelan. Pemanfaatan AI dinilai tidak hanya mampu meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga membantu pengambilan keputusan berbasis data yang lebih cepat dan akurat. Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, aspek keamanan data tetap harus menjadi perhatian utama.

Hal itu mengemuka dalam Workshop AI for Hospitality: Revolutionizing Work, Exceeding Expectations yang digelar di MORAZEN Surabaya, Selasa (23/6/2026). Workshop menghadirkan Founder & CEO WIT.ID, Irfan Arsandi, yang membagikan berbagai strategi penerapan AI bagi pelaku industri perhotelan.

Menurut Irfan, industri perhotelan merupakan salah satu sektor yang memiliki peluang besar untuk mengoptimalkan pemanfaatan AI di berbagai lini pekerjaan, mulai dari pelayanan pelanggan, administrasi, hingga analisis bisnis.

“Output akhirnya adalah pengambilan keputusan berbasis data (data-driven decision making). Dengan begitu, pekerjaan pemilik hotel maupun general manager menjadi lebih mudah karena tidak lagi menghabiskan waktu berjam-jam untuk membahas dokumen dalam rapat,” ujarnya.

Ia menjelaskan AI mampu membantu berbagai pekerjaan rutin seperti membuat minutes of meeting, menyusun kontrak kerja, melakukan analisis bisnis, hingga merangkum berbagai data operasional hotel secara otomatis.

Menurutnya, penerapan teknologi tersebut juga berdampak pada peningkatan produktivitas sumber daya manusia. Sebagai contoh, pekerjaan administrasi di divisi akuntansi yang sebelumnya membutuhkan beberapa orang kini dapat dilakukan lebih efisien dengan dukungan AI, sehingga tenaga kerja dapat dialihkan ke bidang yang lebih strategis seperti pengembangan bisnis maupun peningkatan kualitas pelayanan kepada tamu.

“Tujuannya bukan menggantikan manusia, tetapi membuat pekerjaan menjadi lebih efektif sehingga karyawan dapat fokus pada hal-hal yang memberikan nilai tambah bagi perusahaan,” katanya.

Meski demikian, Irfan mengingatkan bahwa implementasi AI tidak boleh mengabaikan keamanan data perusahaan. Menurutnya, isu kebocoran data masih menjadi tantangan serius di Indonesia sehingga perusahaan harus cermat memilih sistem AI yang digunakan.

Ia mengibaratkan layanan cloud sebagai “baju Iron Man”, sementara AI berperan layaknya asisten virtual seperti Jarvis atau Friday. Namun, untuk perusahaan yang menyimpan data sensitif, penggunaan AI berbasis cloud tidak selalu menjadi pilihan terbaik.

“Kalau datanya bersifat rahasia, lebih baik menggunakan sistem on-premise. AI dijalankan melalui server internal perusahaan sehingga data tidak keluar ke internet. Cara ini jauh lebih aman untuk menjaga kerahasiaan informasi perusahaan,” jelasnya.

Sebagai contoh, Irfan memperkenalkan Mora Intelligent Assistant (MIA) yang diterapkan Mora Group sebagai sistem AI berbasis server internal. Dengan konsep tersebut, seluruh proses pengolahan data dilakukan di lingkungan perusahaan sehingga risiko kebocoran informasi dapat diminimalkan.

Selain membahas keamanan data, Irfan juga mendorong pelaku industri agar memiliki pola pikir terbuka terhadap perkembangan AI. Menurutnya, teknologi ini berkembang sangat cepat sehingga pengguna tidak boleh bergantung hanya pada satu platform.

Ia menyarankan perusahaan menerapkan konsep AI agnostic, yakni memanfaatkan berbagai platform AI sesuai kebutuhan pekerjaan. Beberapa aplikasi seperti NotebookLM, Gemini, maupun Claude dinilai dapat membantu proses penyusunan dokumen, riset, hingga menghasilkan ide-ide kreatif secara lebih efisien. “Jangan fanatik terhadap satu AI saja. Gunakan platform yang paling sesuai dengan kebutuhan karena perkembangan teknologi ini berubah hampir setiap hari,” sarannya.

Irfan menambahkan, keberhasilan transformasi digital tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia untuk terus belajar dan beradaptasi.

Menurutnya, AI seharusnya dipandang sebagai mitra kerja yang membantu meningkatkan produktivitas, bukan sebagai ancaman bagi tenaga kerja. “AI bukan lagi sekadar tren. Industri perhotelan perlu mulai mengadopsinya agar tetap kompetitif, namun implementasinya harus dilakukan secara bijak dengan tetap mengutamakan keamanan data perusahaan,” pungkasnya. (feb, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *