PemerintahanPeristiwa

Kementan Dukung Hilirisasi Inovasi ITS, Alsintan dan Benih Jagung Disiapkan Menuju Produksi Massal

36
×

Kementan Dukung Hilirisasi Inovasi ITS, Alsintan dan Benih Jagung Disiapkan Menuju Produksi Massal

Sebarkan artikel ini

SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Upaya hilirisasi hasil riset perguruan tinggi kembali mendapat dukungan pemerintah. Kementerian Pertanian (Kementan) RI menggandeng Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dalam pengembangan alat dan mesin pertanian (alsintan) serta benih jagung unggulan sebagai bagian dari penguatan produktivitas pertanian nasional dan percepatan swasembada pangan.

Komitmen tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan RI dan PT ITS Tekno Sains di Kampus ITS Buncitan, Sidoarjo. Dalam kesempatan itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan Kementan siap mengadopsi sejumlah inovasi ITS yang telah melalui tahapan uji coba lapangan.

Beberapa inovasi yang mendapat dukungan tersebut meliputi traktor listrik, alat pemanjat kelapa Mocits, serta mesin penanam padi listrik Ropatama. Menurut Amran, teknologi tersebut memiliki potensi meningkatkan produktivitas sekaligus keselamatan kerja petani, khususnya pada sektor perkebunan kelapa yang produksinya di Indonesia mencapai sekitar 2,8 hingga 3 juta ton per tahun.

Amran menegaskan keberhasilan hilirisasi riset membutuhkan sinergi Triple Helix, yakni kolaborasi antara pemerintah sebagai regulator, industri sebagai pengembang manufaktur, dan perguruan tinggi sebagai penghasil inovasi. “Dengan sinergi ini, tentu akan meningkatkan semangat para peneliti untuk terus berinovasi bagi bangsa dan masyarakat,” ujarnya.

Selain alsintan, Kementan juga menunjukkan minat terhadap benih jagung unggulan hasil penelitian dosen Departemen Biologi ITS Mukhammad Muryono. Sebanyak 200 ton benih dibeli untuk mendukung budidaya di lahan sekitar 13.000 hektare dengan nilai mencapai Rp10 miliar. Benih tersebut diproyeksikan mampu menghasilkan produktivitas hingga 10 ton jagung per hektare.

Amran menambahkan, apabila hasil pendampingan dan distribusi benih mampu mempertahankan produktivitas tersebut, Kementan membuka peluang meningkatkan nilai pembelian hingga 10 kali lipat, atau sekitar Rp100 miliar dalam kurun waktu 10 tahun. “Kalau itu terjadi, artinya dapat meningkatkan produksi jagung nasional tanpa menambah lahan, dan ini yang kita butuhkan,” tegasnya.

Rektor ITS Prof. Bambang Pramujati menyambut baik dukungan pemerintah terhadap hasil riset kampus. Menurutnya, berbagai produk yang saat ini masih berada pada tahap uji lapangan siap memasuki fase produksi massal apabila seluruh pengujian menunjukkan hasil optimal.

“Kami akan komit untuk selalu bersinergi menyukseskan program swasembada pangan,” katanya. Ia menambahkan, ITS akan menggandeng mitra industri pada tahap manufaktur karena proses produksi massal tidak dapat dilakukan oleh perguruan tinggi sendiri.

Kolaborasi antara Kementan dan ITS tersebut diharapkan menjadi contoh percepatan hilirisasi hasil riset perguruan tinggi sehingga inovasi tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat dimanfaatkan secara luas untuk meningkatkan produktivitas pertanian, memperkuat ketahanan pangan, dan mendorong daya saing sektor pertanian nasional. (feb, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *