SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Aktivitas memakai sepatu yang bagi banyak orang terasa sederhana ternyata masih menjadi tantangan bagi penyandang Upper Limb Deficiency (ULD) atau keterbatasan anggota gerak atas.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, mahasiswi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Abigail Kafrell Wijaya, mengembangkan sepatu modular bernama Authea yang dirancang untuk membantu pengguna mengenakan sepatu secara lebih mudah dan mandiri.
Mahasiswi Departemen Desain Produk Industri ITS itu menjelaskan, Authea mengusung konsep sepatu lepas-pasang berbasis Velcro yang dapat dioperasikan melalui injakan kaki pada bagian belakang sepatu. Dengan mekanisme tersebut, pengguna tidak perlu mengandalkan kedua tangan untuk mengenakan maupun melepas sepatu.
Authea terdiri atas dua komponen utama yang saling melengkapi. Lapisan luar berfungsi sebagai sepatu sekaligus pelindung kaki, sedangkan lapisan dalam berbentuk kaus kaki model tabi dengan desain jempol terpisah untuk memberikan fleksibilitas dan kenyamanan saat digunakan.
Tak hanya itu, lapisan dalam juga dapat dilepas dan dicuci menggunakan mesin cuci sehingga memudahkan proses perawatan. Konsep modular tersebut diharapkan mampu memberikan kenyamanan sekaligus mendukung aktivitas harian penyandang disabilitas.
Abigail mengatakan inovasi yang dikembangkannya tidak hanya bertujuan menghadirkan produk baru, tetapi juga mengubah cara pandang terhadap desain produk agar lebih inklusif dan mampu menjawab kebutuhan seluruh kalangan. “Produk-produk inovatif seharusnya tidak hanya baru, tetapi menjawab kebutuhan nyata masyarakat berbagai latar belakang kemampuan,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, proses pengembangan Authea juga diwarnai sejumlah tantangan, terutama saat mengubah konsep menjadi prototipe yang siap digunakan. Penggunaan material rajut yang elastis memerlukan berbagai penyesuaian karena memiliki karakteristik berbeda dibandingkan material sepatu konvensional.
Meski demikian, Abigail menilai inovasi tersebut masih memiliki peluang untuk terus dikembangkan, khususnya pada aspek efisiensi proses produksi agar dapat diimplementasikan secara lebih luas. “Saya menilai Authea memiliki ruang untuk disempurnakan supaya proses produksinya lebih efisien,” katanya.
Melalui inovasi tersebut, Abigail berharap semakin banyak mahasiswa yang berani menghadirkan solusi desain yang berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat, termasuk kelompok penyandang disabilitas. Inovasi Authea juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur serta poin ke-10 mengenai Berkurangnya Kesenjangan. (feb, tama dini)












