SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Penyaluran kredit kepada pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Jawa Timur hingga April 2026 masih menghadapi tantangan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat outstanding kredit UMKM mengalami sedikit kontraksi secara tahunan (year on year/yoy), meski penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) tetap menunjukkan pertumbuhan dengan kualitas kredit yang terjaga.
Direktur Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, Pelindungan Konsumen, dan Layanan Manajemen Strategis OJK Provinsi Jawa Timur, Horas V. M. Tarihoran, mengatakan sebagian besar penyaluran kredit perbankan masih didominasi sektor non-UMKM. “Sementara itu, rasio kredit bermasalah atau NonPerforming Loan (NPL) kredit UMKM tercatat sebesar 5,45 persen. Meski demikian, mayoritas pembiayaan UMKM masih terserap oleh pelaku usaha pada segmen mikro,” katanya.
OJK mencatat sektor perdagangan besar dan eceran masih menjadi tujuan utama penyaluran kredit UMKM dengan porsi 46,65 persen. Posisi berikutnya ditempati sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan sebesar 19,52 persen, disusul industri pengolahan 12,32 persen, jasa kemasyarakatan 5,07 persen, penyedia akomodasi dan makan minum 3,85 persen, serta sektor lainnya 12,60 persen.
Di sisi lain, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) justru masih menunjukkan tren positif. Hingga April 2026, outstanding KUR di Jawa Timur mencapai sekitar Rp67,76 triliun dengan rasio kredit bermasalah (NPL) sebesar 2,12 persen, menandakan kualitas pembiayaan tetap terjaga. Jawa Timur juga berkontribusi sekitar 31,53 persen terhadap total penyaluran KUR di Pulau Jawa. Sama seperti kredit UMKM, penyaluran KUR juga didominasi sektor perdagangan besar dan eceran dengan pangsa 44,24 persen.
Selanjutnya sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan menyerap 33,21 persen, industri pengolahan 8,25 persen, jasa kemasyarakatan 7,54 persen, penyedia akomodasi dan makan minum 4,74 persen, serta sektor lainnya 3,78 persen. Data tersebut menunjukkan pembiayaan bagi pelaku usaha kecil di Jawa Timur masih menjadi salah satu fokus industri jasa keuangan.
Di tengah perlambatan kredit UMKM, pertumbuhan KUR yang tetap positif diharapkan dapat menjadi penopang akses pembiayaan produktif bagi pelaku usaha sekaligus mendukung penguatan sektor riil di daerah. (Feb, tama dini)












