Jatim RayaPeristiwa

Mocits ITS Permudah Petani Kelapa, Panen Lebih Aman dan Efisien

47
×

Mocits ITS Permudah Petani Kelapa, Panen Lebih Aman dan Efisien

Sebarkan artikel ini

LUMAJANG (Suarapubliknews) ~ Indonesia merupakan negara dengan luas perkebunan kelapa terbesar di dunia. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan produktivitas panen akibat tingginya risiko keselamatan kerja dan terbatasnya jumlah pemanjat kelapa yang semakin berkurang.

Berangkat dari persoalan tersebut, tim peneliti Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan Moto Climber ITS (Mocits), alat panjat kelapa yang dirancang untuk membantu petani memanen kelapa secara lebih aman, cepat, dan efisien.

Inovasi tersebut dikembangkan oleh dosen Departemen Teknologi Kedokteran ITS, Ir. Achmad Syaifudin, ST., M.Eng., Ph.D., IPM., AEng, atas permintaan langsung dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia sebagai bagian dari upaya modernisasi alat dan mesin pertanian (alsintan).

Syaifudin menjelaskan, pengembangan Mocits dilakukan melalui proses riset yang relatif singkat karena didasarkan pada kebutuhan nyata di lapangan. Menurutnya, persoalan utama bukan terletak pada ketersediaan pohon kelapa, melainkan keterbatasan tenaga pemanjat yang mampu bekerja dengan aman. “Perancangan alat ini memang didasari kebutuhan pertanian di Indonesia untuk meningkatkan produktivitas panen kelapa,” ujarnya.

Selama proses pengembangan, tim ITS telah menghasilkan tiga generasi prototipe. Versi pertama masih memiliki berbagai keterbatasan, baik dari sisi desain, komponen, maupun material yang digunakan. Ukuran roda yang terlalu besar serta bobot alat yang cukup berat menjadi catatan penting dalam tahap evaluasi awal.

Selanjutnya lahir prototipe Beta yang telah mampu memanjat batang kelapa, meski kecepatan operasionalnya masih belum optimal. Menariknya, prototipe kedua tersebut sempat dipamerkan di hadapan Menteri Pertanian sebagai bentuk awal hasil pengembangan teknologi.

Masukan dari para petani kemudian menjadi dasar penyempurnaan hingga tercipta prototipe terbaru, yakni versi Alpha, yang telah menjalani uji coba lapangan di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Pada versi terbaru tersebut, ITS menambahkan berbagai fitur keselamatan. Salah satunya adalah sistem double brake yang secara otomatis mengunci alat pada batang kelapa ketika rem dilepas. Pengguna cukup menekan rem dan menarik tuas gas saat naik, sementara untuk turun hanya perlu melepaskan gas secara perlahan sambil mengatur rem.

Tidak hanya itu, Mocits juga dilengkapi harness atau sabuk pengaman bagi operator, serta sistem pengikat (lashing) yang menjaga alat tetap melekat pada batang pohon meskipun rem tidak sedang dioperasikan. “Kami ingin alat ini benar-benar aman digunakan oleh petani. Jadi apabila terjadi sesuatu, alat maupun operator tetap tertahan di batang pohon,” jelasnya.

Keunggulan lain Mocits terletak pada desainnya yang dapat disesuaikan dengan berbagai ukuran batang kelapa, mulai berdiameter 25 hingga 40 sentimeter. Ke depan, tim ITS berencana menambahkan mekanisme rack and pinion agar penyesuaian diameter pohon dapat dilakukan secara lebih presisi.

Selain mengutamakan aspek keselamatan, tim peneliti juga memperhatikan kemudahan perawatan alat. Karena mayoritas pengguna merupakan petani di pedesaan, Mocits menggunakan sistem rantai yang dinilai lebih mudah dipahami, diperbaiki, serta memiliki suku cadang yang mudah diperoleh. “Penggunaan rantai dipilih karena mekanismenya sudah familier bagi masyarakat desa dan perawatannya lebih sederhana,” katanya.

Perwakilan Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian Jawa Timur, Dr. Ismatul Hidayah, SP., MP, mengapresiasi pendekatan sederhana yang diterapkan ITS dalam mengembangkan Mocits. Menurutnya, inovasi teknologi pertanian harus benar-benar menjawab kebutuhan pengguna di lapangan. “Kalau dibandingkan dengan cara manual, tentu alat ini harus lebih efisien, lebih aman, dan mudah diaplikasikan oleh petani,” ujarnya.

Apresiasi serupa disampaikan petani kelapa asal Lumajang, Muhammad Basiran, yang ikut mencoba langsung alat tersebut. Ia menilai Mocits mampu membantu proses panen menjadi lebih praktis dibanding metode memanjat secara konvensional. “Menurut saya alat ini lebih efektif, dan cara menggunakannya juga mudah dipelajari oleh petani,” ungkapnya.

Dalam proses produksi, ITS menggandeng PT Smarttech Reborn 2007, perusahaan manufaktur milik alumni Teknik Mesin ITS, sebagai mitra produksi. Selanjutnya, produk tersebut akan dipasarkan melalui ITS Science Techno Park dan didorong masuk ke dalam e-katalog Kementerian Pertanian sehingga dapat dimanfaatkan lebih luas oleh para petani di berbagai daerah.

Melalui pengembangan Mocits, ITS berharap modernisasi alat pertanian tidak hanya meningkatkan produktivitas panen kelapa nasional, tetapi juga mampu menekan risiko kecelakaan kerja yang selama ini menjadi tantangan utama para pemanjat kelapa. Inovasi tersebut sekaligus memperkuat komitmen ITS dalam menghadirkan teknologi tepat guna yang memberikan dampak langsung bagi masyarakat serta mendukung pembangunan pertanian Indonesia yang lebih maju, aman, dan berkelanjutan. (feb,  tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *