SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Perekonomian Jawa Timur menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global. Pada Triwulan I 2026, ekonomi Jawa Timur tercatat tumbuh sebesar 5,96 persen (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,61 persen.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Timur, Ibrahim, mengatakan capaian tersebut didorong oleh meningkatnya konsumsi rumah tangga, investasi, serta konsumsi pemerintah, meskipun masih dihadapkan pada perlambatan ekspor akibat kondisi global.
“Di tengah dinamika perekonomian global yang masih penuh tantangan, ekonomi Jawa Timur tetap mampu tumbuh lebih tinggi. Konsumsi masyarakat masih menjadi motor utama pertumbuhan, didukung investasi dan belanja pemerintah,” ujarnya dalam Media Briefing Perkembangan Ekonomi Jawa Timur di Surabaya, Senin (22/6/2026).
Menurutnya, peningkatan konsumsi rumah tangga didorong oleh tingginya aktivitas masyarakat selama momentum Ramadan, Tahun Baru Imlek, Hari Raya Nyepi, hingga Idulfitri 2026. Sementara itu, investasi memperoleh dorongan dari pembangunan Sekolah Rakyat, revitalisasi fasilitas pendidikan, pembangunan infrastruktur jalan, serta meningkatnya impor barang modal.
Di sisi lain, konsumsi pemerintah juga mengalami percepatan seiring peningkatan belanja pegawai dan belanja barang maupun jasa, termasuk pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, pertumbuhan ekonomi masih tertahan oleh perlambatan ekspor luar negeri, terutama pada komoditas emas perhiasan, tembaga, kayu, dan produk kimia.
Dari sisi lapangan usaha, sektor perdagangan menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi Jawa Timur. Aktivitas perdagangan dan sektor akomodasi makan minum meningkat sejalan dengan tingginya konsumsi masyarakat selama periode hari besar keagamaan.
Selain itu, sektor pertanian juga mencatat pertumbuhan positif berkat meningkatnya produksi padi pada musim panen raya, produksi daging dan telur ayam untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis, serta meningkatnya produksi kayu bulat. Sektor konstruksi turut mengalami akselerasi seiring pembangunan berbagai proyek infrastruktur dan fasilitas pendidikan di Jawa Timur.
Ibrahim menjelaskan, meskipun konflik geopolitik global masih memberikan tekanan terhadap perdagangan internasional, struktur ekonomi Jawa Timur yang didominasi konsumsi domestik membuat daerah ini memiliki daya tahan yang cukup kuat terhadap gejolak eksternal.
Bank Indonesia juga memprakirakan perekonomian Jawa Timur masih akan tumbuh positif pada periode mendatang dengan dukungan konsumsi rumah tangga dan investasi yang tetap terjaga.
Di sisi stabilitas harga, BI memastikan inflasi masih berada dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen. Pada Mei 2026, inflasi di Pulau Jawa tercatat sebesar 2,91 persen (yoy), sementara secara bulanan mencapai 0,19 persen (month to month/mtm).
Kenaikan harga terutama dipengaruhi sejumlah komoditas hortikultura akibat anomali cuaca dan meningkatnya harga beberapa input pertanian, seperti pupuk dan plastik. Meski demikian, BI meyakini inflasi tetap terkendali melalui efektivitas kebijakan moneter serta sinergi Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP-TPID).
Sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas ekonomi nasional, Bank Indonesia juga terus memperkuat bauran kebijakan moneter, termasuk keputusan menaikkan BI Rate menjadi 5,75 persen pada Juni 2026. Kebijakan tersebut ditempuh untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi, serta tetap mendukung pertumbuhan ekonomi di tengah meningkatnya ketidakpastian global. (feb, tama dini)












