Peristiwa

UK Petra Luncurkan Drone Academy, Siapkan Tenaga Ahli UAV untuk Penuhi Kebutuhan Industri

66
×

UK Petra Luncurkan Drone Academy, Siapkan Tenaga Ahli UAV untuk Penuhi Kebutuhan Industri

Sebarkan artikel ini

SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Pesatnya perkembangan teknologi drone di berbagai sektor industri belum diimbangi dengan ketersediaan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi di bidang tersebut.

Menjawab kebutuhan itu, Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Kristen Petra (UK Petra) meluncurkan Petra Drone Academy, program pendidikan aplikasi drone yang dirancang untuk mencetak tenaga ahli UAV (Unmanned Aerial Vehicle) siap industri.

Program yang dikembangkan bersama PT SkyWay Aerospace Technology, perusahaan yang didirikan di Indonesia oleh Xiangdao Aerospace Technology (Beijing) Co., Ltd., itu diperkenalkan pada Senin (13/7) di kampus UK Petra Surabaya. Kehadiran Petra Drone Academy menjadi respons terhadap meningkatnya pemanfaatan drone di berbagai bidang, mulai dari pertanian cerdas (smart agriculture), inspeksi infrastruktur, pemetaan, hingga logistik.

Dekan Fakultas Teknologi Industri UK Petra Handy Wicaksono, S.T., M.T., Ph.D. mengatakan Indonesia masih menghadapi kesenjangan antara kebutuhan industri dan jumlah tenaga ahli drone yang memiliki kompetensi teknis secara menyeluruh.

“Peluncuran program satu tahun ini tujuannya untuk membantu kesenjangan di Indonesia dalam hal pemenuhan kebutuhan tenaga ahli teknis yang tak hanya bisa menerbangkan drone saja, tapi juga menguasai regulasi keselamatan penerbangan sipil, pemrosesan data, integrasi sensor muatan (payload), hingga aspek pemeliharaan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, berdasarkan data operasional Asosiasi Pilot Drone Indonesia (APDI) yang dihimpun Terra Academy, saat ini terdapat lebih dari 15.000 drone profesional yang aktif digunakan untuk kebutuhan pemetaan dan dokumentasi industri di Indonesia. Sementara itu, laporan Next Move Strategy Consulting mencatat nilai pasar drone komersial Indonesia mencapai USD515,5 juta atau sekitar Rp8,2 triliun pada 2025 dan diproyeksikan meningkat menjadi USD982,8 juta atau hampir Rp15 triliun pada 2030, dengan pertumbuhan tahunan (CAGR) sebesar 13,77 persen.

Menurut Handy, pertumbuhan industri tersebut harus diimbangi dengan penyediaan tenaga kerja yang memiliki keterampilan sesuai kebutuhan industri. “Lonjakan angka ini menjadi bukti nyata bahwa kebutuhan tenaga ahli teknis drone menjadi sesuatu yang sangat mendesak dan tidak bisa ditunda lagi. Pertumbuhan tahunan sebesar 13,77 persen ini jelas tidak akan optimal tanpa dukungan ekosistem tenaga terampil yang siap mengintegrasikan teknologi tersebut ke berbagai sektor industri,” katanya.

Petra Drone Academy diklaim sebagai program kredit satu tahun pertama di Indonesia di bidang Teknologi Aplikasi UAV. Program ini setara dengan 20 SKS yang terdiri atas delapan mata kuliah profesional dan dua mata kuliah pelatihan praktis, dengan kurikulum yang mencakup empat pilar utama, yaitu Foundation Courses, Applied Courses, AI-Oriented Specialized Courses, dan Practical Training Courses.

Selain mempelajari regulasi penerbangan dan teknik navigasi, peserta juga dibekali kemampuan rekayasa, seperti sistem kelistrikan, aerodinamika, perakitan drone, hingga pengolahan data berbasis kecerdasan buatan (AI-Based Intelligent Recognition).

Didukung para akademisi dan praktisi dari China dan Taiwan, lulusan program ini akan memperoleh Sertifikat Program Teknologi Aplikasi UAV. UK Petra juga membuka peluang magang di Taiwan serta kesempatan berkarier di industri drone global bagi peserta yang berhasil menyelesaikan program.

Peluncuran Petra Drone Academy turut dirangkaikan dengan talkshow bertajuk “From Campus to Industry: Building the Future UAV Talent Ecosystem” yang menghadirkan Prof. Dr. Bill Tsair-Wang Chung dari Chung Yuan Christian University dan Xinli Yu dari Beijing Sino-Aviation Research Institute.

Melalui kolaborasi tersebut, UK Petra berharap mampu membangun ekosistem pendidikan yang menjembatani kebutuhan industri UAV dengan talenta-talenta muda Indonesia, sekaligus memperkuat daya saing nasional di sektor teknologi nirawak. (feb, tama  dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *