Peristiwa

Mentor SURADAYA: Visual Archive Jadi Kunci Membangun Literasi Visual untuk Melawan Misinformasi

69
×

Mentor SURADAYA: Visual Archive Jadi Kunci Membangun Literasi Visual untuk Melawan Misinformasi

Sebarkan artikel ini

SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Misinformasi menjadi salah satu tantangan terbesar di era digital. Menjawab persoalan tersebut, proyek kolaborasi internasional SURADAYA menghadirkan pendekatan berbeda melalui fotografi, jurnalisme, dan storytelling digital untuk membangun kemampuan berpikir kritis masyarakat terhadap informasi visual.

SURADAYA merupakan proyek kolaborasi Indonesia, Jerman, dan Prancis yang didukung Franco German Cultural Fund. Proyek ini mempertemukan generasi muda, fotografer, jurnalis, dan kreator visual untuk mengeksplorasi bagaimana informasi dibentuk, disebarkan, dan diterima di tengah derasnya arus informasi digital melalui tema besar “Fight Against Misinformation”.

Kolaborasi tersebut melibatkan sejumlah institusi internasional, yakni Hochschule Hannover – University of Applied Sciences and Arts (Jerman), École Nationale Supérieure de la Photographie (ENSP) Arles (Prancis), Universitas Airlangga, Surabaya Memory – Universitas Kristen Petra, serta Orasis Art Space.

Selain menjadi ruang pembelajaran lintas negara, proyek ini juga membuka peluang kerja sama berupa pertukaran mentor dan mahasiswa, penandatanganan nota kesepahaman (MoU), hingga penyelenggaraan pameran keliling di Indonesia, Jerman, dan Prancis.

Dalam pelaksanaannya, peserta mendapat pendampingan dari lima mentor yang memiliki pengalaman di bidang fotografi, jurnalisme, seni visual, dan media, yaitu Idealita Ismanto dan Mamuk Ismuntoro dari Indonesia, Kai Löffelbein dan Jakob Vicari dari Jerman, serta Clément Caignart dari Prancis.

Salah satu mentor asal Indonesia, Idealita Ismanto, membimbing peserta melalui workshop bertema Visual Archive, yang mengajak mereka memahami arsip visual sebagai pijakan awal dalam membangun proyek foto dokumenter.

Menurut Idealita, pada awal workshop banyak peserta menganggap arsip visual hanyalah kumpulan foto lama yang tersimpan sebagai dokumentasi. Padahal, setiap foto menyimpan cerita, konteks, memori, hingga jejak perubahan sosial yang dapat menjadi sumber inspirasi dalam menghasilkan karya dokumenter. “Di dalam sebuah foto terdapat cerita, konteks, memori, dan jejak perubahan yang bisa menjadi inspirasi dalam membangun proyek foto dokumenter,” ujarnya.

Dalam workshop tersebut, peserta tidak langsung diminta menentukan tema proyek. Mereka terlebih dahulu diajak “berdialog” dengan arsip visual melalui pengamatan terhadap foto-foto pascakolonial sebagai titik awal eksplorasi.

Melalui proses tersebut, peserta mendiskusikan bagaimana sebuah foto dapat dibaca sebagai representasi sejarah, perubahan sosial, dan kehidupan masyarakat. Dari satu gambar, muncul berbagai pertanyaan yang mendorong mereka berpikir lebih kritis. “Mengapa momen ini direkam, siapa yang ada di dalam gambar ini dan siapa yang tidak ada, serta cerita apa yang sebenarnya belum terekam?” tuturnya.

Menurutnya, pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa sebuah foto bukan sekadar media penyampai informasi, tetapi juga mampu membuka ruang untuk mengeksplorasi berbagai kemungkinan cerita yang lebih luas.

Hal yang paling menarik baginya adalah ketika peserta mulai menghubungkan arsip visual dengan pengalaman pribadi maupun lingkungan sekitar. Ada yang mengangkat perubahan ruang kota, ada yang tertarik mendokumentasikan kehidupan komunitas lokal, hingga mengembangkan cerita personal mengenai sebuah pasar yang masih memiliki relevansi dengan kondisi saat ini. “Pada momen itu saya melihat visual archive benar-benar berfungsi sebagai insight atau pemantik gagasan dalam proses kreatif mereka,” katanya.

Idealita menilai visual archive merupakan langkah awal yang efektif dalam mengembangkan proyek foto dokumenter karena membantu peserta melihat sebuah isu secara lebih kritis sekaligus menemukan sudut pandang yang lebih personal.

Ia berharap seluruh peserta dapat melanjutkan proyek pribadi yang telah mereka mulai selama workshop dan terus mempraktikkan visual archive serta literasi visual dalam karya-karya berikutnya. “Melalui proses itulah sebuah foto tidak lagi dipahami sebagai hasil akhir, tetapi menjadi awal lahirnya sebuah cerita dokumenter yang bermakna,” harapnya.

Idealita juga mengapresiasi keberagaman karya yang dihasilkan para peserta. Menurutnya, setiap proyek memiliki karakteristik, pendekatan, dan nilai yang berbeda sehingga memperkaya hasil keseluruhan workshop.

Meski demikian, proses pendampingan tidak lepas dari tantangan. Ia mengungkapkan bahwa menjaga kedisiplinan selama tiga fase workshop menjadi tantangan tersendiri karena empat mentor harus mendampingi 12 peserta dari Indonesia dan Jerman yang memiliki karakter dan ritme belajar berbeda. “Bahkan sempat ada peserta dari Indonesia maupun Jerman yang sakit. Namun setelah pulih, mereka tetap berusaha mengejar ketertinggalan dan menyelesaikan proyeknya dengan baik,” ungkapnya.

Sebagai tindak lanjut, karya-karya hasil proyek SURADAYA akan dipamerkan kepada publik melalui Orasis Art Space Surabaya pada September 2026. Selanjutnya, pameran tersebut akan dikembangkan menjadi travelling exhibition yang akan dipresentasikan di berbagai kota di Indonesia, Jerman, dan Prancis sebagai ruang dialog mengenai misinformasi dan pentingnya literasi media visual di era digital. (feb, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *