Bicara Pilwali Surabaya 2020, Suko Widodo: Pemimpin Milenial Tak Berarti Usia Muda

SURABAYA (Suarapubliknews) – Pakar Komunikasi yang juga Ketua Pusat Informasi dan Humas (PIH) Universitas Airlangga (Unair) Suko Widodo, mengatakan sekalipun masih tahun 2010, tetapi pewacanaan siapa yang bakal gantikan walikota Surabaya kian berkembang.

Salah satu yang diwacanakan dalam Pilwali 2010 adalah soal kepemimpinan milenial, dan menurut Suko, ada banyak kekeliruan dalam memandang kepemimpinan milenial.

“Kepemimpinan milenial itu bukan pemimpin muda. Itu sesuatu yang sangat beda”, tuturnya. Minggu (13/01/2019)

Ini era disruption, kata Suko, Era ini mengharuskan manajemen pengelolaan yang tetap tak bisa meninggalkan aspek historikal dan menggabungkannya dengan masa depan.

“Kepemimpinan milenial meminta adanya penguasaan pengalaman kesejarahan dan membawanya ke prospek masa depan. Maka itu, pemimpin milenial untuk Surabaya harus punya pengalaman dengan disertai bukti,” tandasnya.

Menurut Suko, rekam jejak akan menjadi sumber utama rujukan pemilih. Baik rekam jejak personality maupun karyanya.

“Tak peduli sari mana berasal, apakah dari politisi, birokrat, pengusaha, akademisi atau apapun; sepanjang ia punya bukti nyata atas karya yang bisa dirasakan publik maka ia lah yang berpeluang terpilih,” tuturnya.

Suko mengatakan jika pemilih sekarang tak mudah dipengaruhi oleh popularitas seseorang. Artinya, popularitas bukanlah jaminan.

“Jadi, sosok walikota Surabaya ke depan tak memandang usia. Tetapi ia harus berpikir dan bisa memenuhi ekspektasi nuansa milenial,” pungkasnya. (q cox)

Reply