SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Meningkatnya penggunaan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) membawa tantangan baru bagi industri pelayaran. Selain mendukung transisi energi bersih, kehadiran EV juga memunculkan risiko keselamatan yang berbeda dibanding kendaraan berbahan bakar konvensional, terutama ketika diangkut menggunakan kapal Roll-On Roll-Off (RORO).
Menjawab tantangan tersebut, Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof Dr Eng Ir Trika Pitana ST MSc IPU, mengembangkan desain keselamatan operasional untuk meminimalkan risiko kebakaran kendaraan listrik selama pelayaran.
Profesor ke-243 ITS dari Departemen Teknik Sistem Perkapalan tersebut menyoroti meningkatnya kasus kebakaran kapal pengangkut kendaraan listrik yang terjadi di berbagai perairan internasional.
Menurutnya, kapal RORO yang saat ini beroperasi umumnya masih dirancang untuk mengangkut kendaraan konvensional sehingga belum memiliki sistem keselamatan yang secara khusus mampu mengantisipasi karakteristik kebakaran baterai kendaraan listrik.
Trika menjelaskan bahwa salah satu ancaman utama berasal dari fenomena thermal runaway, yaitu kondisi ketika baterai mengalami kenaikan suhu secara tidak terkendali akibat overcharging, overheating, maupun kerusakan fisik.
Berbeda dengan kebakaran kendaraan berbahan bakar minyak, insiden pada baterai EV memiliki potensi memicu reaksi berantai (thermal propagation) yang jauh lebih sulit dikendalikan. “Thermal runaway dapat disebabkan oleh overcharging, overheating, atau kerusakan fisik baterai,” ujarnya.
Menurut Direktur Sumber Daya Manusia dan Organisasi (SDMO) ITS tersebut, reaksi berantai pada baterai dapat menyebabkan panas terus meningkat hingga akhirnya menghancurkan sel baterai dan membakar kendaraan. Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi industri pelayaran, khususnya di Indonesia yang mengandalkan transportasi laut sebagai tulang punggung konektivitas antarpulau.
Untuk menjawab persoalan tersebut, Trika tengah mengembangkan desain confined space, yakni ruang khusus di dalam kapal yang diperuntukkan bagi kendaraan listrik. Ruang tersebut dirancang terintegrasi dengan sistem pemadam kebakaran sehingga mampu mengisolasi asap sekaligus menurunkan temperatur ketika terjadi insiden.
“Pada confined space yang terintegrasi dengan sistem pemadam kebakaran, EV ditempatkan pada ruang khusus agar asap tidak menyebar. Penyemprotan secara berkelanjutan dapat menurunkan temperatur dan laju panas sehingga risiko kebakaran lebih besar dapat diminimalkan,” jelasnya.
Ia menilai kebutuhan terhadap sistem keselamatan khusus akan semakin mendesak seiring pertumbuhan populasi kendaraan listrik di Indonesia. Karena itu, riset mengenai desain operasional kapal perlu diiringi penyusunan regulasi yang mengatur standar keselamatan pengangkutan EV melalui transportasi laut.
Trika berharap pemerintah dapat mengambil peran lebih besar dalam menyusun regulasi keselamatan pelayaran yang menyesuaikan perkembangan teknologi kendaraan listrik. “Mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan, pemerintah wajib memprioritaskan keselamatan di bidang maritim,” tegasnya.
Ia menambahkan, pengembangan sistem keselamatan kapal untuk kendaraan listrik memerlukan kolaborasi antara pemerintah, industri pelayaran, produsen kendaraan, dan kalangan akademisi agar standar operasional yang dihasilkan mampu menjawab tantangan masa depan. Menurutnya, inovasi keselamatan harus berkembang seiring dengan percepatan adopsi kendaraan listrik di Indonesia.
Riset tersebut juga menjadi bagian dari kontribusi ITS dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-9 mengenai Industri, Inovasi, dan Infrastruktur serta tujuan ke-17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui pengembangan inovasi keselamatan maritim berbasis riset. (feb, tama dini)












