BisnisPeristiwa

BI Jatim Bidik Transaksi Java Coffee and Flavor Festival 2026 Lampaui Rp107 Miliar

61
×

BI Jatim Bidik Transaksi Java Coffee and Flavor Festival 2026 Lampaui Rp107 Miliar

Sebarkan artikel ini

SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Timur membidik nilai transaksi Java Coffee and Flavor Festival (JCF) 2026 melampaui capaian tahun sebelumnya sebesar Rp107 miliar.

Melalui festival yang memasuki penyelenggaraan tahun kelima ini, BI ingin memperkuat daya saing kopi, teh, kakao, dan rempah Indonesia agar mampu menembus pasar internasional sekaligus mendorong pertumbuhan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Mengusung tema “From Local Flavor to Global Horizon”, Java Coffee and Flavor Festival 2026 akan digelar pada 17–19 Juli 2026 di kawasan Alun-Alun Surabaya (Balai Pemuda). Festival ini menjadi salah satu program unggulan Bank Indonesia dalam memperkuat ekosistem ekonomi kreatif berbasis komoditas unggulan daerah.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Ibrahim, mengatakan penyelenggaraan festival merupakan bagian dari upaya menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang saat ini masih menjadi salah satu yang tertinggi di Indonesia.

“Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur saat ini mencapai sekitar 5,9 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional maupun Pulau Jawa. Momentum positif ini harus terus diperkuat melalui berbagai program, salah satunya pengembangan UMKM kopi dan industri flavor,” ujarnya dalam talkshow menjelang pelaksanaan Java Coffee and Flavor Festival 2026.

Menurut Ibrahim, pengembangan sektor kopi tidak hanya berdampak pada peningkatan nilai tambah komoditas, tetapi juga mampu menggerakkan rantai ekonomi mulai dari petani, koperasi, pelaku UMKM, roastery, hingga industri ekspor.

Karena itu, selain menghadirkan pameran produk unggulan, JCF 2026 juga difokuskan sebagai ajang mempertemukan pelaku usaha dengan calon pembeli maupun lembaga pembiayaan melalui kegiatan business matching.

“Kami memfasilitasi business matching pembiayaan dengan perbankan untuk mendukung pengembangan mesin-mesin baru bagi petani dan koperasi, sekaligus business matching perdagangan untuk mempertemukan pelaku usaha dengan calon pembeli potensial,” jelasnya.

Selain itu, BI juga kembali menggelar Lelang Kopi Indonesia, sebuah agenda yang memberikan apresiasi kepada petani dan pelaku usaha yang berhasil menghasilkan kopi berkualitas tinggi sekaligus membuka peluang transaksi dengan pembeli dari dalam maupun luar negeri.

Pada penyelenggaraan tahun ini, sebanyak 40 kopi unggulan hasil kurasi dari berbagai daerah di Pulau Jawa akan ditampilkan bersama kopi pilihan dari Sumatera, Kalimantan hingga kawasan Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua). Kehadiran berbagai daerah tersebut diharapkan semakin memperkaya keragaman cita rasa kopi Indonesia.

Salah satu agenda yang menjadi perhatian adalah kehadiran Michael Jasin, barista Indonesia berprestasi di tingkat internasional. Kehadirannya diharapkan mampu menjadi inspirasi sekaligus sarana berbagi pengetahuan bagi para barista muda maupun pelaku industri kopi di Jawa Timur.

Menurut Ibrahim, setiap daerah penghasil kopi di Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda sehingga menyimpan potensi besar untuk dikembangkan sebagai identitas daerah sekaligus daya tarik pasar global.

Ia mencontohkan kopi Excelsa Wonosalam, kopi Ijen, hingga kopi Dampit yang masing-masing memiliki cita rasa khas karena dipengaruhi kondisi geografis dan tanah vulkanik Indonesia yang berada di jalur belt of coffee dunia. “Setiap cangkir kopi memiliki cerita. Karakter rasa yang berbeda-beda itu menjadi kekuatan kopi Indonesia yang tidak dimiliki negara lain,” katanya.

Tidak hanya berorientasi pada transaksi bisnis, Java Coffee and Flavor Festival 2026 juga menghadirkan berbagai kegiatan edukatif dan hiburan yang dapat dinikmati masyarakat. Berbagai kompetisi seperti latte art, manual brewing, Kopi Bersastra, stand-up comedy, hingga lomba mewarnai dan menggambar bagi anak-anak akan digelar selama tiga hari pelaksanaan festival.

Pemilihan kawasan Alun-Alun Surabaya sebagai lokasi penyelenggaraan juga memiliki makna tersendiri. Menurut Ibrahim, kawasan bersejarah tersebut merepresentasikan perjalanan panjang perdagangan kopi dan rempah-rempah yang sejak dahulu menjadi bagian penting dari perkembangan ekonomi di Pulau Jawa.

Melalui penyelenggaraan Java Coffee and Flavor Festival 2026, Bank Indonesia berharap kopi dan berbagai komoditas flavor Indonesia tidak hanya semakin dikenal masyarakat dalam negeri, tetapi juga mampu memperluas pasar ekspor.

Bagi BI Jawa Timur, kopi bukan sekadar komoditas pertanian, melainkan bagian dari identitas budaya sekaligus sumber kesejahteraan masyarakat. Karena itu, festival ini diharapkan menjadi ruang kolaborasi bagi petani, UMKM, pelaku industri, akademisi, hingga pembeli internasional agar kopi Nusantara mampu bersaing di pasar global tanpa kehilangan karakter dan keunikan asal daerahnya. (feb, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *