Peristiwa

Mahasiswa ITS Kembangkan AI untuk Diagnosis Kanker Prostat, Juarai Kompetisi Urologi Nasional

48
×

Mahasiswa ITS Kembangkan AI untuk Diagnosis Kanker Prostat, Juarai Kompetisi Urologi Nasional

Sebarkan artikel ini

SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Mahasiswa Program Studi Teknologi Kedokteran Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Jefta Kenna Shalom Tarigan, berhasil mengembangkan sistem berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang mampu membantu diagnosis kanker prostat secara lebih objektif dan akurat.

Inovasi tersebut mengantarkannya meraih juara pertama kategori Original Research pada The 43rd Fiesta Urology 2026 Scientific Competition, sekaligus menjadi satu-satunya peserta dari kalangan non-dokter yang berhasil menjuarai kompetisi tersebut.

Kompetisi yang digelar di JW Marriott Hotel Surabaya itu diikuti puluhan peserta yang mayoritas berasal dari kalangan dokter dan tenaga medis. Keberhasilan Jefta menjadi catatan tersendiri karena mampu menghadirkan pendekatan multidisiplin melalui perpaduan teknologi rekayasa dan ilmu kedokteran.

Dalam penelitiannya, Jefta mengembangkan Computer Aided Diagnosis (CAD) System yang memanfaatkan algoritma deep learning nnU-Net untuk mengotomatisasi penilaian kanker prostat berdasarkan citra Multiparametric Magnetic Resonance Imaging (mpMRI). “Algoritma saya itu gunanya secara garis besar untuk mengotomatisasi penilaian kanker prostat berdasarkan citra Multiparametric Magnetic Resonance Imaging (mpMRI),” jelasnya.

Sistem tersebut mengacu pada standar internasional Prostate Imaging-Reporting and Data System (PI-RADS) yang digunakan dalam penilaian tingkat risiko kanker prostat. Selama ini, pembacaan citra mpMRI masih sangat bergantung pada interpretasi masing-masing dokter sehingga berpotensi menimbulkan perbedaan hasil diagnosis.

Melalui teknologi yang dikembangkannya, sistem CAD tidak hanya menghasilkan klasifikasi risiko secara otomatis, tetapi juga menampilkan peta probabilitas tumor yang mampu memperlihatkan lokasi lesi di dalam prostat secara lebih jelas. Fitur tersebut diharapkan dapat membantu dokter mengurangi potensi kesalahan diagnosis sekaligus meningkatkan akurasi saat menentukan lokasi biopsi.

Menurut Jefta, pendekatan multidisiplin menjadi salah satu faktor yang membedakan penelitiannya dibandingkan karya peserta lain yang sebagian besar berasal dari bidang medis murni. “Implementasi multidisiplin keilmuan yang masih terhitung baru menawarkan perspektif yang segar,” ujarnya.

Ia mengakui tantangan terbesar bukan hanya mengembangkan teknologi, tetapi juga menerjemahkan konsep rekayasa ke dalam bahasa yang mudah dipahami oleh kalangan medis. Dalam proses penelitian hingga presentasi, Jefta didampingi Dekan Fakultas Kedokteran dan Kesehatan (FKK) ITS dr. Lukman Hakim, M.Kes., Sp.U(K)., Ph.D. serta Kepala Program Studi Teknologi Kedokteran ITS Dr. Shoffi Izza Sabilla, S.Kom.

Lukman menilai prestasi tersebut menjadi bukti bahwa pendekatan multidisiplin yang diterapkan dalam kurikulum Teknologi Kedokteran ITS mampu menghasilkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan dunia kesehatan.

Menurutnya, mahasiswa Teknologi Kedokteran ITS tidak hanya dibekali kompetensi teknik, tetapi juga memperoleh dasar ilmu kedokteran sehingga mampu memahami persoalan klinis sekaligus mengembangkan solusi berbasis teknologi. “Dasar-dasar itu merupakan salah satu kekuatan dalam kurikulum Teknologi Kedokteran yang ada di ITS,” ungkapnya.

Keberhasilan Jefta menjadi sinyal semakin kuatnya kolaborasi antara teknologi dan ilmu kedokteran dalam mendukung pelayanan kesehatan modern. Melalui pengembangan sistem berbasis AI tersebut, ITS berharap inovasi yang lahir dari kampus tidak hanya berprestasi di tingkat kompetisi, tetapi juga dapat mendukung peningkatan akurasi diagnosis medis serta mempercepat pengembangan teknologi kesehatan di Indonesia. (feb, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *