SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Efektivitas pestisida masih menjadi tantangan dalam sektor pertanian Indonesia. Banyak bahan aktif pestisida yang mudah larut saat hujan maupun mengalami penurunan kinerja akibat paparan sinar ultraviolet (UV), sehingga petani harus melakukan penyemprotan berulang yang meningkatkan biaya produksi dan penggunaan bahan kimia.
Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa Fakultas Vokasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan inovasi DNF@S-MSN-CS Smart Delivery Pesticide, sebuah nanopestisida yang dirancang lebih tahan terhadap hujan dan paparan sinar matahari.
Inovasi tersebut berangkat dari rendahnya efektivitas pestisida berbahan aktif dinotefuran yang banyak digunakan di lapangan. Peneliti sekaligus mahasiswa Departemen Teknik Kimia Industri (DTKI) ITS, Putri Mulia Hafiy Dzikrullah, menjelaskan bahwa pestisida konvensional memiliki sejumlah kelemahan, mulai dari mudah terdegradasi oleh sinar UV hingga mudah tercuci air hujan sebelum bekerja secara optimal.
“Selain mudah rusak akibat paparan sinar UV, pestisida juga rentan tercuci oleh air hujan sehingga efektivitasnya menurun. Kondisi tersebut diperparah dengan pelepasan bahan aktif yang berlangsung secara tidak terkontrol,” ujarnya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, tim ITS memanfaatkan teknologi nano dengan memodifikasi formulasi pestisida. Bahan aktif dinotefuran dibungkus menggunakan lapisan kitosan (chitosan) sebagai coating, sementara silika berpori (mesoporous silica) digunakan sebagai media pembawa bahan aktif.
Menurut Fide, struktur tersebut mampu melindungi bahan aktif dari paparan sinar ultraviolet sekaligus mengurangi risiko pestisida larut akibat hujan. Selain itu, formulasi nanopartikel juga memungkinkan pelepasan bahan aktif berlangsung secara lebih terkontrol sehingga efektivitas pestisida meningkat.
Tidak hanya itu, nanopestisida dikembangkan dalam bentuk partikel halus menyerupai pasir yang mampu menempel lebih baik pada permukaan tanaman. Dengan distribusi bahan aktif yang lebih merata, satu kali penyemprotan diharapkan mampu memberikan perlindungan yang lebih optimal dibandingkan formulasi pestisida konvensional.
Potensi inovasi tersebut mendapat apresiasi dari Kepala Seksi Pelayanan Teknis Unit Pelaksana Teknis (UPT) Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Timur, Ari Ika Sari SP MAgr. Menurutnya, teknologi nano berpotensi meningkatkan efisiensi penggunaan pestisida sekaligus mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. “Minimnya penggunaan pestisida tentu dapat mengurangi dampak terhadap lingkungan,” katanya.
Ari menambahkan, konsep smart nano pesticide delivery system juga memiliki peluang diterapkan pada berbagai kebutuhan lain di sektor pertanian, seperti agen pengendali hayati maupun zat pengatur tumbuh tanaman. Dengan demikian, teknologi nano berpotensi menjadi salah satu solusi untuk mewujudkan sistem pertanian yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Sementara itu, dosen pembimbing penelitian Nurul Faizah STrT MT berharap inovasi tersebut tidak berhenti pada tahap penelitian laboratorium. Sebagai institusi pendidikan vokasi, ITS mendorong hasil riset agar dapat dikembangkan menuju tahap uji komersial sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan petani. “Harapannya hasil riset ini dapat dilanjutkan menuju uji komersial sehingga benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Selain meningkatkan efektivitas pengendalian hama, inovasi nanopestisida ini juga berpotensi mengurangi penggunaan bahan kimia secara berlebihan di sektor pertanian. Dengan penyemprotan yang lebih efisien, petani dapat menekan biaya operasional sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan akibat residu pestisida.
Pengembangan teknologi tersebut sekaligus menunjukkan kontribusi mahasiswa ITS dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-12 mengenai konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab serta tujuan ke-15 tentang pelestarian ekosistem daratan melalui penerapan inovasi teknologi yang lebih ramah lingkungan. (feb, tama dini)












