SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin mengubah wajah industri kreatif, termasuk dunia animasi. Namun di balik kemampuannya mempercepat proses produksi, AI dinilai tidak dapat menggantikan nilai artistik yang lahir dari kreativitas, pengalaman, dan keterampilan manusia.
Pandangan tersebut disampaikan praktisi animasi sekaligus kreator Minilemon, Reno Halsamer, yang menilai AI sebaiknya diposisikan sebagai alat bantu dalam proses kreatif, bukan sebagai pengganti seniman.
Menurutnya, teknologi AI memang mampu mempercepat berbagai tahapan pekerjaan, mulai dari pencarian ide hingga pembuatan visual awal. Namun kemudahan tersebut justru membuat nilai sebuah karya berpotensi menurun apabila seluruh proses kreatif diserahkan kepada mesin.
“AI memang mempermudah kita bekerja, tapi bukan berarti pekerjaan itu menjadi mudah. Kalau semuanya terlalu mudah dibuat, maka nilai karya itu akan murah, bahkan bisa kehilangan nilainya,” ujar Founder & Chairman Dtopeng Kingdom Foundation, Minilemon Production House, Meta Panji, G&G Publishing, Budayawan, Kurator, Pemerhati Anak, & Film Producer itu dalam sebuah talkshow di Surabaya.
Ia menjelaskan bahwa sebuah karya seni memiliki nilai karena dibangun melalui kemampuan, proses kreatif, dan pengalaman panjang seorang seniman. Karena itu, hasil karya yang sepenuhnya dihasilkan AI menurutnya lebih mendekati produk massal dibanding karya seni yang memiliki identitas dan karakter kuat.
Reno menilai persoalan tersebut juga mulai terlihat di industri kreatif internasional. Menurutnya, berbagai karya yang sepenuhnya diproduksi menggunakan AI belum memperoleh apresiasi sebesar karya yang dikerjakan secara manual karena masyarakat masih menghargai proses kreatif di balik sebuah karya.
Selain itu, penggunaan AI dalam industri kreatif juga masih menghadapi berbagai persoalan hukum, terutama terkait hak cipta atas data dan prompt yang digunakan untuk menghasilkan sebuah gambar maupun karya visual.
Meski demikian, Reno tidak menolak kehadiran AI. Ia justru memanfaatkan teknologi tersebut sebagai sarana edukasi dan eksplorasi ide dalam berbagai proyek yang sedang dikembangkannya.
Salah satunya dilakukan di Museum Majapahit Bali, tempat AI digunakan untuk membantu peserta magang menyusun skenario, mengembangkan konsep cerita, hingga merancang ide konten media sosial. “AI kami gunakan untuk melatih cara berpikir dan membangun imajinasi. Setelah konsepnya terbentuk, proses kreatif tetap dilakukan oleh manusia,” katanya.
Pendekatan serupa diterapkan dalam proyek Meta Panji. Menurut Reno, AI hanya dimanfaatkan sebagai media untuk menghasilkan ilustrasi awal dengan tampilan hiperrealis sehingga memudahkan tim menentukan arah visual.
Setelah konsep tersebut diperoleh, seluruh proses artistik kembali dikerjakan secara manual melalui teknik ilustrasi dan animasi agar kualitas estetikanya tetap terjaga. Saat ini, pengembangan novel Meta Panji telah mencapai sekitar 70 persen. Reno mengungkapkan proyek tersebut direncanakan akan dibawa ke Jepang untuk dikembangkan menjadi komik bergaya manga sebelum dikembangkan lebih lanjut ke industri gim.
Sementara itu, proyek film layar lebar Minilemon dipastikan tetap diproduksi menggunakan teknik full animation tanpa memanfaatkan AI dalam proses produksinya. Keputusan tersebut diambil untuk menjaga kualitas artistik sekaligus mempertahankan nilai sebuah karya animasi di tengah berkembangnya teknologi kecerdasan buatan.
Produksi film Minilemon kini telah mencapai sekitar 90 persen setelah proses pengerjaan dipindahkan ke Jakarta. Untuk menjaga kualitas produksi, Reno menggandeng konsultan skenario dari Singapura serta pengisi suara profesional agar sinkronisasi dialog, ekspresi, dan gerak karakter dapat tampil lebih natural.
Lebih dari sekadar hiburan, Minilemon juga dirancang sebagai media pendidikan karakter bagi anak-anak. Reno menjelaskan film tersebut membawa pesan mengenai toleransi, kejujuran, tanggung jawab, hingga keberanian mengakui kesalahan sebagai bagian dari gerakan membangun karakter generasi muda sejak usia dini.
Dalam pengembangannya, tim juga berkolaborasi dengan berbagai komunitas, termasuk Lions Club Surabaya Sejahtera dan para psikolog, guna memastikan pesan yang disampaikan sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak.
Selain film layar lebar, Reno bersama tim juga tengah menyiapkan seri Bedtime Stories yang akan disusun berdasarkan berbagai latar belakang budaya dan agama. Melalui program tersebut, ia berharap orang tua memiliki lebih banyak media untuk membangun komunikasi sekaligus menanamkan nilai-nilai positif kepada anak sebelum tidur.
Bagi Reno, kemajuan teknologi AI bukanlah ancaman bagi dunia seni, selama manusia tetap menempatkan kreativitas sebagai inti dari setiap karya. “Teknologi boleh berkembang, tetapi jiwa sebuah karya tetap lahir dari imajinasi, pengalaman, dan sentuhan manusia,” pungkasnya. (feb, tama dini)












