BisnisNasionalPeristiwa

Selatox Kantongi Sertifikasi CPOB BPOM, Perkuat Kapasitas Manufaktur Biofarmasi Nasional

69
×

Selatox Kantongi Sertifikasi CPOB BPOM, Perkuat Kapasitas Manufaktur Biofarmasi Nasional

Sebarkan artikel ini

CIKARANG (Suarapubliknews) ~ PT Selatox Bio Pharma (Selatox) resmi memperoleh sertifikasi Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia. Sertifikasi tersebut menandai kesiapan fasilitas manufaktur biofarmasi perusahaan di Cikarang untuk beroperasi sesuai standar mutu yang ditetapkan regulator sekaligus memperkuat pengembangan industri biofarmasi nasional.

Perolehan sertifikasi tersebut bertepatan dengan peresmian fasilitas manufaktur Selatox yang mengintegrasikan kegiatan penelitian dan pengembangan (R&D), proses produksi, serta operasional bisnis global. Fasilitas tersebut dilengkapi sistem manufaktur berteknologi maju, area produksi steril, dan sistem manajemen mutu yang mencakup seluruh tahapan produksi, mulai dari penerimaan bahan baku hingga distribusi produk.

Chief Executive Officer Selatox, Joh Young Hoon, mengatakan sertifikasi CPOB menjadi tonggak penting bagi perusahaan dalam membangun ekosistem biofarmasi yang terintegrasi. “Perolehan sertifikasi CPOB dari BPOM merupakan pencapaian penting bagi Selatox. Sertifikasi ini menegaskan bahwa fasilitas manufaktur dan sistem manajemen mutu kami telah memenuhi standar yang ditetapkan. Melalui proses produksi yang presisi dan standar pengendalian mutu yang ketat, kami berkomitmen menghadirkan produk berkualitas tinggi yang dapat dipercaya oleh tenaga kesehatan dan para mitra kami,” ujarnya.

Menurut Joh Young Hoon, perusahaan juga akan terus berinvestasi pada pengembangan sumber daya manusia dan penerapan teknologi manufaktur berstandar internasional untuk memperkuat daya saing industri biofarmasi Indonesia di pasar global.

Staf Khusus Menteri Kesehatan Bidang Transformasi Sistem Kesehatan, Agus Tjahajana Wirakusumah, menilai kehadiran fasilitas manufaktur tersebut sejalan dengan agenda transformasi sistem kesehatan nasional yang menitikberatkan pada peningkatan kapasitas produksi dalam negeri, penguasaan teknologi, dan kolaborasi antara pemerintah, industri, serta institusi pendidikan.

“Kehadiran fasilitas manufaktur seperti PT Selatox Bio Pharma diharapkan dapat mendukung kemandirian farmasi Indonesia sekaligus meningkatkan daya saing industri kesehatan nasional,” katanya.

Sementara itu, Kepala BPOM RI Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., menyampaikan bahwa pencapaian sertifikasi CPOB mencerminkan komitmen perusahaan dalam memenuhi standar internasional terkait keamanan, mutu, dan khasiat produk. “Pencapaian ini menjadi langkah penting dalam memperkuat industri farmasi dan biofarmasi di Indonesia,” ujarnya.

Direktur Jenderal Biro Biofarmasi Kementerian Keamanan Pangan dan Obat Republik Korea (MFDS), Ahn Young-jin, juga menilai fasilitas baru Selatox menjadi tonggak penting dalam memperkuat kemitraan strategis Indonesia dan Korea Selatan di sektor biofarmasi. Menurutnya, kolaborasi kedua negara diharapkan dapat meningkatkan akses terhadap produk biofarmasi inovatif sekaligus mendorong pertumbuhan industri biofarmasi di kedua negara.

Melalui fasilitas manufaktur yang telah mengantongi sertifikasi CPOB tersebut, Selatox menargetkan dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu basis produksi biofarmasi estetika dengan mengintegrasikan riset, manufaktur, dan operasional bisnis global. Langkah ini juga diharapkan mendukung peningkatan kemandirian industri farmasi nasional serta daya saing produk biofarmasi Indonesia di pasar internasional. (feb, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *