Pemerintahan

Universitas Adi Buana Wujudkan Kampus Berdampak Lewat Kolaborasi Ruwat Desa Dukuh Menanggal

40
×

Universitas Adi Buana Wujudkan Kampus Berdampak Lewat Kolaborasi Ruwat Desa Dukuh Menanggal

Sebarkan artikel ini

SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Universitas Adi Buana (UAB) menegaskan komitmennya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya berfokus pada kegiatan akademik, tetapi juga hadir memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Komitmen tersebut diwujudkan melalui partisipasi aktif dalam rangkaian Ruwat Desa Dukuh Menanggal 2026, yang bertepatan dengan peringatan Dies Natalis ke-55 UAB.

Rektor Universitas Adi Buana, Dr. Untung Lasiono, S.E., M.Si., mengatakan keterlibatan kampus dalam kegiatan budaya tersebut merupakan implementasi nyata konsep kampus berdampak yang saat ini terus didorong pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Menurutnya, sebagai institusi pendidikan yang berada di wilayah Dukuh Menanggal, UAB memiliki tanggung jawab moral untuk tumbuh dan berkembang bersama masyarakat di sekitarnya.

“Universitas Adi Buana berada di wilayah Dukuh Menanggal. Karena itu, ketika masyarakat menyelenggarakan Ruwat Desa sebagai upaya melestarikan budaya, kami merasa perlu ikut ambil bagian. Kampus harus berdampak, sehingga masyarakat juga dapat merasakan kehadiran dan peran perguruan tinggi di lingkungannya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, peran perguruan tinggi tidak semestinya hanya diwujudkan melalui pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dalam arti formal. Lebih dari itu, kampus juga harus menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat melalui berbagai bentuk kolaborasi yang memberikan manfaat nyata.

Bagi UAB, pelestarian budaya lokal menjadi salah satu ruang pengabdian yang penting. Melalui kegiatan Ruwat Desa, kampus ingin menunjukkan bahwa dunia pendidikan dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga tradisi dan memperkuat nilai-nilai kebersamaan di tengah masyarakat.

Untung menilai, kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat harus dibangun secara berkelanjutan, bukan hanya hadir ketika ada agenda seremonial. Hubungan tersebut diharapkan menjadi kemitraan yang saling menguatkan dalam berbagai bidang.

“Harapan kami, kampus tidak hanya menonjolkan kegiatan akademik, tetapi juga terus berperan untuk lingkungan. Kolaborasi ini jangan hanya sesaat atau hanya untuk kepentingan kampus, tetapi harus terus dijaga bersama pemerintah, masyarakat, hingga berbagai pemangku kepentingan lainnya,” katanya.

Menurut Untung, hubungan yang harmonis antara kampus dan masyarakat akan menciptakan ekosistem yang saling mendukung. Ketika universitas memiliki program, masyarakat dapat memberikan dukungan. Sebaliknya, saat masyarakat membutuhkan kontribusi perguruan tinggi, kampus siap menghadirkan sumber daya yang dimiliki.

“Kalau masyarakat mempunyai kegiatan, kampus juga ikut mendukung. Tidak selalu dalam bentuk materi, tetapi melalui sumber daya manusia yang kami miliki, baik dosen, tenaga kependidikan maupun mahasiswa. Potensi yang ada di kampus bisa kami hadirkan untuk masyarakat,” lanjutnya.

Ia berharap pola kolaborasi tersebut dapat menjadi contoh kemitraan antara perguruan tinggi dengan masyarakat dalam mendukung pembangunan daerah berbasis partisipasi. Momentum Ruwat Desa tahun ini juga memiliki makna khusus bagi UAB karena bertepatan dengan Dies Natalis ke-55.

Melalui momentum tersebut, universitas ingin memperkuat implementasi visi sebagai perguruan tinggi yang memberikan manfaat nyata, tidak hanya bagi dunia pendidikan tetapi juga bagi masyarakat luas.

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, UAB turut berkolaborasi dalam berbagai agenda yang diselenggarakan Pemerintah Kelurahan Dukuh Menanggal bersama masyarakat, mulai dari pelestarian budaya hingga kegiatan sosial kemasyarakatan. Keterlibatan tersebut menjadi bentuk nyata sinergi antara institusi pendidikan, pemerintah, dan warga dalam menjaga tradisi lokal sekaligus memperkuat kebersamaan.

Untung menambahkan, kedekatan UAB dengan masyarakat Dukuh Menanggal telah terjalin sejak kampus utama mulai menempati kawasan tersebut pada 1992, setelah proses pembangunan dimulai pada 1988. Kampus yang berdiri di atas lahan sekitar lima hektare itu kini menjadi pusat kegiatan akademik utama UAB sekaligus bagian dari kehidupan masyarakat di wilayah Dukuh Menanggal.

Selain kampus utama di Surabaya, UAB juga memiliki Kampus III di Kalikatir, Mojokerto, serta Program Studi di Luar Kampus Utama (PSDKU) di Lamongan dan Blitar sebagai bagian dari upaya memperluas akses pendidikan tinggi di Jawa Timur.

Melalui semangat kampus berdampak, Universitas Adi Buana berharap sinergi dengan masyarakat tidak hanya terbangun dalam momentum Ruwat Desa, tetapi terus berkembang menjadi kolaborasi jangka panjang yang mampu melahirkan berbagai program pendidikan, sosial, budaya, dan pemberdayaan masyarakat yang memberikan manfaat bagi semua pihak. (q cox, feb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *