Peristiwa

Profesor ITS Kembangkan Sistem AI untuk Prediksi Gelombang Laut hingga Pembelajaran Digital

48
×

Profesor ITS Kembangkan Sistem AI untuk Prediksi Gelombang Laut hingga Pembelajaran Digital

Sebarkan artikel ini

SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Guru Besar Departemen Teknik Fisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof. Dr. Ir. Syamsul Arifin, M.T., mengembangkan konsep pemodelan sistem berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang mampu diterapkan di berbagai sektor, mulai dari keselamatan pelayaran hingga peningkatan kualitas pembelajaran di perguruan tinggi.

Inovasi tersebut diperkenalkan melalui orasi ilmiah pengukuhannya sebagai Guru Besar ke-247 ITS dengan menghadirkan paradigma System Modeling Based on Artificial Intelligence (SYMBA-AI).

Konsep ini mengintegrasikan teknologi AI dengan kerangka kerja Conceive, Design, Implement, Operate (CDIO) untuk membangun sistem yang adaptif, prediktif, dan mampu mendukung pengambilan keputusan berbasis data. “Pendekatan ini juga dapat dimanfaatkan dalam pengembangan kurikulum pendidikan tinggi berbasis Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM),” ujarnya.

Menurutnya, keberhasilan pengembangan kecerdasan buatan tidak hanya bergantung pada algoritma, tetapi juga kemampuan memodelkan berbagai fenomena nyata menjadi sistem komputasi yang mampu menghasilkan solusi secara adaptif. “Pemodelan sistem menjadi jembatan yang menghubungkan data, pengetahuan, dan teknologi AI sehingga menghasilkan solusi yang relevan bagi masyarakat,” katanya.

Salah satu implementasi nyata dari konsep tersebut diwujudkan melalui Buoy Weather Tipe II, stasiun cuaca terapung berbasis Internet of Things (IoT) yang dirancang untuk memantau kondisi laut secara real time.

Perangkat tersebut mampu merekam berbagai parameter, seperti kecepatan angin, arus laut, tinggi gelombang, temperatur, hingga kelembapan udara untuk mendeteksi potensi gelombang tinggi yang dapat membahayakan aktivitas nelayan maupun pelayaran komersial.

Keunggulan sistem ini terletak pada pemanfaatan Fuzzy Logic System dan Artificial Neural Network (ANN) yang mengolah data meteorologi menjadi informasi sederhana berupa status aman berlayar, waspada, atau tidak layak berlayar. “Informasi dapat diakses langsung oleh nelayan melalui ponsel, sementara hasil pengujian menunjukkan tingkat akurasi prediksi mencapai 86 persen,” ungkapnya.

Tak hanya dikembangkan untuk sektor maritim, konsep SYMBA-AI juga diterapkan di bidang pendidikan melalui Intelligent Learning Ecosystem berbasis mobile learning. Sistem tersebut memanfaatkan kamera untuk menganalisis ekspresi wajah mahasiswa selama perkuliahan daring melalui Zoom.

Hasil analisis kemudian digunakan sebagai indikator tingkat perhatian mahasiswa sehingga dosen dapat memperoleh umpan balik mengenai efektivitas proses pembelajaran secara langsung.

Dengan pendekatan tersebut, AI tidak hanya digunakan untuk mengotomatisasi proses pembelajaran, tetapi juga membantu menciptakan lingkungan belajar yang lebih adaptif terhadap kondisi peserta didik.

Syamsul menilai paradigma SYMBA-AI membuka peluang penerapan kecerdasan buatan yang lebih luas karena tidak hanya berorientasi pada sistem fisik, tetapi juga pada sistem yang berpusat pada manusia.

Pendekatan multidisiplin tersebut dinilai berpotensi diterapkan di berbagai bidang, seperti maritim, transportasi, kesehatan, hingga pendidikan, sekaligus mendukung penguatan sumber daya manusia dan penguasaan teknologi menuju Indonesia Emas 2045.

Ia menegaskan pemodelan berbasis AI harus menjadi fondasi dalam membangun kemandirian teknologi nasional, bukan sekadar menjadi kajian akademik. “Belajar adalah mengubah pengetahuan menjadi kebijaksanaan dan kasih sayang,” tutupnya. (feb, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *