SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan bahwa ketahanan keluarga (family resilience) menjadi fondasi utama dalam membangun generasi bangsa yang unggul, berkarakter, dan berdaya saing.
Menurutnya, keluarga yang mampu bertahan, beradaptasi, dan saling menguatkan di tengah berbagai tantangan akan melahirkan sumber daya manusia yang tangguh sekaligus menjadi penopang peradaban bangsa. Hal tersebut disampaikan Khofifah saat menghadiri Gala Premiere film Jangan Buang Ibu di Pakuwon Mall Surabaya.
Menurut Khofifah, film garapan sutradara Hadrah Daeng Ratu tersebut tidak sekadar menghadirkan hiburan, tetapi juga menyampaikan pesan moral mengenai pentingnya menjaga keutuhan keluarga, menghormati orang tua, serta menumbuhkan kasih sayang sebagai fondasi kehidupan.
“Ketahanan keluarga sangat penting untuk membangun peradaban bangsa dan peradaban dunia. Melalui film ini, kita mendapatkan tontonan yang sekaligus menjadi tuntunan bagi setiap keluarga di Indonesia,” ujarnya.
Khofifah menjelaskan, family resilience merupakan kemampuan sebuah keluarga untuk beradaptasi, bertahan, dan bangkit bersama ketika menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Keluarga yang memiliki ketahanan tidak mudah terpuruk saat menghadapi krisis, melainkan mampu menjadikan setiap tantangan sebagai proses pembelajaran untuk tumbuh semakin kuat.
Menurutnya, nilai tersebut semakin relevan di tengah berbagai tantangan sosial yang dihadapi masyarakat saat ini. Karena itu, penguatan ketahanan keluarga harus terus menjadi perhatian bersama sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Sebagai contoh, Khofifah mengangkat kisah pesepak bola dunia Cristiano Ronaldo yang kerap menyebut ibunya sebagai sosok paling berjasa dalam perjalanan hidupnya. Ia menilai keberhasilan Ronaldo tidak terlepas dari perjuangan sang ibu yang rela berkorban demi mewujudkan cita-cita anaknya hingga menjadi salah satu pesepak bola terbaik di dunia. “Menjadi salah satu referensi bagi keluarga-keluarga di Indonesia. Kita juga memiliki banyak referensi tentang ketawadhu’an anak kepada ibu,” katanya.
Namun demikian, Khofifah menegaskan bahwa ketahanan keluarga tidak hanya dibangun oleh kasih sayang seorang ibu. Kehadiran dan peran aktif seorang ayah juga memiliki posisi yang sama penting dalam proses tumbuh kembang anak.
Hal tersebut, lanjutnya, sejalan dengan tema Hari Keluarga Nasional (Harganas) Jawa Timur 2026, yakni “Ayah Hadir, Keluarga Harmonis untuk Mewujudkan Ketahanan Keluarga.” “Penting menghadirkan kasih dari seorang ayah, karena sayangnya kita kepada ibu juga harus dibersamai oleh hadirnya kasih seorang ayah,” ungkapnya.
Khofifah berharap pesan-pesan yang disampaikan melalui film tersebut mampu membangun kesadaran masyarakat untuk semakin memperkuat hubungan antaranggota keluarga sebagai pondasi terciptanya masyarakat yang harmonis dan bangsa yang tangguh.
Sementara itu, Produser Leo Pictures Agung Saputra mengatakan Jangan Buang Ibu mengangkat kisah perjuangan seorang ibu yang mendedikasikan seluruh hidupnya demi kebahagiaan anak-anaknya, namun harus menghadapi kesepian di masa tua. Cerita tersebut merupakan refleksi dari realitas yang masih banyak dijumpai di tengah masyarakat sekaligus menjadi pengingat agar setiap anak tidak terlambat menghargai dan memuliakan orang tua.
“Film ini mengingatkan kita agar tidak terlambat menghargai orang yang paling kita cintai. Seorang ibu selalu menempatkan kebahagiaan anak-anaknya di atas kebahagiaannya sendiri,” ujar Agung.
Pada kesempatan itu, Khofifah bersama Agung Saputra dan salah satu pemeran film, Nirina Zubir, menyerahkan penghargaan kepada 13 perempuan inspiratif sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan kontribusi mereka di berbagai bidang kehidupan. Film Jangan Buang Ibu dijadwalkan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia mulai 25 Juni 2026. (feb, tama dini)












