Peristiwa

Wamen Stella Christie Ajak Mahasiswa Baru ITS Berpikir Kritis di Tengah Euforia AI

109
×

Wamen Stella Christie Ajak Mahasiswa Baru ITS Berpikir Kritis di Tengah Euforia AI

Sebarkan artikel ini

SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamen Diktisaintek) RI Prof. Stella Christie mengajak mahasiswa baru Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) untuk tidak larut dalam euforia perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Menurutnya, kemajuan teknologi harus disikapi secara kritis dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap keberlanjutan, kebutuhan sumber daya, hingga masa depan dunia kerja.

Pesan tersebut disampaikan Stella saat memberikan pembekalan kepada ribuan peserta Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) ITS 2026 di GOR Pertamina ITS, Surabaya, Rabu (5/8/2026). Ia mengibaratkan perkembangan AI dengan fenomena economic bubble yang pernah terjadi pada perdagangan tulip di Belanda maupun gelembung industri dot-com.

Menurut Stella, masyarakat perlu mencermati perkembangan AI secara objektif agar tidak terjebak pada optimisme yang berlebihan. “Kini hampir semua persoalan dijawab AI dan dapat menjadi indikasi yang layak dikaji sebagai wujud gelembung teknologi yang dapat pecah sewaktu-waktu,” ujarnya.

Guru Besar bidang Kecerdasan Kognitif tersebut menegaskan pandangan itu bukan untuk meremehkan perkembangan AI. Sebaliknya, ia mengajak mahasiswa memahami konsekuensi di balik kemajuan teknologi, termasuk besarnya kebutuhan energi dan air yang digunakan pusat data AI. “Pusat data AI memerlukan listrik dan air dalam jumlah sangat besar untuk menjalankan proses komputasi yang juga diperkirakan terus meningkat,” katanya.

Ia menjelaskan kebutuhan energi dan air untuk menopang pusat data AI bahkan setara dengan konsumsi di sejumlah negara besar. Karena itu, masyarakat perlu mempertimbangkan apakah manfaat yang diperoleh benar-benar sebanding dengan sumber daya yang dikorbankan. “Untuk itu, saya mengingatkan bahwa kita harus mempertimbangkan apakah manfaat AI sepadan dengan sumber daya yang dikorbankan,” tuturnya.

Selain isu keberlanjutan, Stella juga menyoroti perubahan kebutuhan kompetensi di dunia kerja. Menurutnya, kemampuan AI yang semakin berkembang telah memengaruhi berbagai profesi, termasuk lulusan ilmu komputer yang sebelumnya dianggap memiliki prospek kerja paling aman. “Maka, keberhasilan dan nilai dari berkuliah tidak lagi diukur dari ijazah, namun kemampuan nyata individu agar tidak tergantikan oleh AI,” tegasnya.

Untuk menghadapi era AI, Stella menilai perguruan tinggi harus berfokus pada tiga pilar utama, yakni creation of knowledge, transmission of knowledge, dan curation of knowledge. Menurutnya, kampus tidak hanya menjadi tempat memperoleh informasi, tetapi juga membentuk kemampuan berpikir kritis, menganalisis persoalan, serta menciptakan solusi yang tidak dapat digantikan oleh mesin. “Kurasi pengetahuan inilah yang membedakan antara manusia dengan AI, dan akademisi bertugas menyaring esensi kebenaran yang paling bernilai bagi peradaban,” lanjutnya.

Stella juga mengingatkan mahasiswa agar memanfaatkan masa kuliah untuk membangun kapasitas diri, memperluas jejaring, serta mengasah kemampuan analisis melalui berbagai pengalaman belajar dan kolaborasi di lingkungan kampus. Menurutnya, faktor-faktor tersebut menjadi modal utama agar lulusan tetap relevan dan mampu menghadirkan solusi kreatif di tengah pesatnya perkembangan teknologi. “Jadi mahasiswa ITS diharapkan mampu menjadi insan yang tangguh, inovatif, dan tidak tergantikan oleh kemajuan teknologi,” pungkasnya. (feb, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *