Peristiwa

Profesor ITS Kembangkan Rekayasa Sambungan untuk Tingkatkan Ketahanan Bangunan terhadap Gempa

136
×

Profesor ITS Kembangkan Rekayasa Sambungan untuk Tingkatkan Ketahanan Bangunan terhadap Gempa

Sebarkan artikel ini

SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof. Data Iranata ST MT PhD mengembangkan model rekayasa sambungan balok-kolom komposit baja-beton guna meningkatkan ketahanan bangunan terhadap gempa.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa kekuatan struktur tidak hanya ditentukan oleh banyaknya material baja yang digunakan, tetapi juga oleh konfigurasi sambungan yang dirancang secara tepat.

Guru Besar Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil, Perencanaan, dan Kebumian (FTSPK) ITS itu menjelaskan, korban jiwa saat gempa bumi umumnya terjadi akibat kegagalan struktur bangunan, bukan karena guncangan gempa itu sendiri.

Menurutnya, bangunan yang dirancang sesuai standar dapat mengendalikan tingkat kerusakan sehingga memberi kesempatan bagi penghuni untuk melakukan evakuasi. “Apabila bangunan dirancang sesuai dengan peraturan yang berlaku, tingkat kerusakan akibat gempa sebenarnya dapat diprediksi dan dikendalikan,” ujarnya.

Ia menambahkan, tujuan rekayasa struktur bukan membuat bangunan sepenuhnya bebas kerusakan, melainkan memastikan kerusakan terjadi pada bagian yang telah diperhitungkan sehingga kolom utama tetap berdiri dan bangunan tidak runtuh secara tiba-tiba.

Sebagai solusi, Data mengembangkan model sambungan balok-kolom Steel Reinforced Concrete (SRC) menggunakan pendekatan Finite Element Method (FEM). Menurutnya, baja memiliki tingkat daktilitas lebih baik dibandingkan beton dalam menyerap energi gempa, namun penambahan baja saja tidak otomatis meningkatkan performa struktur.

Dalam penelitiannya, ia menguji tiga konfigurasi sambungan, yakni CS-01, CS-02, dan CS-03. Ketiganya dianalisis melalui simulasi numerik untuk mengetahui kemampuan masing-masing dalam mendistribusikan tegangan, menyerap energi gempa, serta mengendalikan pola kerusakan struktur.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa konfigurasi CS-02 memberikan performa seismik paling optimal. Temuan tersebut membuktikan bahwa desain sambungan yang tepat memiliki peran lebih besar dalam meningkatkan ketahanan bangunan dibandingkan sekadar menambah jumlah baja pada struktur. “Dari seluruh konfigurasi yang dianalisis, model CS-02 menunjukkan performa seismik paling optimal,” jelasnya.

Melalui inovasi tersebut, Data berharap penerapan desain bangunan tahan gempa di Indonesia semakin mengedepankan aspek keselamatan tanpa mengabaikan efisiensi konstruksi. Menurutnya, pendekatan tersebut dapat mendukung pembangunan infrastruktur yang lebih aman, tangguh, dan berkelanjutan, sekaligus berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) ke-9 tentang industri, inovasi, dan infrastruktur. (feb, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *