Peristiwa

Bawakan Lakon Gatutkoco Winisudo, Ki Surono Tampil di Gelaran Ruwat Desa Dukuh Menanggal

46
×

Bawakan Lakon Gatutkoco Winisudo, Ki Surono Tampil di Gelaran Ruwat Desa Dukuh Menanggal

Sebarkan artikel ini

SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Universitas Adi Buana (UAB) Surabaya menunjukkan komitmennya dalam mendukung pelestarian budaya lokal dengan melibatkan sivitas akademika secara aktif dalam rangkaian Ruwat Desa Dukuh Menanggal 2026.

Tidak hanya berpartisipasi dalam kirab budaya, UAB juga mengerahkan mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, hingga unit layanan kesehatan untuk menyukseskan kegiatan yang menjadi tradisi masyarakat setempat tersebut.

Rektor Universitas Adi Buana, Dr. Untung Lasiono, S.E., M.Si., mengatakan keterlibatan UAB merupakan bentuk kepedulian kampus terhadap lingkungan sekitar sekaligus implementasi pengabdian kepada masyarakat melalui pelestarian budaya.

“Universitas Adi Buana berada di wilayah Dukuh Menanggal sehingga kami merasa menjadi bagian dari masyarakat di sini. Karena itu, ketika ada kegiatan Ruwat Desa, kami ikut berpartisipasi sebagai bentuk kepedulian sekaligus upaya melestarikan budaya,” ujarnya.

Dalam rangkaian kirab budaya, UAB mengirimkan peserta yang terdiri atas mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, serta melibatkan Klinik Usada Buana di bawah naungan badan penyelenggara yayasan. Selain itu, siswa dari sekolah yang berada di bawah naungan yayasan juga turut ambil bagian sehingga kehadiran UAB tidak hanya diwakili oleh unsur perguruan tinggi, tetapi juga keluarga besar institusi pendidikan tersebut.

Menurut Untung, keikutsertaan seluruh elemen kampus bertujuan mempererat hubungan antara perguruan tinggi dengan masyarakat sekitar. “Kami ingin mendekatkan kampus dengan masyarakat, khususnya warga di sekitar Universitas Adi Buana. Kehadiran sivitas akademika dalam kegiatan budaya seperti ini menjadi salah satu cara membangun kebersamaan,” katanya.

Kontribusi UAB tidak berhenti pada kirab budaya. Pada malam puncak Ruwat Desa, sivitas akademika UAB juga dipercaya mengisi rangkaian hiburan sebelum pagelaran wayang kulit dimulai. Dosen dan tenaga kependidikan tampil membawakan pertunjukan seni tradisional, mulai dari permainan gamelan, tembang Jawa, hingga penampilan sinden sebagai bentuk apresiasi terhadap budaya Nusantara.

Puncak rangkaian kegiatan budaya tersebut ditandai dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk yang dibawakan oleh Ki Surono Gondo Taruno, S.Sn., M.Si., dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Adi Buana. Dalam kesempatan itu, Ki Surono membawakan lakon “Tundung Kolo Gatutkoco Winisudo”, yang menjadi sajian utama Ruwat Desa Dukuh Menanggal.

Menurut Untung, keterlibatan salah satu dosen UAB sebagai dalang dalam pagelaran wayang menjadi bukti bahwa kampus tidak hanya mendukung penyelenggaraan kegiatan, tetapi juga berkontribusi melalui kompetensi dan potensi sumber daya manusia yang dimiliki.

“Pagelaran wayang malam ini dibawakan oleh dosen Universitas Adi Buana. Ini merupakan salah satu bentuk implementasi bahwa kampus tidak hanya hadir dalam kegiatan akademik, tetapi juga ikut melestarikan budaya melalui potensi yang dimiliki sivitas akademika,” terangnya.

Ia menambahkan, penyelenggaraan Ruwat Desa juga menjadi ruang kolaborasi berbagai pihak. Selain masyarakat dan pemerintah kelurahan, kegiatan tersebut turut melibatkan berbagai unsur, termasuk perwakilan DPRD Provinsi Jawa Timur, sehingga tercipta sinergi dalam menjaga tradisi budaya lokal.

Menurut Untung, kolaborasi seperti ini penting untuk terus dipertahankan karena memberikan manfaat bagi semua pihak. Kampus dapat menjalankan fungsi pengabdian kepada masyarakat secara nyata, sementara masyarakat memperoleh dukungan sumber daya dan keahlian yang dimiliki perguruan tinggi.

“Kami berharap kerja sama seperti ini terus berlanjut. Ketika masyarakat memiliki kegiatan, kampus siap memberikan dukungan melalui sumber daya manusia yang kami miliki. Sebaliknya, saat universitas menyelenggarakan kegiatan, masyarakat juga menjadi bagian yang ikut mendukung,” katanya.

Melalui keterlibatan aktif dalam Ruwat Desa Dukuh Menanggal 2026, Universitas Adi Buana ingin memperkuat hubungan harmonis dengan masyarakat sekitar sekaligus menunjukkan bahwa perguruan tinggi dapat berkontribusi dalam menjaga tradisi, mempererat kebersamaan, dan melestarikan budaya sebagai bagian dari identitas bangsa. (q cox, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *