Peristiwa

Rektor ITS Dorong Kampus Bangun Ekosistem Inklusif dan Antikekerasan

71
×

Rektor ITS Dorong Kampus Bangun Ekosistem Inklusif dan Antikekerasan

Sebarkan artikel ini

SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof. Dr. (HC) Ir. Bambang Pramujati menegaskan bahwa perguruan tinggi perlu membangun ekosistem kampus yang inklusif, aman, dan berpusat pada manusia (human-centered ecosystem). Gagasan tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber dalam forum U25 PTN-BH Leaders Forum 2026 yang digelar di Universitas Gadjah Mada (UGM).

Menurut Bambang, ukuran keberhasilan perguruan tinggi saat ini tidak lagi hanya ditentukan oleh prestasi akademik, tetapi juga kemampuannya menciptakan lingkungan yang memungkinkan seluruh sivitas akademika berkembang secara optimal. “Universitas harus menyediakan wadah yang merekayasa setiap individu agar dapat berkembang secara optimal (flourish),” ujarnya.

Ia menambahkan, bagi perguruan tinggi berbasis teknologi seperti ITS, inovasi tidak hanya berorientasi pada pembangunan infrastruktur atau pengembangan teknologi mutakhir, tetapi juga harus mampu menjawab berbagai persoalan kemanusiaan. Untuk mewujudkan hal tersebut, ITS mengembangkan lima pilar utama yang mencakup tata kelola, infrastruktur, kampus digital, kesejahteraan, dan inovasi inklusif.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai inovasi teknologi asistif karya sivitas akademika ITS, di antaranya Neutrack AI Glove untuk membantu navigasi penyandang tunanetra dan pasien Alzheimer, BaaDaaBoo sebagai media edukasi pramenulis, SMILE Hand Therapy, hingga kursi roda cerdas MobiAi yang dikendalikan melalui gerakan mata.

Selain aksesibilitas, Bambang juga menyoroti pentingnya kesehatan mental sebagai bagian dari pembangunan kampus yang inklusif. Menurutnya, layanan kesehatan mental perlu dibangun secara menyeluruh, mulai dari skrining dini, pendampingan akademik, hingga mekanisme rujukan kepada tenaga profesional melalui pendekatan Look, Listen, Link.

Dalam kesempatan tersebut, Bambang turut menekankan pentingnya penguatan upaya pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di lingkungan perguruan tinggi. Ia menilai kampus yang inklusif harus mampu menjamin rasa aman bagi seluruh sivitas akademika melalui kebijakan yang kuat, sistem pelaporan yang tepercaya, serta penanganan yang berpihak kepada korban.

Melalui forum tersebut, ITS mengajak perguruan tinggi untuk menjadikan inklusivitas, kesehatan mental, dan budaya antikekerasan sebagai bagian dari tata kelola kampus, sehingga teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan dapat berjalan beriringan dalam membangun pendidikan tinggi yang lebih berkualitas dan berdaya saing global. (feb, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *